Picu Angka Kematian, Lawan Stigma Negatif Pada Pasien Covid-19
Sabtu, 02 Mei 2020 - 07:25 WIB
loading...
Munculnya stigma negatif dari masyarakat kepada pasien atau tenaga medis menjadi salah satu pemicu peningkatan angka kematian akibat wabah corona (Covid-19). Foto/Koran SINDO/Ali Masduki
A
A
A
JAKARTA - Munculnya stigma negatif dari masyarakat kepada pasien atau tenaga medis menjadi salah satu pemicu peningkatan angka kematian akibat wabah corona (Covid-19). Kewaspadaan terhadap wabah Covid-19 seharusnya tidak membuat seseorang bertindak paranoid.
Hingga kemarin pukul 12.00 pasien positif Covid-19 yang meninggal mencapai 800 orang, sedangkan pasien positif Covid-19 berjumlah 10.551 orang. “Banyaknya stigma negatif kepada pasien covid-19 ini memunculkan marginalisasi dan memperburuk status kesehatan dan tingkat kesembuhan. Inilah yang perlu dipahami bahwa stigma berkontribusi terhadap tingginya angka kematian," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan Fidiansjah di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan, proses marginalisasi pasien dan tenaga medis Covid-19 maupun keluarga ini sangat berdampak pada sistem imunitas tubuh mereka. Kondisi ini berpengaruh pada proses penyembuhan pasien. “Saya mengajak seluruh elemen masyarakat melawan stereotipe ini. Jangan diskriminasi dan kucilkan pasien maupun tenaga medis yang menangani covid-19,” katanya. (Baca : Kisah Petugas Pemakaman Korban Corona, Hanya Bisa Pasrah Pada Tuhan)
Fidiansjah mengatakan tidak sampainya informasi tentang Covid-19 secara utuh kepada publik kerap menimbulkan ketakutan berlebihan dari masyarakat. Kondisi ini sering memicu stigma yang tidak benar kepada kategori orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), pasien positif, dan keluarga pasien serta tenaga kesehatan.
Dia mencontohkan kasus perawat yang distigmakan dan mendapatkan perlakuan tidak patut di lingkungannya kemudian terpapar Covid-19 dan meninggal dunia, bahkan dalam proses pemakamannya pun masih mendapat penolakan. “Tentu sikap ini harus kita lawan. Ini akan menimbulkan dampak kesehatan jiwa pada komunitas masyarakat itu sendiri,” ucapnya.
Fidiansjah terus mengajak masyarakat untuk memberikan apresiasi pada tenaga kesehatan atau pada orang-orang yang turut memberikan dukungan dalam penanganan Covid-19. Apresiasi yang dimaksud bukanlah hal yang muluk-muluk, tapi memberikan perhatian dan penghargaan itu sudah cukup. “Mari beri apresiasi ketika ada segelintir masyarakat yang memberikan dukungan terhadap persoalan Covid-19. Segera kita berikan perhatian, dukungan dengan ucapan terima kasih Anda telah berikan pertolongan, dan sebagainya,” dorongnya.
Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengatakan, hingga kemarin pukul 12.00 jumlah pasien positif korona terus bertambah. Jika dibandingkan dengan sehari sebelumnya jumlah pasien positif Covid-19 bertambah 443 orang menjadi 10.551 orang. “Pada data hari ini penambahan pasien terkonfirmasi positif ada 433 orang sehingga menjadi 10.551,” ujarnya.
Hingga kemarin pukul 12.00 pasien positif Covid-19 yang meninggal mencapai 800 orang, sedangkan pasien positif Covid-19 berjumlah 10.551 orang. “Banyaknya stigma negatif kepada pasien covid-19 ini memunculkan marginalisasi dan memperburuk status kesehatan dan tingkat kesembuhan. Inilah yang perlu dipahami bahwa stigma berkontribusi terhadap tingginya angka kematian," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan Fidiansjah di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan, proses marginalisasi pasien dan tenaga medis Covid-19 maupun keluarga ini sangat berdampak pada sistem imunitas tubuh mereka. Kondisi ini berpengaruh pada proses penyembuhan pasien. “Saya mengajak seluruh elemen masyarakat melawan stereotipe ini. Jangan diskriminasi dan kucilkan pasien maupun tenaga medis yang menangani covid-19,” katanya. (Baca : Kisah Petugas Pemakaman Korban Corona, Hanya Bisa Pasrah Pada Tuhan)
Fidiansjah mengatakan tidak sampainya informasi tentang Covid-19 secara utuh kepada publik kerap menimbulkan ketakutan berlebihan dari masyarakat. Kondisi ini sering memicu stigma yang tidak benar kepada kategori orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), pasien positif, dan keluarga pasien serta tenaga kesehatan.
Dia mencontohkan kasus perawat yang distigmakan dan mendapatkan perlakuan tidak patut di lingkungannya kemudian terpapar Covid-19 dan meninggal dunia, bahkan dalam proses pemakamannya pun masih mendapat penolakan. “Tentu sikap ini harus kita lawan. Ini akan menimbulkan dampak kesehatan jiwa pada komunitas masyarakat itu sendiri,” ucapnya.
Fidiansjah terus mengajak masyarakat untuk memberikan apresiasi pada tenaga kesehatan atau pada orang-orang yang turut memberikan dukungan dalam penanganan Covid-19. Apresiasi yang dimaksud bukanlah hal yang muluk-muluk, tapi memberikan perhatian dan penghargaan itu sudah cukup. “Mari beri apresiasi ketika ada segelintir masyarakat yang memberikan dukungan terhadap persoalan Covid-19. Segera kita berikan perhatian, dukungan dengan ucapan terima kasih Anda telah berikan pertolongan, dan sebagainya,” dorongnya.
Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengatakan, hingga kemarin pukul 12.00 jumlah pasien positif korona terus bertambah. Jika dibandingkan dengan sehari sebelumnya jumlah pasien positif Covid-19 bertambah 443 orang menjadi 10.551 orang. “Pada data hari ini penambahan pasien terkonfirmasi positif ada 433 orang sehingga menjadi 10.551,” ujarnya.
Lihat Juga :