Menelusuri Kemenangan Donald Trump dan Kesalahan Fatal Kamala Harris
Jum'at, 29 November 2024 - 11:05 WIB
loading...
A
A
A
Memulai kampanye dalam posisi kurang menguntungkan karena dipandang sebagai representasi pemerintah, Harris juga melakukan kesalahan fatal sebagai capres: terlalu fokus menyerang Trump. Harris gagal mengkomunikasikan dirinya sebagai tokoh Demokrat yang berbeda dari Biden, yang akan menghadirkan Amerika yang benar-benar baru.
Harris justru lebih cenderung menonjolkan latar belakangnya yang pernah menjadi jaksa untuk menyerang Trump, mencoba meyakinkan warga AS bahwa seorang kriminal sudah sepantasnya tidak menjadi presiden. Serangan demi serangan terus dilayangkan Harris, bahkan saat acara debat capres di bulan September. Di hari-hari terakhir kampanye, Harris melabeli Trump sebagai seorang tokoh fasis dan tidak stabil yang tak bisa dibiarkan untuk menjadi kepala negara. Secara keseluruhan, sebagian besar energi Harris selama kampanye digunakan untuk menyerang habis Trump.
Sebenarnya Trump juga melancarkan serangan-serangan personal ke Harris, bahkan sebelum wapres AS itu menggantikan Biden sebagai kandidat Demokrat. Trump kerap merendahkan Harris, menyebut orang nomor dua di AS itu sebagai sosok 'radikal kiri' yang tidak becus mengurus berbagai isu, terutama seputar perbatasan. Saat Harris menjadi capres Demokrat, Trump semakin gencar melancarkan serangan personal dengan kata-kata yang cenderung lebih kasar dari yang digunakan Harris.
Namun hal yang membedakannya dengan Harris adalah Trump mengimbangi serangan personalnya dengan mengkomunikasikan dengan jelas apa-apa saja yang akan dilakukan saat ia kembali ke Gedung Putih. Trump menjadikan keimigrasian sebagai isu andalan, dan ia berulang kali menyuarakan janji mengusir imigran gelap begitu dirinya menjadi presiden. Sementara Harris dipersepsikan kurang tegas pada isu ini, dengan hanya menjanjikan perbatasan yang lebih aman dan menjunjung hak-hak para imigran serta pencari suaka.
Untuk bidang ekonomi, Harris dan Trump sebenarnya sama-sama menyuarakan janji untuk memperbaiki nasib kelas pekerja. Namun sekali lagi, Trump menggunakan gaya komunikasi yang lebih mudah dipahami kelas pekerja, dengan salah satunya mengatakan bahwa ia akan lebih keras terhadap China yang dituding telah banyak mencuri pekerjaan di AS. Kata-kata yang digunakan Harris dalam isu ini lebih teknis, dan cenderung sulit masuk ke dalam benak masyarakat kelas pekerja, terutama yang tinggal di wilayah pinggiran dan pedesaan.
Harris justru lebih cenderung menonjolkan latar belakangnya yang pernah menjadi jaksa untuk menyerang Trump, mencoba meyakinkan warga AS bahwa seorang kriminal sudah sepantasnya tidak menjadi presiden. Serangan demi serangan terus dilayangkan Harris, bahkan saat acara debat capres di bulan September. Di hari-hari terakhir kampanye, Harris melabeli Trump sebagai seorang tokoh fasis dan tidak stabil yang tak bisa dibiarkan untuk menjadi kepala negara. Secara keseluruhan, sebagian besar energi Harris selama kampanye digunakan untuk menyerang habis Trump.
Sebenarnya Trump juga melancarkan serangan-serangan personal ke Harris, bahkan sebelum wapres AS itu menggantikan Biden sebagai kandidat Demokrat. Trump kerap merendahkan Harris, menyebut orang nomor dua di AS itu sebagai sosok 'radikal kiri' yang tidak becus mengurus berbagai isu, terutama seputar perbatasan. Saat Harris menjadi capres Demokrat, Trump semakin gencar melancarkan serangan personal dengan kata-kata yang cenderung lebih kasar dari yang digunakan Harris.
Namun hal yang membedakannya dengan Harris adalah Trump mengimbangi serangan personalnya dengan mengkomunikasikan dengan jelas apa-apa saja yang akan dilakukan saat ia kembali ke Gedung Putih. Trump menjadikan keimigrasian sebagai isu andalan, dan ia berulang kali menyuarakan janji mengusir imigran gelap begitu dirinya menjadi presiden. Sementara Harris dipersepsikan kurang tegas pada isu ini, dengan hanya menjanjikan perbatasan yang lebih aman dan menjunjung hak-hak para imigran serta pencari suaka.
Untuk bidang ekonomi, Harris dan Trump sebenarnya sama-sama menyuarakan janji untuk memperbaiki nasib kelas pekerja. Namun sekali lagi, Trump menggunakan gaya komunikasi yang lebih mudah dipahami kelas pekerja, dengan salah satunya mengatakan bahwa ia akan lebih keras terhadap China yang dituding telah banyak mencuri pekerjaan di AS. Kata-kata yang digunakan Harris dalam isu ini lebih teknis, dan cenderung sulit masuk ke dalam benak masyarakat kelas pekerja, terutama yang tinggal di wilayah pinggiran dan pedesaan.
Pilpres AS x Pilpres RI
Ada sedikit kemiripan antara pilpres di AS dan Indonesia tahun ini. Prabowo Subianto, yang saat ini menjadi presiden ke-8 Republik Indonesia, menggunakan gaya komunikasi yang lebih luwes dan membumi semasa kampanye untuk menyentuh masyarakat umum di wilayah pinggiran dan pedesaan. Sementara rival terdekat Prabowo semasa kampanye, Anies Baswedan, cenderung menggunakan kata-kata dan istilah teknis yang 'terlalu tinggi' dan sulit dipahami masyarakat umum, terutama dari kelompok yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.Lihat Juga :