Pengamat Nilai Jenis Kelamin KAMI untuk Cari Kekuasaan Politik
Minggu, 16 Agustus 2020 - 06:04 WIB
loading...
Din Syamsuddin dan kawan-kawan yang tergabung dalam Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) saat jumpa pers dikawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (15/8/2020). Foto: Raka Dwi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang diinisiasi oleh Din Syamsuddin dan beberapa tokoh nasional lainnya bakal dideklarasikan pertengahan bulan ini. Dalam narasi yang dimunculkan, KAMI bukan organisasi yang menjadi embrio gerakan politik praktis mencari kekuasaan. Melainkan sebatas gerakan moral untuk mengontrol kondisi bangsa dewasa ini.
Lantas benarkah gerakan KAMI murni gerakan moral seperti yang digaungkan oleh para deklarator dan inisiator dari koalisi tersebut? Pegiat politik dari Komite Muda Nusantara (KMN) Erik Pituah Hapedrik mengatakan, mudah sekali membaca jenis kelamin politik dari gerakan yang berisi tokoh nasional, tokoh akademisi dan tokoh agama itu.
“Enggak ada yang baru di dalam politik. Kita perlu cari tahu jenis kelamin, arah dan tujuan politik koalisi mereka (KAMI),” kata Erik dalam webinar berjudul ‘Di Tengah Pandemi Covid -19 Muncul Barisan Oposisi’, Sabtu 16 Agustus 2020. (Baca juga: Koalisi Din Syamsuddin dkk Gelar Deklarasi pada 18 Agustus Mendatang )
Bagi Erik, wacana yang dibangun oleh KAMI bukan tiba-tiba muncul, tapi sudah dikonsolidasikan dan dikondisikan untuk menggiring perspektif publik untuk kepentingan tertentu. Oleh karena itu, baginya tidak mungkin gerakan tersebut netral atau begitu saja muncul.
“Wacana tidak berdiri sendiri, mengandung ideologi pada kekuasaan tertentu. Saya lihat KAMI sesuatu yang berjenis kelamin bukan sesuatu yang netral,” tambahnya. (Baca juga: KAMI Akan Sampaikan Maklumat Berisi 8 Tuntutan kepada Pemerintahan Jokowi )
Lantas benarkah gerakan KAMI murni gerakan moral seperti yang digaungkan oleh para deklarator dan inisiator dari koalisi tersebut? Pegiat politik dari Komite Muda Nusantara (KMN) Erik Pituah Hapedrik mengatakan, mudah sekali membaca jenis kelamin politik dari gerakan yang berisi tokoh nasional, tokoh akademisi dan tokoh agama itu.
“Enggak ada yang baru di dalam politik. Kita perlu cari tahu jenis kelamin, arah dan tujuan politik koalisi mereka (KAMI),” kata Erik dalam webinar berjudul ‘Di Tengah Pandemi Covid -19 Muncul Barisan Oposisi’, Sabtu 16 Agustus 2020. (Baca juga: Koalisi Din Syamsuddin dkk Gelar Deklarasi pada 18 Agustus Mendatang )
Bagi Erik, wacana yang dibangun oleh KAMI bukan tiba-tiba muncul, tapi sudah dikonsolidasikan dan dikondisikan untuk menggiring perspektif publik untuk kepentingan tertentu. Oleh karena itu, baginya tidak mungkin gerakan tersebut netral atau begitu saja muncul.
“Wacana tidak berdiri sendiri, mengandung ideologi pada kekuasaan tertentu. Saya lihat KAMI sesuatu yang berjenis kelamin bukan sesuatu yang netral,” tambahnya. (Baca juga: KAMI Akan Sampaikan Maklumat Berisi 8 Tuntutan kepada Pemerintahan Jokowi )
Lihat Juga :