Konsolidasi Armada Perang Indonesia, Kemana Arahnya?

Senin, 05 Februari 2024 - 05:04 WIB
loading...
A A A
Memahami apa yang disampaikan Prabowo maupun TNI AL, maka arah konsolidasi kekuatan matra laut melalui modernisasi, pembangunan kapal perang baru, serta pembelian rudal baru selaras dengan prinsip ‘’ci visi pacem, para bellum’’ (siapa menginginkan perdamaian, bersiapkan untuk perang) dan perlunya menghadirkan deterrent effect (efek gentar) demi melindungi kedaulatan wilayah.

Karena itu, konsolidasi kekuatan yang dilakukan tidak keluar dari rel penyesuaian postur pertahanan agar TNI AL mampu merespons berbagai dinamika tantangan yang terjadi di kawasan - baik ancaman nyata atau belum nyata- seperti ditunjukkan langkah agresif China di Laut China Selatan -bahkan beberapa kali kapal mereka menabrak batas zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia.

Sementara di bagian lain konsolidasi kekuatan yang dilakukan Australia dan sekutunya juga ditunjukkan melalui kehadiran mereka secara militer di kawasan sebagai bagian rebalancing power juga menciptakan instabilitas. Apalagi kemudian Austria nekat membangun kapal selam nuklir meski melanggar prinsip Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT).

Dinamika yang berkembang secara langsung telah menaikkan tensi negara-negara di kawasan, sehingga sebagian besar di antara mereka berlomba-lomba memperkuat kapasitas dan kapabilitas militer, termasuk dengan menaikkan anggaran belanja pertahanannya. Malahan di ASEAN, peningkatan tersebut telah terjadi sejak periode 2009-2018, dengan peningkatan mencapai 33% atau USD41 miliar.

Indonesia yang berada di dalam wilayah pertarungan tentu juga tidak bisa tinggal diam. Bahkan, sebagai negara dengan 70 persen wilayahnya berupa lautan, dengan 17.000 pulau di dalamnya, dan garis pantai membentang sepanjang 99.000 km, Indonesia harus tampil menjadi kekuatan maritim regional Asia Pasifik.

Seperti pernah disampaikan Presiden Soekarno pada National Maritim Convention tahun 1963, bahwa untuk membangun Indonesia menjadi negara besar, kuat, makmur, dan damai Indonesia harus dapat menguasai lautan. Dalam konteks pertahanan, Indonesia memiliki kemampuan mengamankan setiap jengkal wilayah laut, dengan tetap berpegang pada doktrin pertahanan defensif aktif.

Dengan begitu, arah konsolidasi kekuatan bagian dari kewaspadaan terhadap munculnya berbagai dinamika ancaman yang setiap saat berubah menjadi ancaman nyata yang mengusik kepentingan nasional, kehormatan negara bahkan keselamatan NKRI. Melalui kekuatan dan kewibawaan armada laut, negara lain pun akan berpikir ulang untuk mengusik apalagi menabrak kedaulatan wilayah Indonesia.

Dinamika geopolitik dan geomiliter di kawasan LCS maupun Indo-Pasifik akan terus berkembang yang diiringi dengan penguatan militer, baik secara kuantitas maupun kualitas. Karena itu, konsolidasi kekuatan maritim harus dilakukan secara berkesinambungan.Untuk itulah, siapapun rezim yang menjadi pemimpin ke depan, akan memiliki tugas sama.

Idealnya, Indonesia harus mampu mewujudkan gagasan sistem pertahanan Perisai Samudra Nusantara. Selain mensyaratkan kekuatan armada kapal perang dan rudal canggih, konsep yang merupakan bagian dari Perisai Trisula Nusantara tersebut juga membutuhkan dukungan sistem radar, sistem pertahanan pantai, kapal selam tangguh, serta berbagai jenis kapal selam otonom untuk fungsi. (*)
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Komisi I DPR Setujui...
Komisi I DPR Setujui Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi, Nurul Arifin: Perkuat Pertahanan dan Tingkatkan Daya Gentar
Daftar 25 Perwira TNI...
Daftar 25 Perwira TNI AL Pecah Bintang usai Upacara Kenaikan Pangkat Juli 2026
Bakamla Gelar Latihan...
Bakamla Gelar Latihan Menembak di Perairan Dekat Pulau Galang
Kapolri Tak Hadir di...
Kapolri Tak Hadir di Rapat Satgas PKH, Jubir: Semua Unsur Tetap Terwakili
Daftar 31 Pati TNI AL...
Daftar 31 Pati TNI AL Naik Pangkat, Salah Satunya Laksma Khoirul Fu’ad yang Jabat Wadanpuspomal
Perencanaan Matang dan...
Perencanaan Matang dan Value for Money Kunci Keberhasilan Modernisasi Alutsista
Pendaftaran Calon Bintara...
Pendaftaran Calon Bintara PK Pria TNI AL 2026 Kembali Dibuka, Lulusan SMA-D3 Bisa Daftar
Kostrad Run 2026 di...
Kostrad Run 2026 di Monas, Warga Senang Lihat Alutsista
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Rekomendasi
Iran Berterima Kasih...
Iran Berterima Kasih pada Warga Yordania karena Bantu Menargetkan Pasukan AS
Prediksi Ngeri Goldman...
Prediksi Ngeri Goldman Sachs: Harga Minyak Brent Bakal Meroket ke USD120 per Barel
Militer Iran Gempur...
Militer Iran Gempur Sistem Rudal HIMARS AS di Kuwait
Berita Terkini
Penguatan Kualitas Lulusan...
Penguatan Kualitas Lulusan Terus Digencarkan SGU
Cerita Megawati Pergoki...
Cerita Megawati Pergoki Intelijen: Hidup Saya Ini Diinteli Terus
Pakar Hukum: Secara...
Pakar Hukum: Secara Yuridis Pemeriksaan Mantan Jampidsus Tak Perlu Izin Kapolri dan Pejabat Negara Lainnya
Anggaran Rehab-Rekon...
Anggaran Rehab-Rekon Mulai Didistribusikan, Tito Minta K/L Informasikan Rencana Program pada Kepala Daerah
Roy Suryo: Rismon Tak...
Roy Suryo: Rismon Tak Layak Jadi Saksi di Kasus Ijazah Jokowi
Menteri Dody Ungkap...
Menteri Dody Ungkap Masalah Internal Kementerian PU Sangat Serius, Bongkar Berbagai Kasus termasuk Korupsi
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved