Nyoblos di Port Moresby: Merajut Harapan, Mencintai Indonesia
Selasa, 13 Februari 2024 - 14:03 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Sambangi Istana, Ketua KPPS TPS 10 Gambir Beri Undangan Pencoblosan ke Jokowi
Pemungutan suara dimulai sejak pagi. Bagi pemilih tambahan, baru bisa menggunakan hak pilihnya pada jam 4 sore. Tidak terlihat antrean panjang sepanjang pencoblosan. Selain proses yang cepat, jumlah WNI di Port Moresby tidak banyak. Meski sedikit, namun tetap semangat berpartisipasi dalam pemilu ini. Saya termasuk dalam daftar pemilih tambahan. Harusnya jam 4 sore baru bisa nyoblos. Namun, saya sengaja datang lebih awal, melihat suasana TPS.
WNI di luar negeri hanya bisa menggunakan hak pilih untuk pilpres dan Pileg DPR RI Dapil DKI Jakarta II (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Luar Negeri). Tampaknya termasuk 'dapil neraka'. Sebanyak 125 caleg, di antaranya bertengger nama-nama figur publik, mantan menteri, mantan atlet ternama, petahana, dan sebagainya berebut tujuh kursi di dapil ini.
Banyak juga nama yang tidak familiar. Apalagi bagi pemilih yang tidak mengikuti perkembangan politik. Nama-nama itu jadi tidak terasa bermakna. Pemilih di luar negeri yang tidak berasal dari Jakarta, merasa mereka bukan wakil dari daerah pemilihannya.
Baca Juga: Pemilu 2024, Wapres Berharap Semua Pihak Kendalikan Nafsu
Pemilu di Indonesia termasuk yang tidak sederhana. Khususnya bagi penyelenggara. Dalam satu waktu yang sama, rakyat memilih pasangan capres/cawapres, caleg DPD, caleg DPR RI, caleg DPRD propinsi dan kabupaten/kota. Dalam kacamata pemilih awam, menggunakan hak pilih untuk lima jenis pemilihan dalam satu waktu, mungkin juga tidak sederhana. Setiap pemilih mendapat lima surat suara dengan ukuran besar. Setiap surat suara pileg memuat foto dan nama caleg. Harus dibuka lebar-lebar untuk membacanya, agak ribet dan perlu waktu cermat. Jadi tidak heran, jika pemilih lebih fokus pada pilpres yang lebih simpel kartu suaranya. Inilah konsekuensi sistem pemilu multipartai proporsional terbuka.
Pemungutan suara dimulai sejak pagi. Bagi pemilih tambahan, baru bisa menggunakan hak pilihnya pada jam 4 sore. Tidak terlihat antrean panjang sepanjang pencoblosan. Selain proses yang cepat, jumlah WNI di Port Moresby tidak banyak. Meski sedikit, namun tetap semangat berpartisipasi dalam pemilu ini. Saya termasuk dalam daftar pemilih tambahan. Harusnya jam 4 sore baru bisa nyoblos. Namun, saya sengaja datang lebih awal, melihat suasana TPS.
WNI di luar negeri hanya bisa menggunakan hak pilih untuk pilpres dan Pileg DPR RI Dapil DKI Jakarta II (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Luar Negeri). Tampaknya termasuk 'dapil neraka'. Sebanyak 125 caleg, di antaranya bertengger nama-nama figur publik, mantan menteri, mantan atlet ternama, petahana, dan sebagainya berebut tujuh kursi di dapil ini.
Banyak juga nama yang tidak familiar. Apalagi bagi pemilih yang tidak mengikuti perkembangan politik. Nama-nama itu jadi tidak terasa bermakna. Pemilih di luar negeri yang tidak berasal dari Jakarta, merasa mereka bukan wakil dari daerah pemilihannya.
Baca Juga: Pemilu 2024, Wapres Berharap Semua Pihak Kendalikan Nafsu
Pemilu di Indonesia termasuk yang tidak sederhana. Khususnya bagi penyelenggara. Dalam satu waktu yang sama, rakyat memilih pasangan capres/cawapres, caleg DPD, caleg DPR RI, caleg DPRD propinsi dan kabupaten/kota. Dalam kacamata pemilih awam, menggunakan hak pilih untuk lima jenis pemilihan dalam satu waktu, mungkin juga tidak sederhana. Setiap pemilih mendapat lima surat suara dengan ukuran besar. Setiap surat suara pileg memuat foto dan nama caleg. Harus dibuka lebar-lebar untuk membacanya, agak ribet dan perlu waktu cermat. Jadi tidak heran, jika pemilih lebih fokus pada pilpres yang lebih simpel kartu suaranya. Inilah konsekuensi sistem pemilu multipartai proporsional terbuka.
Lihat Juga :