Walhi Sebut Tak Kesulitan Berdialog dengan Ganjar: Beliau Berlatar Belakang Mapala
Jum'at, 09 Februari 2024 - 11:11 WIB
loading...
Capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo saat mengunjungi Kantor Walhi, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kamis (8/2/2024). FOTO/TPN GANJAR-MAHFUD
A
A
A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( Walhi ) Zenzi Suhadi mengapresiasi kunjungan calon presiden (capres) nomor urut 3, Ganjar Pranowo untuk berdialog di Kantor Walhi, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kamis (8/2/2024). Zenzi mengaku tak ada hambatan dalam diskusi itu sebab Ganjar memiliki latar belakang sebagai mahasiswa pecinta alam (mapala).
"Pada hari ini kita ketemu dengan Pak Ganjar, tidak terlalu susah bagi kami berdialog soal lingkungan, soal alam, karena beliau berlatar belakang mapala juga ketika jadi mahasiswa," kata Zenzi, Kamis (8/2/2024).
Zenzi menjelaskan, kedatangan Ganjar ke organisasi gerakan lingkungan hidup terbesar di Indonesia ini adalah untuk berdiskusi serta meminta masukan terhadap penanganan permasalahan sumber daya alam (SDA) dan lingkungan hidup.
"Tadi di dalam kita sudah melakukan dialog ada dua persoalan utama. Ada dua topik utama yang kita bicarakan, yang pertama Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam tetapi rakyat menerima deritanya selama ini. Artinya, ada tata kelola sumber daya alam baik pemilik, akses, dan pengelolaan di Indonesia ini masih salah," kata Zeni.
"Pada hari ini kita ketemu dengan Pak Ganjar, tidak terlalu susah bagi kami berdialog soal lingkungan, soal alam, karena beliau berlatar belakang mapala juga ketika jadi mahasiswa," kata Zenzi, Kamis (8/2/2024).
Zenzi menjelaskan, kedatangan Ganjar ke organisasi gerakan lingkungan hidup terbesar di Indonesia ini adalah untuk berdiskusi serta meminta masukan terhadap penanganan permasalahan sumber daya alam (SDA) dan lingkungan hidup.
"Tadi di dalam kita sudah melakukan dialog ada dua persoalan utama. Ada dua topik utama yang kita bicarakan, yang pertama Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam tetapi rakyat menerima deritanya selama ini. Artinya, ada tata kelola sumber daya alam baik pemilik, akses, dan pengelolaan di Indonesia ini masih salah," kata Zeni.
Lihat Juga :