Denny JA: Menilai Kredibilitas Lembaga Survei Bisa Lewat Jejak Digital
Rabu, 07 Februari 2024 - 16:28 WIB
loading...
A
A
A
Kata Denny lihat angka paling ujung dalam survei LSI Denny JA, yang ada dalam berita. Prediksi 55,9% untuk Jokowi dan 44,1% untuk Prabowo.
Mari kita bandingkan hasil prediksi LSI Denny JA itu dengan hasil KPU, yang diumumkan lima minggu kemudian. LSI Denny JA mengumumkan 55,9% untuk Jokowi, KPU 55,5% untuk Jokowi. Untuk Prabowo, LSI Denny JA mengumumkan 44,1%, KPU hasilnya 44,5%.
"Selisihnya sangat, sangat, dan sangatlah kecil sekali. Selisihnya masih dalam batas margin of error," ucapnya.
Denny melanjutkan sekarang masyarakat bisa melihat kerja LSI Denny JA untuk quick count pilpres yang sama pada 2019. Datanya juga bisa dilacak di Google.
LSI Denny JA mengumumkan hasil quick count itu di hari pencoblosan pada tanggal 17 April 2019 pukul 15.00 WIB. "Saya sendiri, Denny JA yang mengumumkan. Mengapa saya mengumumkan pukul 15.00 lewat satu detik. Peraturan KPU hanya membolehkan lembaga survei mengumumkan quick countnya setelah jam 15.00 di hari pencoblosan," paparnya.
"Maka, lewat satu detik setelah jam 15.00, saya ucapkan selamat datang kepada Presiden dan Wakil Presiden baru: Jokowi-Ma’ruf. Prosentase resmi dan final quick count LSI Denny JA diumumkan sekitar jam 18.00 di hari pencoblosan itu juga," sambungnya.
Menurut Denny, memang ini belum sepenuhnya dimengerti oleh publik luas, bahkan kalangan terpelajar sekalipun. Bahwa lembaga survei itu berbeda dengan lembaga konsultan politik.
"Ini perbedaannya. Lembaga survei itu kerjanya hanyalah melaporkan opini publik. Ia hanya merekam opini publik semata. Tak kurang dan tak lebih," jelasnya.
Sementara konsultan politik, kata Denny, kerjanya menggunakan data lembaga survei untuk 'mengubah' opini publik melalui program-program di lapangan.
Dia mengatakan lembaga survei itu dinilai prestasinya dari akurasi data. Tak penting siapa capres-cawapres yang menang dan kalah. Yang penting, datanya akurat. Akurasi menjadi sila pertama lembaga survei.
"Akan tetapi konsultan politik dinilai dari kemampuannya memenangkan klien. Itu hanya mungkin jika data survei yang ia gunakan akurat. Mustahil konsultan politik bisa memenangkan klien jika berbasiskan data yang tak akurat. Kata terindah bagi konsultan politik: Menang!," tuturnya.
Mari kita bandingkan hasil prediksi LSI Denny JA itu dengan hasil KPU, yang diumumkan lima minggu kemudian. LSI Denny JA mengumumkan 55,9% untuk Jokowi, KPU 55,5% untuk Jokowi. Untuk Prabowo, LSI Denny JA mengumumkan 44,1%, KPU hasilnya 44,5%.
"Selisihnya sangat, sangat, dan sangatlah kecil sekali. Selisihnya masih dalam batas margin of error," ucapnya.
Denny melanjutkan sekarang masyarakat bisa melihat kerja LSI Denny JA untuk quick count pilpres yang sama pada 2019. Datanya juga bisa dilacak di Google.
LSI Denny JA mengumumkan hasil quick count itu di hari pencoblosan pada tanggal 17 April 2019 pukul 15.00 WIB. "Saya sendiri, Denny JA yang mengumumkan. Mengapa saya mengumumkan pukul 15.00 lewat satu detik. Peraturan KPU hanya membolehkan lembaga survei mengumumkan quick countnya setelah jam 15.00 di hari pencoblosan," paparnya.
"Maka, lewat satu detik setelah jam 15.00, saya ucapkan selamat datang kepada Presiden dan Wakil Presiden baru: Jokowi-Ma’ruf. Prosentase resmi dan final quick count LSI Denny JA diumumkan sekitar jam 18.00 di hari pencoblosan itu juga," sambungnya.
Menurut Denny, memang ini belum sepenuhnya dimengerti oleh publik luas, bahkan kalangan terpelajar sekalipun. Bahwa lembaga survei itu berbeda dengan lembaga konsultan politik.
"Ini perbedaannya. Lembaga survei itu kerjanya hanyalah melaporkan opini publik. Ia hanya merekam opini publik semata. Tak kurang dan tak lebih," jelasnya.
Sementara konsultan politik, kata Denny, kerjanya menggunakan data lembaga survei untuk 'mengubah' opini publik melalui program-program di lapangan.
Dia mengatakan lembaga survei itu dinilai prestasinya dari akurasi data. Tak penting siapa capres-cawapres yang menang dan kalah. Yang penting, datanya akurat. Akurasi menjadi sila pertama lembaga survei.
"Akan tetapi konsultan politik dinilai dari kemampuannya memenangkan klien. Itu hanya mungkin jika data survei yang ia gunakan akurat. Mustahil konsultan politik bisa memenangkan klien jika berbasiskan data yang tak akurat. Kata terindah bagi konsultan politik: Menang!," tuturnya.
Lihat Juga :