alexametrics

Peringatan Hari Santri, DPR: Merawat Nilai Islam sebagai Perekat Nusantara

loading...
Peringatan Hari Santri, DPR: Merawat Nilai Islam sebagai Perekat Nusantara
Wakil Ketua DPR Koordinator Politik dan Keamanan (Korpolkam) Azis Syamsuddin. Foto/Dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Tepat hari ini, 21 Oktober menjadi peringatan Hari Santri Nasional. Untuk itu, nilai-nilai Islam yang Rahmatan lil Alamin yang ditanamkan lewat pesantren perlu terus dirawat dan disebarluaskan sebagai perekat nusantara dan persatuan Indonesia.

“Dalam kerangka kenegaraan, peringatan hari santri tidak bisa dilepaskan dari skema besar merawat Indonesia. Bila diibaratkan Indonesia adalah ikan, maka Islam adalah airnya. Adapun pesantren, adalah mata airnya. Dan santri adalah air bening yang mengalir membentuk sungai-sungai, dan mewarnai wajah Islam di Nusantara,” kata Wakil Ketua DPR Koordinator Politik dan Keamanan (Korpolkam) Azis Syamsuddin dalam siaran persnya yang diterima, Senin (21/10/2019).

Menurut Azis, untuk sekian lamanya, orang-orang hanya memperhatikan Indonesia tetapi tidak memperhatikan Islam yang menjadi salah satu ekosistem pembentuk Indonesia itu. Hingga akhirnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) menetapkan 21 Oktober sebagai Hari Santri.



“Orang-orang hanya melihat betapa cantik dan menawannya ikan tersebut, tapi tidak banyak yang memperhatikan nutrisi air yang menjadi ekosistem ikan tersebut. Hingga di era bapak Jokowi, mulai ditetapkan hari Santri,” ujarnya.

Politikus Golkar ini melihat bahwa salah satu tujuannya adalah, agar mata air yang bernama pesantren dan produknya yang bernama santri, dapat terus terjaga kualitasnya dalam menebar nilai-nilai Islam yang rahmatan lil Alamin.

“Sebab nilai-nilai inilah yang sebenarnya menjadi inti perekat semua perbedaan yang kompleks di Nusantara dan menjadi dasar tegaknya persatuan Indonesia,” tutup Azis.
(pur)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak