ASN Polri Dimintai Waspadai Penyebaran Paham Radikal di Lingkungan
Kamis, 06 Juni 2024 - 22:11 WIB
loading...
A
A
A
"Karena dalam rangka menanggulangi terorisme itu bukan hanya dilakukan oleh BNPT semata, tetapi seluruh stakeholder yang ada dan seluruh masyarakat dengan pendekatan secara pentahelix yaitu melibatkan pemerintah pusat dan pemerintahan daerah, kemudian keduanya masyarakat atau ormas, ketiga yaitu melibatkan media, keempatnya BUMN, BUMD atau pengusaha dan kelimanya akademisi saling berkolaborasi dalam program pentahelix tersebut," katanya mengakhiri.
Sementara itu mantan napi terorisme dari kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Hendro Fernando yang juga hadir sebagai narasumber mengungkapkan bahwa sikap intoleransi, radikalisme dan terorisme adalah sebuah proses yang tidak berdiri sendiri. Ada anak tangga yang dilalui yaitu pertama intoleransi, radikalisme dan terorisme.
"Jadi ada proses dimana pertama-tama kita tidak bisa mentoleris kelompok-kelompok orang lain yang merasa dirinya paling benar, tidak mau menghargai perbedaan yang ada, menganggap agama lain itu salah, NKRI atau pemerintah ini semuanya thoghut dan sebagainya. Itu yang pernah saya alami dulu," kata Hendro yang pernah menghunu Lapas Super Maxium Security selama 4 tahun ini sebelum akhirnya bergabung untuk setia kepada NKRI.
Dalam pembekalan yang diikuti para pengurus masjid yang berada di komplek Polri ini dirinya mengingatkan keapda para peserta yang hadir untuk selalu mnewaspadai ajaran salafi dan wahabi yang pernah diikutinya dulu melalui berbagai kitab-kitab sebagai awal mula masuk kedalam jaringan terorisme.
"Jadi kitab-kitab itulah yang dulu saya konsumsi yang akhirnya kitab itu menjadi sebuah rujukan bagi saya yang akhirnya saya masuk ke sebuah jaringan terorisme. Pihak terkait dari internal Polri juga harus menyikapi kitab-kitab apa saja yang dipelajari di lingkungan masjid masjid tersebut. Kitab kitab yang bertebaran harus di assessment. Karena kitab kitab yang menjadi rujukan kami dulu saat masuk ke dalam jaringan terorisme itu bisa masuk ke dalam masjid-mesjid yang ada di lingkungan Polri tersebut," katanya.
Sementara itu mantan napi terorisme dari kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Hendro Fernando yang juga hadir sebagai narasumber mengungkapkan bahwa sikap intoleransi, radikalisme dan terorisme adalah sebuah proses yang tidak berdiri sendiri. Ada anak tangga yang dilalui yaitu pertama intoleransi, radikalisme dan terorisme.
"Jadi ada proses dimana pertama-tama kita tidak bisa mentoleris kelompok-kelompok orang lain yang merasa dirinya paling benar, tidak mau menghargai perbedaan yang ada, menganggap agama lain itu salah, NKRI atau pemerintah ini semuanya thoghut dan sebagainya. Itu yang pernah saya alami dulu," kata Hendro yang pernah menghunu Lapas Super Maxium Security selama 4 tahun ini sebelum akhirnya bergabung untuk setia kepada NKRI.
Dalam pembekalan yang diikuti para pengurus masjid yang berada di komplek Polri ini dirinya mengingatkan keapda para peserta yang hadir untuk selalu mnewaspadai ajaran salafi dan wahabi yang pernah diikutinya dulu melalui berbagai kitab-kitab sebagai awal mula masuk kedalam jaringan terorisme.
"Jadi kitab-kitab itulah yang dulu saya konsumsi yang akhirnya kitab itu menjadi sebuah rujukan bagi saya yang akhirnya saya masuk ke sebuah jaringan terorisme. Pihak terkait dari internal Polri juga harus menyikapi kitab-kitab apa saja yang dipelajari di lingkungan masjid masjid tersebut. Kitab kitab yang bertebaran harus di assessment. Karena kitab kitab yang menjadi rujukan kami dulu saat masuk ke dalam jaringan terorisme itu bisa masuk ke dalam masjid-mesjid yang ada di lingkungan Polri tersebut," katanya.
(abd)
Lihat Juga :