Ketum PP Muhammadiyah: Puasa Mampu Taklukkan Hawa Nafsu dan Segala Keangkuhan Diri
Selasa, 12 Maret 2024 - 09:03 WIB
loading...
A
A
A
Dimana puasa istimewa yang dimaksud adalah mampu menaklukkan hawa nafsu dan segala keangkuhan diri yang merasa serba digdaya untuk tetap menjadi insan biasa.
"Tuhan melarang manusia angkuh diri atau sombong. Manusia sombong sabda Nabi, cirinya dua yakni merasa diri paling benar dan suka merendahkan orang lain (HR Muslim)," paparnya.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan relasi kemanusiaan semesta mereka yang sombong merasa paling digdaya, paling benar, dan paling baik melebihi yang lain. Pihak atau orang lain dianggapnya lemah, buruk, salah, sesat, dan sederet sifat negatif lainnya.
"Mereka yang berbeda pandangan dengan dirinya dianggap keliru, salah, dan nirkebenaran. Karena angkuh diri, ketika dikritik akan muncul pertahanan diri (self-defense mechasnism) yang tinggi, padahal dirinya terbiasa mengeritik orang lain," katanya.
Mereka yang angkuh atau sombong diri, kata Haedar, sering dengan mudah menegasikan orang lain. Dirinyalah pejuang kebenaran sejati. Orang lain termasuk sesama seiman dianggap pengecut, lembek, dan pengkhianat hanya karena berbeda pandangan dan cara dalam perjuangan kehidupan yang tidak sejalan dengan dirinya.
Adapun pihak lain di luar dirinya diposisikan menjualbelikan kebenaran, bahkan kompromi dan membenarkan kemungkaran, karena tidak berkesesuaian dengan pandangannya. Dalil Al-Qur'an dan Hadis Nabi pun dengan mudah dipakai menstigma pihak lain.
"Tuhan melarang manusia angkuh diri atau sombong. Manusia sombong sabda Nabi, cirinya dua yakni merasa diri paling benar dan suka merendahkan orang lain (HR Muslim)," paparnya.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan relasi kemanusiaan semesta mereka yang sombong merasa paling digdaya, paling benar, dan paling baik melebihi yang lain. Pihak atau orang lain dianggapnya lemah, buruk, salah, sesat, dan sederet sifat negatif lainnya.
"Mereka yang berbeda pandangan dengan dirinya dianggap keliru, salah, dan nirkebenaran. Karena angkuh diri, ketika dikritik akan muncul pertahanan diri (self-defense mechasnism) yang tinggi, padahal dirinya terbiasa mengeritik orang lain," katanya.
Mereka yang angkuh atau sombong diri, kata Haedar, sering dengan mudah menegasikan orang lain. Dirinyalah pejuang kebenaran sejati. Orang lain termasuk sesama seiman dianggap pengecut, lembek, dan pengkhianat hanya karena berbeda pandangan dan cara dalam perjuangan kehidupan yang tidak sejalan dengan dirinya.
Adapun pihak lain di luar dirinya diposisikan menjualbelikan kebenaran, bahkan kompromi dan membenarkan kemungkaran, karena tidak berkesesuaian dengan pandangannya. Dalil Al-Qur'an dan Hadis Nabi pun dengan mudah dipakai menstigma pihak lain.
Lihat Juga :