Kaum Perempuan Perlu Diperkuat Tangkal Penyebaran Radikalisme
Senin, 11 Maret 2024 - 22:31 WIB
loading...
A
A
A
Ia mengungkapkan bahwa pola perekrutan jaringan teror terhadap anak-anak dan remaja diawali dengan merekrut kaum perempuan yang berperan sebagai ibu. Selain untuk memudahkan proses doktrinasi, perempuan juga dianggap sebagai simbol keharmonisan dan kekuatan dalam suatu masyarakat.
"Karena hal tersebut, dalam suatu peperangan biasanya salah satu strategi penaklukan wilayah adalah dengan menguasai kaum perempuan dari negara sasaran. Perempuannya diperkosa supaya masyarakat atau bangsa itu menjadi ketakutan sebagai bentuk psywar (psychological warfare), dengan mengeksploitasi dan menghancurkan kelompok perempuannya," kata Prof Musdah.
Karena itu, katanya, sangat penting memperhatikan aspek edukasi dan advokasi masyarakat Indonesia, khususnya perempuan, mengingat potensi bahaya yang begitu besar dapat terjadi jika Indonesia gagal dalam melibatkan perempuan. "Ini semua menjadi tanggung jawab besar pemerintah beserta instansi-instansi yang mengampu persoalan perempuan dan penanggulangan terorisme," katanya.
Hampir seluruh kasus terorisme di Indonesia dilakukan oleh orang beragama Islam, sehingga seringkali disalahartikan dengan narasi Islam membawa ajaran yang keras dan ekstrem. Faktanya, kasus terorisme juga mungkin dilakukan oleh pemeluk agama lainnya, dan hal ini biasanya memiliki keterkaitan langsung dengan kelompok masyarakat yang menjadi mayoritas di suatu negara.
Dalam pelibatan perempuan untuk mengedukasi mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam, Prof Musdah juga menyoroti sasaran dari dakwah Islam itu sendiri. Jika hendak menyemarakkan syiar Islam, maka seharusnya kaum perempuan yang menjadi prioritas dakwah atau kegiatan keagamaan lainnya.
"Karena hal tersebut, dalam suatu peperangan biasanya salah satu strategi penaklukan wilayah adalah dengan menguasai kaum perempuan dari negara sasaran. Perempuannya diperkosa supaya masyarakat atau bangsa itu menjadi ketakutan sebagai bentuk psywar (psychological warfare), dengan mengeksploitasi dan menghancurkan kelompok perempuannya," kata Prof Musdah.
Karena itu, katanya, sangat penting memperhatikan aspek edukasi dan advokasi masyarakat Indonesia, khususnya perempuan, mengingat potensi bahaya yang begitu besar dapat terjadi jika Indonesia gagal dalam melibatkan perempuan. "Ini semua menjadi tanggung jawab besar pemerintah beserta instansi-instansi yang mengampu persoalan perempuan dan penanggulangan terorisme," katanya.
Hampir seluruh kasus terorisme di Indonesia dilakukan oleh orang beragama Islam, sehingga seringkali disalahartikan dengan narasi Islam membawa ajaran yang keras dan ekstrem. Faktanya, kasus terorisme juga mungkin dilakukan oleh pemeluk agama lainnya, dan hal ini biasanya memiliki keterkaitan langsung dengan kelompok masyarakat yang menjadi mayoritas di suatu negara.
Dalam pelibatan perempuan untuk mengedukasi mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam, Prof Musdah juga menyoroti sasaran dari dakwah Islam itu sendiri. Jika hendak menyemarakkan syiar Islam, maka seharusnya kaum perempuan yang menjadi prioritas dakwah atau kegiatan keagamaan lainnya.
Lihat Juga :