PSI Tolak Minta Maaf dan Menarik Video Pelanggaran HAM Orba

Sabtu, 02 Juni 2018 - 22:36 WIB
PSI Tolak Minta Maaf...
PSI Tolak Minta Maaf dan Menarik Video Pelanggaran HAM Orba
A A A
JAKARTA - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menolak untuk meminta maaf dan menurunkan video tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia di era pemerintahan Soeharto, sebagaimana diminta oleh kelompok Cinta Soeharto Sejati (Citos Indonesia).

“Kami tidak merasa perlu meminta maaf dan menarik video tersebut,” kata Andy Budiman, caleg sekaligus Ketua Tim Komunikasi PSI, Sabtu (02/6/2018).

“Isi video tersebut sepenuhnya mengandung kebenaran tentang praktek-praktek pelanggaran HAM di era Orde Baru dan kami membuatnya agar rakyat Indonesia sadar akan masa lalu yang kelam yang tak boleh kita ulang kembali.”

Pernyataan PSI itu dilontarkan setelah sehari sebelumnya (1 Juni 2018), Citos menyatakan akan mensomasi PSI atas video pelanggaran HAM di era Pak Harto tersebut. Citos menuntut PSI meminta maaf dan menarik video tersebut dari semua platform media sosialnya. Bila tidak, Citos mengancam akan memperkarakan PSI secara hukum dengan tuntutan pencemaran nama baik Pak Harto.

Dalam konferensi persnya Citos menuduh PSI secara sengaja dan terencana berusaha melakukan stigmatisasi negatif terhadap pak Harto. Di mata Citos, video PSI itu bukan hanya berlebihan, tetapi terlalu mendramatisasi dan jauh dari fakta kebenaran.

Andy Budiman menyatakan PSI tidak menyerang Pak Harto secara personal, melainkan praktek-praktek politik yang akhirnya membawa pada jatuhnya Pak Harto pada Mei 1998.

Andy juga menyatakan apa yang disajikan di video tersebut merujuk pada fakta sejarah yang sudah dikenal publik secara luas. “Saya minta Citos menunjukkan bagian mana dari video kami yang jauh dari kebenaran. Kita diskusikan terbuka saja,” ujarnya.

Menurut Andy, video yang dipersoalkan Citos hanyalah satu dari serangkaian video dengan hashtag #Mei98JanganLagi yang khusus diproduksi PSI untuk mengenang 20 Tahun Reformasi di bulan Mei.

Sepanjang Mei 2018, PSI setiap hari mengunggah video 1 menit tentang berbagai praktek kotor di masa Orde Baru: pelanggaran HAM, Daerah Operasi Militer, penindasan umat Islam, penculikan aktivis, KKN, pemberangusan pers dan kebebasan berekspresi, BPPC, dan sebagainya.

Andy menyatakan video itu adalah bagian dari upaya pendidikan politik bagi kaum muda yang mungkin terkecoh dengan upaya pembangunan opini bahwa kondisi Orde Baru jauh lebih baik dari kondisi Indonesia setelah menjalani demokratisasi sejak 1998.
“Upaya penyesatan opini ini harus dilawan,” ujar Andy. “Karena itu PSI merasa bertanggungjawab untuk mengingatkan sekaligus menginformasikan tentang kejahatan-kejahatan Orde Baru.”
(pur)
Berita Terkait
Partai Masyumi Resmi...
Partai Masyumi Resmi Kembali Dideklarasikan Dalam HUT ke-73
Suharso Monoarfa Terpilih...
Suharso Monoarfa Terpilih Jadi Ketua Umum PPP Secara Aklamasi
Partai Perindo Tegaskan...
Partai Perindo Tegaskan Politik sebagai Pengabdian, Bukan Perebutan Kekuasaan
Rakernas Perdana di...
Rakernas Perdana di Surabaya, Partai Mahasiswa Indonesia Berkomitmen Tingkatkan Partisipasi Politik Anak Muda
Jadi Caleg Butuh Uang...
Jadi Caleg Butuh Uang Banyak, Prabu Revolusi: Banyak Persepsi yang Salah soal Calon Legislatif
Aiman Witjaksono dan...
Aiman Witjaksono dan Prabu Revolusi Blak-Blakan soal Alasan Terjun ke Politik
Berita Terkini
Badan Siber PP GP Ansor...
Badan Siber PP GP Ansor Kritik Ketertutupan Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
OTT Kuansing, Bupati...
OTT Kuansing, Bupati Suhardiman Amby dan Sekda Zulkarnain Menyerahkan Diri ke KPK
Apartemen Disita Jelang...
Apartemen Disita Jelang Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Buka Suara
Tepis Isu Pecah Kongsi...
Tepis Isu Pecah Kongsi dengan Dokter Tifa, Roy Suryo: Saling Membersamai
Nilai Hakim Abaikan...
Nilai Hakim Abaikan Fakta Persidangan, Nadiem Makarim Bakal Lapor ke KY
Tim Hukum Jokowi Endus...
Tim Hukum Jokowi Endus Strategi Pecah Sidang Roy Suryo dan Dokter Tifa
Infografis
Setelah Rudal dan Jet...
Setelah Rudal dan Jet Tempur, Ukraina Sekarang Minta Kapal Selam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved