Cegah Sekolah Ambruk, Pengamat Pendidikan Minta Regulasi Pembangunan Gedung Dievaluasi
Kamis, 18 Januari 2024 - 15:41 WIB
loading...
A
A
A
Heriyanto berharap, ke depan renovasi yang dilakukan harus lebih mengutamakan keselamatan para siswanya. Untuk itu, dirinya dibantu pihak komite sekolah juga berjanji akan mengawasi proses renovasi yang akan dilakukan. Rencananya renovasi dikerjakan setelah dinas pendidikan setempat melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti insiden tersebut.
“Saya ingin ketika direhab semua perangkat itu mengutamakan keselamatan anak didik. Artinya material harus sesuai dengan standar SNI. Intinya ke depan kami akan hati-hati terkait spek material yang digunakan. Nanti bukan saya saja yang akan mengawasi tapi semua termasuk komite, Pak Kuwu. Kami ingin pastikan kalau nantinya materialnya termasuk baja ringannya standar nasional yang SNI,” ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, atap Gedung SMPN 2 Greged ambruk pada Jumat, 12 Januari 2024. Saat kejadian, 32 siswa kelas 7 sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kuat dugaan, baja ringan yang digunakan tidak memiliki standar SNI. Hal itu dibuktikan dengan tidak ditemukannya logo SNI pada profil baja ringan.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Cirebon Roniato menduga, ambruknya atap ruangan kelas dan guru di SMPN 2 Greged akibat material bangunan yang tidak sesuai. “Dugaan kami penyebabnya adalah karena kontruksinya memakai baja ringan tapi gentengnya memakai genteng beton. Sehingga bebannya tidak sebanding,” kata Roniato.
Roniato menyebut jika konstruksi bangunan memakai baja ringan, maka gentengnya seharusnya menggunakan genteng berbahan metal sehingga bebannya tidak terlalu berat. Roniato mengatakan, bangunan ruang kelas yang ambruk sebenarnya baru direnovasi pada beberapa tahun lalu.
Untuk memastikan penyebab utama ambruknya atap ruang kelas, Disdik Kabupaten Cirebon akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait. “Kita belum tahu penyebab utamanya. Mungkin nanti para ahli yang akan melihatnya seperti apa,” tutupnya.
“Saya ingin ketika direhab semua perangkat itu mengutamakan keselamatan anak didik. Artinya material harus sesuai dengan standar SNI. Intinya ke depan kami akan hati-hati terkait spek material yang digunakan. Nanti bukan saya saja yang akan mengawasi tapi semua termasuk komite, Pak Kuwu. Kami ingin pastikan kalau nantinya materialnya termasuk baja ringannya standar nasional yang SNI,” ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, atap Gedung SMPN 2 Greged ambruk pada Jumat, 12 Januari 2024. Saat kejadian, 32 siswa kelas 7 sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kuat dugaan, baja ringan yang digunakan tidak memiliki standar SNI. Hal itu dibuktikan dengan tidak ditemukannya logo SNI pada profil baja ringan.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Cirebon Roniato menduga, ambruknya atap ruangan kelas dan guru di SMPN 2 Greged akibat material bangunan yang tidak sesuai. “Dugaan kami penyebabnya adalah karena kontruksinya memakai baja ringan tapi gentengnya memakai genteng beton. Sehingga bebannya tidak sebanding,” kata Roniato.
Roniato menyebut jika konstruksi bangunan memakai baja ringan, maka gentengnya seharusnya menggunakan genteng berbahan metal sehingga bebannya tidak terlalu berat. Roniato mengatakan, bangunan ruang kelas yang ambruk sebenarnya baru direnovasi pada beberapa tahun lalu.
Untuk memastikan penyebab utama ambruknya atap ruang kelas, Disdik Kabupaten Cirebon akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait. “Kita belum tahu penyebab utamanya. Mungkin nanti para ahli yang akan melihatnya seperti apa,” tutupnya.
(cip)
Lihat Juga :