alexametrics

Jatuh Bangun Eka Tjipta Widjaja Membangun Kerajaan Bisnis Sinar Mas

loading...
Jatuh Bangun Eka Tjipta Widjaja Membangun Kerajaan Bisnis Sinar Mas
Pendiri Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja dikabarkan meninggal dunia. Foto/Ist
A+ A-
JAKARTA - Pendiri Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja dikabarkan meninggal dunia. Pria yang lahir dengan nama Oei Ek Tjhong di Quanzhou, Fujian, Tiongkok, 27 Februari 1921 ini meninggal pada usia 97 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta.

Dalam Biografi Eka Tjipta Widjaja seperti yang dirangkum www.biografiku.com, dia terlahir dari keluarga yang sangat miskin. Dengan tekad kuat ingin mengubah hidup keluarganya, Eka lantas memutuskan merantau keluar dari kampung halamannya di Quanzhou, China.

Eka pindah ke Indonesia ketika berusia 9 tahun. Di usianya yang masih sangat muda, Eka yang saat itu masih dipanggil Oei Ek Tjhong pindah ke Makassar, Sulawesi Selatan. (Baca juga: Eka Tjipta Widjaja, Pendiri Sinar Mas Meninggal Dunia)



Tiba di Makassar sekitar tahun 1932, Eka terjun langsung membantu ayahnya yang sudah lebih dulu tiba dan mempunyai toko kecil. Dia harus berjuang menutupi hutang USD150 ke rentenir untuk membiayai perjalanannya ke Indonesia.

Eka diketahui hanya lulusan sekolah dasar (SD) di Makassar. Hal ini dikarenakan kehidupannya yang serba kekurangan. Demi membantu orangtuanya dalam menyelesaikan hutang ke rentenir, dia harus mengorbankan pendidikannya.

Tak bisa melanjutkan pendidikan setelah tamat SD karena kesulitan ekonomi, Eka kecil pun mulai jualan. Setiap harinya dia keliling Kota Makassar menggunakan sepeda menjajakan permen, biskuit, serta aneka barang dagangan toko ayahnya dari pintu ke pintu. Ketekunannya akhirnya berbuah manis, usaha yang dirintis mulai menunjukkan hasil.

Di usia 15 tahun, Eka semakin matang dalam berbisnis. Dia sudah mampu mendapatkan untung Rp20. Jumlah yang besar pada masa itu, pasalnya harga beras masih 3-4 sen per kilogram. Ketika usahanya berkembang, dia pun mulai membeli becak.

Pada masa penjajahan Jepang, Eka menjajaki usaha menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang. Ia mulai menjual terigu. Semula hanya Rp50 per karung lalu ia menaikkan menjadi Rp60 dan akhirnya Rp150. Dia juga menjual semen seharga Rp20 per karung kemudian menaikkannya menjadi Rp40.

Eka juga sempat menjadi kontraktor kuburan. Berhenti sebagai kontraktor kuburan, dia lantas berdagang kopra. Dia berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah.

Mendapat laba besar, Eka justru nyaris mengalami kebangkrutan. Pasalnya, Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual-beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp6.

Tak menyerah ketika mengalami rugi besar, Eka lalu berdagang teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Namun, Eka harus mengalami rugi besar dan berhutang. Dia bahkan harus menjual mobil dan perhiasan keluarga untuk menutupi hutang.

Karir bisnis Eka mulai bersinar pada tahun 1980 ketika memutuskan membeli sebidang perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 10 ribu hektar yang berlokasi di Riau. Untuk menopang usaha perkebunan kelapa sawitnya Eka juga membeli mesin dan pabrik yang bisa memuat hingga 60 ribu ton kelapa sawit.

Pada tahun 1981 Eka lalu membeli perkebunan sekaligus pabrik teh dengan luas mencapai 1.000 hektar. Dia juga menyiapkan pabrik dengan kapasitas 20 ribu ton teh.

Tak lantas puas berbisnis kelapa sawit dan teh, Eka juga merambah bisnis bank. Dia kemudian membeli Bank Internasional Indonesia (BII) dengan aset mencapai Rp13 miliar. Melalui tangan dinginnya, BII kini memiliki asetnya mencapai Rp9,2 triliun.

Eka lantas merambah ke bisnis kertas. Dia membeli PT Indah Kiat yang bisa memproduksi hingga 700 ribu pulp per tahun dan bisa memproduksi kertas hingga 650 ribu per tahun. Tak mau berpuas diri akan kesuksesannya, Eka juga membangun ITC Mangga Dua, Green View apartemen yang berada di Roxy, Ambassador di Kuningan, dan sejumlah properti lainnya.

Hingga kini Pemilik Sinarmas Group ini diketahui memiliki pilar bisnis yang bergerak di berbagai sektor seperti kertas, agribisnis dan makanan, jasa keuangan, telekomunikasi serta properti dan infrastruktur di bawah naungan Kelompok Usaha Sinar Mas. Sejumlah perusahaan grup Sinar Mas pun sebagian mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perusahaan tersebut antara lain PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM), PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSA), PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI). Selain itu, ada PT Smartfren Telecom Tbk (SMAR), PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA), dan PT Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).

Di tahun 2018, Forbes merilis kekayaan Eka mencapai USD 8,6 miliar. Kekayaan miliarder tertua di Indonesia ini menyusut USD500 juta. Kendati demikian, Eka masih menduduki peringkat ketiga orang terkaya di Indonesia.
(kri)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak