alexametrics

RI Berperan Penting dalam Menjaga Perdamaian Global

loading...
RI Berperan Penting dalam Menjaga Perdamaian Global
Peran Indonesia dan sejumlah negara dalam Forum Parlemen MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, Australia) penting untuk menjaga perdamaian. (Foto/Istimewa/Dok)
A+ A-
JAKARTA - Peranan Indonesia dan sejumlah negara yang tergabung dalam Forum Parlemen MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, Australia) sangat penting untuk menjaga perdamaian dan keamanan global.

Saat ini, seiring cepatnya perubahan dunia, tantangan yang dihadapi pun semakin besar dan terus bermunculan. Ketua DPR Bambang Soesatyo mengatakan, MIKTA hadir di saat dunia berubah dengan cepat.

Tak sedikit isu-isu global baru bermunculan, termasuk di bidang keuangan dan ekonomi, keamanan, lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, termasuk upaya untuk menjaga stabilitas dan kemakmuran masyarakat internasional.

"Saat ini terdapat tujuh prioritas isu utama yang dihadapi MIKTA, yaitu kontra-terorisme dan keamanan global, pemeliharaan perdamaian, pembangunan berkelanjutan, kesetaraan gender, pemerintahan yang baik dan demokrasi energi, serta perdagangan dan ekonomi," ujar Ketua DPR yang akrab disapa Bamsoet, saat membuka 4th MIKTA Speakers’s Consultation atau pertemuan parlemen MIKTA ke-4 di Istana Tampaksiring, Gianyar, Bali, Minggu (16/9/2018).

Bamsoet mengatakan, sebagai upaya turut membantu mencari solusi terhadap sejumlah permasalahan tersebut, pertemuan parlemen MIKTA kali ini mengambil tema “Creating Peace and Prosperity: The Role of Parliament”.

Menurutnya, MIKTA sebagai kelompok negara-negara berkembang berpeluang untuk memperkuat peranan negara anggota dalam menjawab tantangan dinamika internasional.

"Parlemen melalui kegiatan MIKTA Speakers’ Consultation, berupaya mendukung visi MIKTA dengan membangun konsensus kolektif pada isu-isu yang menjadi perhatian MIKTA," papar Bamsoet didampingi Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dan Ketua BKSAP DPR Nurhayati Ali Assegaf, Wakil Ketua BKSAP Fadel Muhammad dan Hasrul Azwar.

Dalam forum Parlemen MIKTA ini, Bamsoet juga secara khusus mengajak Parlemen Turki untuk memperjuangkan isu Palestina dan krisis kemanusiaan di dunia. Terlebih, konstitutusi kedua negara menjamin partisipasi aktif dalam menjaga ketertiban dan perdamaian dunia.

"Kedua parlemen telah berkerjasama dengan baik di berbagai forum internasional dalam memperjuangkan isu Palestina dan krisis kemanusiaan diberbagai belahan dunia. Kami berharap kerja sama tersebut dapat ditingkatkan di masa yang akan datang serta mendukung upaya United Nations Relief and Works Agency (UNWRA) dalam membantu pengungsi Palestina," ujar Bamsoet.

Bamsoet mengapresiasi peningkatan hubungan bilateral kedua negara di berbagai bidang. DPR RI sangat optimistis bahwa hubungan kedua negara dapat menguat di masa mendatang, terutama melalui hubungan antar parlemen.

"Indonesia dan Turki merupakan dua negara muslim besar dengan sistem pemerintahan yang demokratis. Keduanya merupakan focal point dalam pengembangan Islam moderat dan sekaligus sinergi dalam pemberantasan radikalisme dan terorisme," kata Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini memandang Turki sebagai mitra penting dan strategis dalam bidang pertahanan. Kerjasama pengembangan industri pertahanan melalui PT Pindad bersama FNSS Turki pada tahun 2016, patut diapreasiasi sebagai upaya untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Indonesia dan Turki memiliki kedaulatan untuk menentukan sikap terutama terkait dalam isu keamanan dan perdamaian internasional. Dalam kesempatan ini kami berharap Indonesia dan Turki dapat bekerjasama dengan baik untuk menangkal ancaman dan intervensi asing yang mencoba membatasi kebebasan kita untuk menentukan sikap sebagai negara yang berdaulat," urai Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN ini memaparkan, total perdagangan bilateral antara Indonesia dan Turki mengalami peningkatan dari 1,3 juta USD pada tahun 2016, menjadi 1,7 juta USD pada 2017. Kerjasama ini perlu ditingkatkan melalui Indonesia Turkey Comprehensive Economy Partnership (IT CEPA) yang sedang dalam tahap perundingan, sehingga hambatan ekspor kedua negara dapat dikurangi.

"DPR RI juga mendukung peningkatan investasi Turki ke Indonesia. Iklim investasi yang kondusif serta peningkatan tingkat kemudahan berbisnis dari urutan ke- 91 pada tahun 2016, menjadi urutan ke-72 pada tahun 2017 menjadi daya tarik bagi investor asing" tutur Bamsoet.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak