Mewaspadai Pembunuh Budaya di Jemari Kita

Minggu, 13 Oktober 2024 - 18:53 WIB
loading...
A A A
Pemikiran Simondon yang seperti ini terlintas kembali di benak saya ketika membaca buku berjudul Technotronic Ethnocide: Teknologi Komunikasi dalam Jagat Budaya yang baru saja diterbitkan Profesor Ahmad Sihabudin. Tidak sekadar hidup dan berinteraksi dengan manusia. Bahkan, menurutnya, teknologi juga bisa menjadi pembunuh. Saya kira, inilah insight paling penting yang hendak disampaikan pakar komunikasi budaya serta Guru Besar bidang komunikasi lintas budaya Universitas Sultan Ageng Tirtayasa itu.

Sebagaimana senjata yang bisa berdaya guna, pada jari-jemari yang keliru mungkin saja letusan inovasi manusia itu menjelma menjadi malapetaka. Tak berhenti dalam memantik kritisisme, penulis tentu berharap kita tersadar lalu waspada dan melakukan perubahan.Pembunuhan budaya melalui teknologi elektronik itu memang digambarkan sedemikian nyata. Kekhawatiran perihal punahnya keragaman beserta kekayaan dan keunikan budaya, serta local wisdom terancam musnah, itu dinukil dari kesedihan antropolog Amerika, Edmund Carpenter, yang menyaksikan dampak negatif kamera, tape recorder, proyektor terhadap tercerabutnya masyarakat secara brutal dari budaya mereka.

Dalam hitungan bulan, suatu masyarakat di Papua yang ditinggali produk teknologi komunikasi ternyata tak ia kenali lagi. Rumah, pakaian, sikap dan perilaku mereka berubah. “Teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan mereka,” katanya, yang dikutip penulis dari laporan terbitan 1976. Di luar Papua dan terkait generasi kekinian, salah satu daya rusak teknologi elektronik terlihat dari kemunculan “hidup gaya”, fenomena yang mendorong siapapun, walau minim modal, untuk tampil penuh gaya. Penulis menghubungkan gejala menyedihkan ini dalam konteks industri dan kapitalisme.

Karena itu, di ranah komunikasi budaya yang menjadi fokus kajian, upaya penyadaran tidak hanya ditujukan pada masyarakat pengguna teknologi. Kritik pedas juga ditujukan pada media yang semestinya memegang peran penting fungsi kontrol dan edukasi, korporasi dengan iklan yang tidak semata-mata mengejar penjualan, bahasa yang semakin terpinggirkan, bahkan pada elit-elit politik yang berkuasa di negara ini.

Sayangnya, elemen-elemen itu memiliki kelemahan dan tantangan masing-masing. Pers menghadapi serbuan digital yang serba cepat dan instan. Jari-jemari pengguna sosial media yang kurang literasi kadang menambah runyam efek disrupsi.Belum lagi bila kita memahami watak ekploitatif dan akumulasi modal tak bisa dipungkiri setiap industri. Sementara elit politik semakin tak peka, yang perlu tawadhu’, tidak “narsis dan bermuka masam”. Di samping menjadi korban industri, hasrat berkuasa kerap menggelincirkan politisi dari fitrah yang selayaknya diemban seorang pemimpin.

Maka, krisis cenderung semakin parah dan bukan tak mungkin great disruption yang ditunjukkan Fukuyama melanda banyak negara di pertengahan abad 20 muncul kembali. Ada satu harapan yang coba ditampilkan penulis buku ini. Sebagai ruang pencerahan, menurutnya, kearifan lokal bisa kita ikhtiarkan. “Manifestasi budaya yang dimiliki masyarakat ini dapat dijadikan filter dalam menghadapi pengaruh budaya asing atas terpaan media.” (Hal. 163).

baca juga: Ditjen Diktiristek Luncurkan Dua Buku Panduan Baru untuk Perguruan Tinggi

Sebagai sebuah antologi yang berawal dari bahan-bahan perkuliahan dan diskusi di kampus, buku yang diberi kata pengantar oleh Prof Alo Liliweri ini sangat bermanfaat bagi para mahasiswa maupun pegiat komunikasi. Terutama, yang tertarik pada bidang budaya maupun komunikasi antarbudaya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Melihat Koleksi Buku...
Melihat Koleksi Buku Presiden Prabowo di Perpustakaan Pribadinya: Sejarah Perang hingga Filsafat
Hadapi Sidang Ijazah...
Hadapi Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Galang Dana lewat Jual Buku
Buku Laku Spiritual...
Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen Diluncurkan, Kupas Cara Soeharto Tunjuk Pembantunya
Mengelola Sawit untuk...
Mengelola Sawit untuk Indonesia yang Kuat
Mengenal System Shift,...
Mengenal System Shift, Kerangka Baru Membaca Perubahan Dunia
Mudiruna, Kisah Ulama...
Mudiruna, Kisah Ulama Cahaya dari Rumah Sederhana
Cukup Baca 4 Buku Setahun,...
Cukup Baca 4 Buku Setahun, Risiko Stres dan Depresi Bisa Turun Signifikan
Perkuat Literasi Anak...
Perkuat Literasi Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Kisah Teladan Hadir dalam Format Digital
HUT ke-27 PNM, Ribuan...
HUT ke-27 PNM, Ribuan Buku Hadirkan Semangat Literasi bagi Anak-anak Pelosok
Rekomendasi
SPKS Dorong Riset BPDP...
SPKS Dorong Riset BPDP Hasilkan Teknologi Murah untuk Petani Sawit
Datangi Bareskrim, Dude...
Datangi Bareskrim, Dude Harlino Kembalikan Uang Rp5,2 Miliar Honor PT DSI
Lebih dari 2.300 Pemukim...
Lebih dari 2.300 Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, Hamas dan Yordania Murka
Berita Terkini
Menimbang Bioetanol...
Menimbang Bioetanol Berbasis Tetes Tebu
Ketua Umum Partai Perindo...
Ketua Umum Partai Perindo Angela Tanoesoedibjo Hadiri Harlah ke-28 PKB di JCC Malam Ini
Kemhan Bakal Datangkan...
Kemhan Bakal Datangkan Helikopter AW149 dan 12 Pesawat Tempur dari Italia
Korban Kekerasan Seksual...
Korban Kekerasan Seksual dan TPPO Bakal Dapat Penanganan Lebih Cepat
Prabowo Pimpin Ratas...
Prabowo Pimpin Ratas soal Kopdes Merah Putih, Gibran Duduk di Sebelah Kirinya
Dokter Tifa Klaim Simpan...
Dokter Tifa Klaim Simpan Bukti Kejanggalan Ijazah Jokowi Meski Eksepsinya Diterima
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved