Muhammadiyah-NU: Muhammadinu

Selasa, 09 April 2024 - 07:33 WIB
loading...
Muhammadiyah-NU: Muhammadinu
Karo AUPK UIN Sunan Gunung Djati-Pembina Pondok Pendawa, Imam Safei. FOTO/DOK. PRIBADI
A A A
Imam Safe'i
Karo AUPK UIN SGD-Pembina Pondok Pendawa

CORAK keberagamaan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran kedua Organisasi Masyarakat (Ormas) keagamaan yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul 'Ulama . Keduanya yang lahir dalam selang waktu yang tidak terlalu lama, Muhammadiyah didirikan pada Tahun 1912 oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Nahdlatul Ulama didirikan pada Tahun 1926 oleh Kyai Hasyim Asyári. Kedua organisasi yang sama-sama didirikan sebelum Indonesia Merdeka ini banyak sekali memiliki persamaan. Kedua pendirinya sama-sama bergelar kiai, sama-sama belajar mendalami Agama Islam di tanah kelahirannya Nabi Muhammad SAW di Arab Saudi, sama-sama memiliki komitmen kebangsaan yang luar biasa, sehingga keduanya memiliki kontribusi yang besar terhadap kemerdekaan Republik Indonesia.

Dua tokoh yang sama-sama murid dari Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi memiliki jiwa cinta Tanah Air yang tidak diragukan lagi. Ketika sama-sama telah mendapatkan ilmu agama dan merasa cukup bahwa apa yang didapatkan itu bisa sebagai modal berkhidmah kepada bangsa, mereka bersama-sama pulang kembali ke tanah air walaupun waktunya sedikit berbeda. Untuk meraih kemerdekaan Indonesia yang saat itu masih dalam cengkeraman penjajah Kolonial Belanda tentu yang paling dibutuhkan sumberdaya manusia yang pada saatnya mampu mengelola negara jika cita-cita merebut kemerdekaan Indonesia mampu diwujudkannya. Melihat Indonesia yang besar, beragam, kaya dan sangat luas wilayahnya, maka kesiapan-kesiapan sumber daya adalah modal utama. Muhammadiyah lahir dan mampu membuktikannya. Dengan penataan organisasi yang prima, lahir dari lembaga ini tokoh-tokoh yang memiliki peran besar mengawal bangsa Indonesia menjadi bangsa yang Merdeka.

Melengkapi sisi lain yang mungkin dirasakan bermakna memperkuat keberadaan Muhammadiyah dalam berkhidmah kepada bangsa, tidak terlalu lama lahir organisasi yang hampir sama yaitu Nahdlatul 'Ulama. Dengan kolaborasi yang kokoh dari beberapa tokoh yakni KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syamsuri, organisasi ini mampu membersamai dan melengkapi rintisan-rintisan besar yang telah dimulai oleh KH Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah. Hal ini terbukti ketika kemerdekaan Indonesia bisa diraih dan diwujudkan, nama tokoh-tokoh dari kedua oranisasi ini beraga di garda terdepan. Tidak hanya saat kemerdekaan ini diproklamirkan, hingga saat ini kedua organisasi ini beserta tokoh-tokoh yang ada di dalamnya selalu hadir dan berkontribusi untuk memperkokoh dan memperkuat tegaknya dan majunya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Muhammadiyah-NU

Dengan pelbagai macam persamaan Muhammadiyah dan Nahdlatul 'Ulama, ada pula perbedaan-perbedaan yang selama ini juga sering mendapatkan perhatian besar dan luar biasa. Khususnya setiap datangnya Bulan Ramadan. Baik di awal maupun di akhir pelaksanaan ibadah puasa, sebagian perhatian masyarakat akan tertuju pada kedua organisasi ini. Karena ada dasar-dasar hukum dan kebijakan yang berbeda dalam penetapannya, maka bisa dimungkinkan terjadi awalnya sama akhirnya berbeda, awalnya berbeda dan akhirnya sama, bisa sama-sama awal akhirnya berbeda dan juga bisa terjadi awal akhirnya sama. Terhadap peristiwa ini ada yang membesar-besarkan perbedaannya bahkan hingga saling mengejek dan ada pula yang menganggap biasa dan saling menghargai sebagai sebuah perbedaan.

Ini adalah contoh perbedaan Muhammadiyah-NU yang terjadi berulang-ulang di setiap Bulan Ramadan. Karena peristiwa ini sudah terjadi sejak lama, maka banyak kalangan yang merespons dengan biasa-biasa saja. Memaksa sama terhadap hal yang berbeda tentu sama susahnya dengan memaksa berbeda terhadap hal yang sudah sama. Di ranah inilah semuanya dituntut kelapangan dada untuk menerima perbedaan. Dan warna-warni itu ternyata indah, yang dibutuhkan adalah bekerja keras merawat dan memeliharanya agar keindahan itu tidak menjadi patah dan punah.

Sebenarnya, perbedaan Muhammadiyah-NU sangat banyak jumlah dan ragamnya. Akibat masing-masing mengambil ranah yang berbeda sebagai bentuk hidmah kepada agama, sehingga tidak semua perbedaan bernuansa negatif dan membawa dampak persaingan, permusuhan atau perpecahan. Perbedaan ini dipandang dan dimaknai berbagi peran karena masing-masing ada fokus dan kekuatan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, bicara tentang sekolah dan Perguruan Tinggi serta Lembaga-lembaga Kesehatan, maka semua akan memberikan acungan jempol kepada Muhammadiyah yang eksis membangun dan mengembangkan tidak hanya di Tanah Air Indonesia saja bahkan juga tersebar di pelbagai negara. Peran ini kayaknya sulit akan dikejar atau diikuti dengan cepat oleh Nahdlatul 'Ulama.

Demikian pula apa yang sudah dikerjakan Nahdlatul 'Ulama, dengan ciri kekhasannya telah melayani mayarakat yang butuh layanan agama. Bisa kita lihat bersama yang tersebar di pelosok-pelosok desa dan juga di beberapa kota, layanan Pendidikan Keagamaan mulai dari Tingkat Ula hingga Ma'had 'Aly berdiri di mana-mana sebagai baktinya Nahdlatul 'Ulama kepada bangsa dan negara. Pondok pesantren dengan pelbagai ragamnya juga lahir dan tumbuh di mana sebagai bukti Nahdlatul 'Ulama mampu melayani masyarakat yang tidak terjangkau dan menjangkau masyarakat yang tidak terlayani.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Muktamar XIX Pemuda...
Muktamar XIX Pemuda Muhammadiyah, Affandi Komitmen Tingkatkan Kapasitas Intelektual
Tanwir II Pemuda Muhammadiyah...
Tanwir II Pemuda Muhammadiyah Dorong Kader Rebut Ruang Strategis Bangsa
Lembaga Falakiyah PBNU...
Lembaga Falakiyah PBNU Rilis Data Hilal, Iduladha Berpotensi Serentak 27 Mei 2026
Muhammadiyah Iduladha...
Muhammadiyah Iduladha 27 Mei 2026, Pemerintah Sidang Isbat 17 Mei
Muhammadiyah Terbitkan...
Muhammadiyah Terbitkan Edaran Efisiensi dan Hidup Hemat: Kurangi Kegiatan Seremonial hingga Perjalanan Luar Negeri
Muhadjir Tegaskan Perbedaan...
Muhadjir Tegaskan Perbedaan Lebaran Muhammadiyah Bukan Bentuk Tak Taat Pemerintah
Pramono Sebut Modernisasi...
Pramono Sebut Modernisasi Halalbihalal Dilakukan oleh Muhammadiyah
Gubernur Pramono Ungkap...
Gubernur Pramono Ungkap Modernisasi Halal Bihalal oleh Muhammadiyah
Jemaah Salat Idulfitri...
Jemaah Salat Idulfitri di Muhammadiyah Menteng Membeludak ke Jalan, Polisi Terapkan Rekayasa Lalin
Rekomendasi
3 Kali Jadi Korban Hacker,...
3 Kali Jadi Korban Hacker, Akun Instagram Wardatina Mawa Diretas Lagi
Meski AS-Iran Musuh...
Meski AS-Iran Musuh Bebuyutan, Trump Ingin Bertemu Mojtaba Khamenei
Kim Jong-un Janji Tingkatkan...
Kim Jong-un Janji Tingkatkan Bom Nuklir Secara Eksponensial, Sebut Musuh Korut Sangat Ganas
Berita Terkini
Wamen Imipas Silmy Karim...
Wamen Imipas Silmy Karim Tersangka Kasus Pemerasan Ratusan Miliar
Silmy Karim dan 7 Orang...
Silmy Karim dan 7 Orang Ditetapkan Tersangka Kasus Pengurusan Dokumen Keimigrasian
Silmy Karim Ditahan...
Silmy Karim Ditahan KPK, Jabatan Wamen Imipas Segera Dicopot?
Silmy Karim dan Dadan...
Silmy Karim dan Dadan Hindayana Terjerat Korupsi, Istana Hormati Proses Hukum
Balada Silmy Karim,...
Balada Silmy Karim, dari Pindad, Krakatau Steel, Dirjen Imigrasi, Wamen Imipas, dan Pakai Rompi KPK
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Infografis
Ketua Umum PP Muhammadiyah...
Ketua Umum PP Muhammadiyah Minta PPN 12% Dikaji Ulang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved