Rumah untuk Rakyat di Normal Baru
Selasa, 25 Agustus 2020 - 10:17 WIB
loading...
Nirwono Joga
A
A
A
Nirwono Joga
Pusat Studi Perkotaan
MEMBANGUN rumah yang layak huni dan sehat sama artinya membangun ketahanan bangsa. Karena pada hakikatnya, rumah adalah tempat berlindung bagi keluarga. Dalam arti yang lebih luas, rumah adalah tempat membina generasi bangsa.
Peringatan Hari Perumahan Nasional (Hapernas) (25/8) merupakan momentum untuk memastikan pemenuhan perumahan rakyat yang berkeadilan dan dan berkelanjutan. Sebab, rumah (papan) merupakan salah satu dari tiga kebutuhan pokok manusia, yakni sandang, pangan, dan papan.
Pembangunan perumahan yang layak bagi seluruh rakyat Indonesia memerlukan proses panjang. Kenyataannya, lebih dari 80% pembangunan rumah di Indonesia justru dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Konsep rumah tumbuh diterapkan dalam membangun rumah secara bertahap menyesuaikan dengan kondisi ekonomi dan jumlah anggota keluarga.
Kehadiran pengembang properti dari skala kecil, menengah, hingga besar sedikit banyak membantu percepatan penyediaan perumahan, terutama di kota-kota menengah dan besar. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencatat angka kekurangan rumah berdasarkan kepemilikan sebanyak 11,4 juta unit, untuk kepenghunian 7,7 juta unit, serta rumah tidak layak huni 3,4 juta unit (2019).
Menyediakan rumah yang layak kian menantang di tengah keterbatasan lahan dan pertambahan jumlah penduduk perkotaan, seiring meningkatnya arus urbanisasi. Perebutan lahan di perkotaan yang ketat membuat praktik spekulasi lahan turut melambungkan harga lahan secara tidak terkendali. Harga rumah tapak maupun hunian vertikal (rumah susun, apartemen), semakin mahal tidak lagi terjangkau masyarakat umum.
Pusat Studi Perkotaan
MEMBANGUN rumah yang layak huni dan sehat sama artinya membangun ketahanan bangsa. Karena pada hakikatnya, rumah adalah tempat berlindung bagi keluarga. Dalam arti yang lebih luas, rumah adalah tempat membina generasi bangsa.
Peringatan Hari Perumahan Nasional (Hapernas) (25/8) merupakan momentum untuk memastikan pemenuhan perumahan rakyat yang berkeadilan dan dan berkelanjutan. Sebab, rumah (papan) merupakan salah satu dari tiga kebutuhan pokok manusia, yakni sandang, pangan, dan papan.
Pembangunan perumahan yang layak bagi seluruh rakyat Indonesia memerlukan proses panjang. Kenyataannya, lebih dari 80% pembangunan rumah di Indonesia justru dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Konsep rumah tumbuh diterapkan dalam membangun rumah secara bertahap menyesuaikan dengan kondisi ekonomi dan jumlah anggota keluarga.
Kehadiran pengembang properti dari skala kecil, menengah, hingga besar sedikit banyak membantu percepatan penyediaan perumahan, terutama di kota-kota menengah dan besar. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencatat angka kekurangan rumah berdasarkan kepemilikan sebanyak 11,4 juta unit, untuk kepenghunian 7,7 juta unit, serta rumah tidak layak huni 3,4 juta unit (2019).
Menyediakan rumah yang layak kian menantang di tengah keterbatasan lahan dan pertambahan jumlah penduduk perkotaan, seiring meningkatnya arus urbanisasi. Perebutan lahan di perkotaan yang ketat membuat praktik spekulasi lahan turut melambungkan harga lahan secara tidak terkendali. Harga rumah tapak maupun hunian vertikal (rumah susun, apartemen), semakin mahal tidak lagi terjangkau masyarakat umum.