alexametrics

Soal Yerusalem, SAS Institute Ingatkan Umat agar Tak Terprovokasi

loading...
Soal Yerusalem, SAS Institute Ingatkan Umat agar Tak Terprovokasi
Direktur SAS Institut M Imdadun Rahmat. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Direktur Said Aqil Siroj (SAS) Institute, M Imdadun Rahmat sikap Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel akan menimbulkan masalah baru yang pelik.

Dia menilai keputusan kontroversial yang didukung Pemerintah Donald Trump ini betul-betul mengancam proses perdamaian yang masih terus diupayakan PBB dan badan-badan perdamaian internasional.



"Tindakan ini harus dihentikan agar tidak merusak capaian perdamaian yang ada," kata Imdadun dalam keterangan tertulisnya kepada SINDOnews, Kamis (7/12/2017).

Dia mengatakan, saat ini para pihak yang berkonflik, negara-negara Arab dan Israel sepakat mengakhiri perang dan menerima pendekatan hidup berdampingan secara damai.

"Semua pihak mengakui keberadaan dua negara, Palestina dan Israel dengan perbatasan sebelum perang 1967. Ini dikukuhkan dalam Resolusi PBB Nomor 242 dan 338 yang isinya mencakup kewajiban Israel meninggalkan wilayah Palestina yang direbutnya pada perang 1967," tutur Imdadun.

Dia menjelaskan, berdasarkan Resolusi PBB tersebut, Yerusalem Timur adalah wilayah Palestina. Saat ini kota tempat kompleks suci tiga agama Yahudi, Kristen dan Islam, Al-Aqsha berada menjadi status quo demi menjaga proses kesepakatan terus berlangsung.

Menurut dia, jika Israel memindahkan ibu kotanya ke Yerusalam maka akan menambah panjang daftar pembangkangan negara itu terhadap keputusan PBB dan suara komunitas internasional.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak