alexametrics

Perebutan Posisi Cawapres Kian Sengit

loading...
Perebutan Posisi Cawapres Kian Sengit
Elit partai politik kubu pemerintah berlomba menjadi cawapres Jokowi pada Pilpres 2019. GRAFIS/KORAN SINDO
A+ A-
JAKARTA - Perebutan posisi calon wakil presiden (cawapres) dalam poros Joko Widodo (Jokowi) maupun poros Prabowo Subianto kian sengit. Tiap partai politik (parpol) anggota koalisi berlomba menyodorkan nama kader terbaik untuk mendampingi Jokowi maupun Prabowo dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Di koalisi pemerintah, sejumlah parpol mulai terang-terangan menyodorkan kadernya untuk mendampingi Jokowi. Mereka di antaranya Partai Golkar, PKB, dan PPP. Bahkan PKB dan PPP mulai saling sindir atas kontribusi partai mereka kepada Jokowi. PKB sudah mendeklarasikan posko pemenangan Jokowi-Cak Imin (Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar) pada 10 April lalu, sementara PPP lewat Munas Alim Ulama di Semarang, Jawa Tengah, pada akhir pekan lalu memandatkan Ketua Umum PPP M Romahurmuziy (Romi) sebagai cawapres Jokowi.



Dewan Pakar Partai Golkar dalam pernyataan resminya pada Selasa (17/4/2018) malam juga menyodorkan nama ketua umumnya Airlangga Hartarto sebagai pendamping Jokowi di pilpres, begitu juga dengan PDIP yang sudah membuat daftar nama cawapres untuk Jokowi di 2019.

Ketua DPP PKB Jazilul Fawaid mengatakan, Cak Imin lebih pantas mendampingi Jokowi karena sejak awal koalisi di Pemilu 2014, PKB konsisten mendukung Jokowi. Sementara Partai Golkar dan PPP mendeklarasikan dukungan ketika Jokowi telah jelas memenangi Pilpres 2014. "Mungkin ada sesuatu yang mau dipanen di situ, maka datanglah. Tapi kami tetap menghargai itu dan kalau betul-betul tulus tanpa syarat mendukung Pak Jokowi enggak ada masalah," kata Jazilul di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (18/4/2018).

Menurut Jazilul, saat ini banyak yang malu-malu menyatakan keinginannya sebagai cawapres Jokowi. Dia mencontohkan Partai Golkar yang menyodorkan Airlangga sebagai cawapres melalui suara Dewan Pakar partai berlambang pohon beringin tersebut. Sementara Cak Imin yang menyatakan secara gamblang justru dianggap ambisius. "Saya yakin Pak Airlangga enggak mau itu. Mungkin maunya lebih dari itu," ucapnya.

Begitu juga dengan munculnya nama Romi. Menurutnya, jika ditelisik, PPP bergabung dalam koalisi pemerintah paling akhir, tapi aneh rasanya jika yang paling belakang menginginkan posisi di depan. Terlebih PPP bergabung dengan Jokowi agar PPP tetap utuh. Menurutnya, PPP juga tidak banyak berkontribusi untuk Jokowi.

"Pertanyaan berikutnya, apa kiprah PKB dan apa yang diberikan Presiden untuk mengawal itu. Sekarang yang mendekat Pak Romi. Itu pun tidak bicara isu-isu keislaman. Hanya selfie-selfie, tidak bicara menangani isu terkait pandangan Islam terhadap negara. Atau tokoh-tokoh Islam sekarang," tandasnya.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak