ASN Polri Dimintai Waspadai Penyebaran Paham Radikal di Lingkungan
Kamis, 06 Juni 2024 - 22:11 WIB
loading...
A
A
A
"Seperti halnya kalau kita terkena virus Covid-19, agar tidak terkena virus Covid tersebut, maka harus diobati dengan imunisasi. Maka agar kita tidak terpapar paham radikal diri kita juga harus seimbang agar imun dari paham paham tersebut. Caranya yaitu kita harus bekali dengan berbagai macam pengetahuan ataupun pengalaman-pengalaman terkait dengan bahaya radikalisme dari sejak dini," ujar mantan Kepala Biro Penrencanaan, Hukum dan Humas BNPT ini.
Roedy menjelaskan, dari hasil penelitian, saat ini kelompok perempuan, remaja, dan anak-anak menjadi target untuk direkrut oleh kelompok radikal, terorisme, dan intoleran tersebut. Pola rekruitmen yang dilakukan saat ini menggunakan kemajuan teknologi informasi yaitu internet melalui platform media sosial.
"Ini yang harus diwaspadai oleh kita semuanya. Karena kelompok-kelompok tersebut cara merekrutnya tidak lagi bertemu langsung seperti dulu, tetapi sudah memanfaatkan teknologi digital atau internet dengan menggunakan media sosial seperti WhattAp, Telegram, dan sebagainya. Terutama terhadap tiga kelompok rentan tersebut yaitu perempuan, remaja, dan anak-anak," ujarnya.
Mantan Dandim 0603/Lebak ini berharap kepada ASN dan juga anggota Polri ke depannya. Untuk dapat lebih mewaspadai pola pola rekruitmen yang dilakukan kelompol radikal terorisme sebagai upaya menangkal paham ataupun bahaya intoleransi, radikalisme dan terorisme dari awal.
"Karena para Pegawai Negeri Sipil Polri ini sebagai Garda terdepan. Dimana para pegawai Polri yang kita lakukan pembekalan kali ini itu sebagian juga mereka yang mengurusi masjid-masjid yang ada di lingkungan Polri. Yang mana mereka ini berkomunikasi dengan masyarakat yang terkait dengan ibadah tempat ibadah dan lain sebagainya," ujar mantan Kasubdit Bina Dalam Lapas dan Kasubdit Pemulihan Korban BNPT ini.
Dirinya meminta para Pegawai Negeri Polri ini dapat memberikan suatu pemahaman kepada masyarakat bahwa bahaya radikal terorisme itu ada, bukan hanya 'katanya-katanya', tetapi fakta dan nyata, Sehingga perlu diketahui sedini mungkin, secepat mungkin untuk dilakukan perlawanan. Karean daya tahan atau public resilience dan public awareness itu memang lebih tepatnya datang dari masyarakat.
Roedy menjelaskan, dari hasil penelitian, saat ini kelompok perempuan, remaja, dan anak-anak menjadi target untuk direkrut oleh kelompok radikal, terorisme, dan intoleran tersebut. Pola rekruitmen yang dilakukan saat ini menggunakan kemajuan teknologi informasi yaitu internet melalui platform media sosial.
"Ini yang harus diwaspadai oleh kita semuanya. Karena kelompok-kelompok tersebut cara merekrutnya tidak lagi bertemu langsung seperti dulu, tetapi sudah memanfaatkan teknologi digital atau internet dengan menggunakan media sosial seperti WhattAp, Telegram, dan sebagainya. Terutama terhadap tiga kelompok rentan tersebut yaitu perempuan, remaja, dan anak-anak," ujarnya.
Mantan Dandim 0603/Lebak ini berharap kepada ASN dan juga anggota Polri ke depannya. Untuk dapat lebih mewaspadai pola pola rekruitmen yang dilakukan kelompol radikal terorisme sebagai upaya menangkal paham ataupun bahaya intoleransi, radikalisme dan terorisme dari awal.
"Karena para Pegawai Negeri Sipil Polri ini sebagai Garda terdepan. Dimana para pegawai Polri yang kita lakukan pembekalan kali ini itu sebagian juga mereka yang mengurusi masjid-masjid yang ada di lingkungan Polri. Yang mana mereka ini berkomunikasi dengan masyarakat yang terkait dengan ibadah tempat ibadah dan lain sebagainya," ujar mantan Kasubdit Bina Dalam Lapas dan Kasubdit Pemulihan Korban BNPT ini.
Dirinya meminta para Pegawai Negeri Polri ini dapat memberikan suatu pemahaman kepada masyarakat bahwa bahaya radikal terorisme itu ada, bukan hanya 'katanya-katanya', tetapi fakta dan nyata, Sehingga perlu diketahui sedini mungkin, secepat mungkin untuk dilakukan perlawanan. Karean daya tahan atau public resilience dan public awareness itu memang lebih tepatnya datang dari masyarakat.
Lihat Juga :