alexametrics

Ditanya Dukung Jokowi atau Prabowo, Begini Jawaban Abraham Samad

loading...
Ditanya Dukung Jokowi atau Prabowo, Begini Jawaban Abraham Samad
Abraham Samad mengaku kedatangannya menemui Ketum Nasdem, Surya Paloh untuk menawarkan gagasan kepemimpinan yakni nasional interest yang bisa dikerjakan bersama. Foto/SINDophoto
A+ A-
JAKARTA - Mantan Ketua KPK, Abraham Samad mengaku kedatangannya menemui Ketua Umum DPP Partai Nasdem, Surya Paloh untuk menawarkan gagasan kepemimpinan yakni nasional interest yang bisa dikerjakan bersama. Samad menolak jika kedatangannya untuk meminta dukungan Nasdem agar dirinya mulus di level politik nasional.

"Mudah-mudahan gagasan yang saya tawarkan, Nasdem bisa ikut di dalam gagasan itu," ujar Samad di Kantor DPP Nasdem, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Diketahui, selain ke Nasdem, Samad juga pernah berkunjung ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mana merupakan 'sekutu' atau mitra koalisi Prabowo Subianto pada Pilpres 2014 lalu. Sementara Nasdem merupakan partai pendukung Jokowi.

Saat ditanyakan kemungkinan dirinya mendukung Jokowi atau Prabowo, Samad mengaku saat ini dirinya lebih berbicara tentang gagasan dahulu. "Nanti, mungkin pertemuan berikutnya, karena nanti akan ada pertemuan lagi, sudah janji (ke Surya Paloh). Baru kita membicarakan untuk mengerucut, apa yang harus kita lakukan, apa yang harus kita kerjasamakan," jelasnya.

Samad mengaku sulit saat ditanyakan apakah memilih mendukung Jokowi atau Prabowo. Sebab saat ini dirinya ingin fokus menawarkan gagasan dan menghimpun gagasan dari masyarakat. Kendati begitu, Samad tak mempersoalkan jika publik menilai berbeda yakni kedatangannya untuk meminta bantuan Nasdem agar dikomunikasikan ke Jokowi.

"Enggak apa-apa kalau kesan itu, wajar saja. Kalau Anda menganggap itu ya enggak ada masalah. Saya engk tahu last minute atau apa, karena saya sendiri enggak tau bahwa ini last minute," katanya.

Diakui Samad, selain ke Nasdem, dirinya juga memiliki rencana untuk bertemu dengan pimpinan parpol koalisi Jokowi lainnya. Ia mengaku masih memikirkan waktu yang tepat.

Termasuk Samad mengaku belum mau membahas soal hubungan yang kurang baik dengan PDIP khususnya dengan Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto saat ditanyakan awak media. Samad hanya berharap gagasannya bisa diterima semua pihak.

Saat ditanya pendapatnya tentang Jokowi dua periode, Samad enggan membahas konteks tersebut. Jauh dari itu adalah konteks keuntungan bangsa dan negara ke depan. Namun ia tak menampik jika pemerintahan berkelanjutan perlu diberikan kesempatan.

"Tapi saya ingin katakan, saya ingin bicara dalam konteks yang lebih besar. Untuk kepentingan masyarakat, bukan pragmatis," tutur dia.

Jokowi telah mengantongi nama bakal cawapresnya. Terkait hal ini, Samad enggan berspekulasi apakah dirinya berada di kantong Jokowi. Menurut dia, jika ada maka ia bersyukur, namun jika sebaliknya ia tak mempermasalahkan. Ia hanya berharap, gagasannya bisa sampai ke Surya Paloh dan suatu saat bisa ditindaklanjuti oleh parpol koalisi.

Menurut Samad, kehadirannya menemui Paloh karena Nasdem salah satu partai pendukung Jokowi. Namun begitu, kehadirannya ke Paloh untuk saat ini hanya sekadar menawarkan gagasan, bukan dalam konteks politik praktis.

Ia menyebut jika berbicara konteks berbangsa dan bernegara, maka dengan sendirinya konteks politik praktis akan masuk. Namun jika sebaliknya, bisa jadi tidak masuk. "Yang jelas, kita bicara soal pilpres dan wapres ke depan, bagaimana arah pembangunan ke depan," pungkasnya.
(kri)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak