TPDI Desak Anwar Usman Minta Maaf ke Jimly Asshiddiqie, Mahfud MD, Hamdan Zoelva, dan Arief Hidayat

Jum'at, 17 November 2023 - 13:36 WIB
loading...
TPDI Desak Anwar Usman...
Anwar Usman dinilai patut diduga tengah mengalami frustasi dan kepribadian ganda. Foto/Aldhi Chandra
A A A
JAKARTA - Anwar Usman didesak minta maaf kepada Jimly Asshiddiqie, Mahfud MD, Hamdan Zoelva, dan Arief Hidayat. Koordinator Perekat Nusantara dan Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus menilai Anwar Usman telah mengabaikan etika, norma, prosedur, dan standar dalam berperilaku.

Sebab, paman Gibran Rakabuming Raka itu memilih jalan sendiri yaitu menggunakan media konferensi pers, mengumbar kekecewaan, dan ketidakrelaannya dipecat dengan mencari kambing hitam, menggeneralisir conflict of interest atau konflik kepentingan yang terjadi pada dirinya dengan beberapa putusan MK pada era Ketua MK Jimly Asshiddiqie, Mahfud MD, Hamdan Zoelva, dan Arief Hidayat.

“Padahal Anwar Usman tahu bahwa Jimly Asshiddiqie, Mahfud MD, Hamdan Zoelva, Arief Hidayat, mereka adalah hakim konstitusi dan Ketua MK yang tidak pernah menjadi ipar presiden dan tidak pernah mengadili perkara uji materiil tentang konstitusionalitas batas minimum usia capres dan cawapres demi anak presiden,” kata Petrus dalam keterangannya, Jumat (17/11/2023).

Baca juga: Lagi, Anwar Usman Dilaporkan ke KPK terkait Dugaan Nepotisme



Dia menuturkan, begitu pula terdapat fakta bahwa tidak ada seorang pun anak presiden ketika Jimly Asshiddiqie, Mahfud MD, Hamdan Zoelva, dan Arief Hidayat menjadi Ketua MK mengadili perkara uji materiil UU Pemilu yang memohon untuk meloloskan anak presiden ketika itu Megawati Soekarnoputri atau Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menjadi capres atau cawapres.

Dia mengatakan, para mantan Ketua MK sebelum eranya Anwar Usman, yaitu Jimly Asshiddiqie, Mahfud MD, Hamdan Zoelva, dan Arief Hidayat tidak pernah menjadi ipar presiden, apalagi Presiden Jokowi. JImly, Mahfud, Hamdan, dan Arief juga tidak pernah mengadili sengketa uji materiil UU Pemilu untuk meloloskan anak presiden jadi cawapres.

“Dengan demikian, tidak beralasan hukum bahkan tidak ada alasan pembenar ataupun alasan pemaaf bagi Anwar Usman ketika mencoba menggeneralisir conflict of interest yang terjadi pada dirinya dengan yang dituduhkan pernah terjadi pada era para mantan Ketua MK, karena berbeda konsteks, berbeda objek, dan berbeda subjek para pihak,” jelasnya.

Petrus berpendapat, pernyataan Anwar Usman bahwa pada masa MK diketuai oleh Jimly Asshiddiqie, Mahfud MD, Hamdan Zoelva, dan Arief Hidayat terjadi konflik kepentingan dalam perkara uji materiil pasal-pasal UU MK jelas tuduhan ngawur, tidak etis, fitnah, dan tidak bertanggung jawab.

“Sikap Anwar Usman yang mempublish tuduhan ngawur, tidak etis dan fitnah terhadap seniornya para mantan Ketua MK dan terhadap MK dan MKMK, hal itu dapat dikualifikasi sebagai fitnah baru terhadap Jimly Asshiddiqie dkk, terhadap muruah MK dan MKMK, yang bisa membawa Anwar Usman pada sidang MKMK jilid 2 menunju Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH),” ungkapnya.

Oleh karena itu, kata dia, TPDI dan Advokat Perekat Nusantara akan menyomasi Anwar Usman untuk mencabut pernyataannya dan meminta maaf kepada Jimly Asshiddiqie, Mahfud MD, Hamdan Zoelva, Arief Hidayat, dan MK dalam waktu 2 x 24 jam sebelum melaporkan Anwar atas dugaan pelanggaran kode etik dan perilaku hakim konstitusi jilid 2 ke MKMK pascadicopot dari jabatan Ketua MK.

“Anwar Usman patut diduga tengah mengalami frustasi dan kepribadian ganda, sehingga salah memilih jalan dalam berperilaku, hingga memfitnah koleganya sendiri yang adalah para mantan Ketua MK, mendiskreditkan muruah MK, setelah dihancurleburkan oleh Anwar dalam tragedi konstitusi melalui perkara uji materiil Nomor 90/PUU-XXI/2023,” pungkasnya.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kader Muhammadiyah Uji...
Kader Muhammadiyah Uji Penetapan Awal Bulan Hijriah oleh Menag ke MK
Tak Ada Batasan Anggota...
Tak Ada Batasan Anggota Polri Duduki Jabatan Sipil, Wamenkum Persilakan Gugat ke MK
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Dharma Pongrekun Minta...
Dharma Pongrekun Minta MK Kaji Ulang UU Kesehatan Demi Jaga Kedaulatan Bangsa
Anggota DPR Cindy Monica:...
Anggota DPR Cindy Monica: Putusan MK Perkuat Hak Politik Perempuan
MK: Parpol Melanggar...
MK: Parpol Melanggar Kuota 30 Persen Keterwakilan Perempuan Bakal Didiskualifikasi
MK Gelar Wisuda Purnabakti...
MK Gelar Wisuda Purnabakti Anwar Usman, Sambut Dua Hakim Konstitusi Baru
Pengalaman Panjang Arsul...
Pengalaman Panjang Arsul Sani, Dari Aktivis hingga Hakim MK
Buntut Polemik Ijazah...
Buntut Polemik Ijazah Jokowi, UU Pemilu Resmi Digugat ke MK
Rekomendasi
Galungan Jadi Momentum...
Galungan Jadi Momentum Jaga Budaya Bali, Partai Perindo Ajak Perkuat Persatuan
Gempa M 5,0 Guncang...
Gempa M 5,0 Guncang NTT, Tidak Berpotensi Tsunami
Austria Taklukkan Yordania...
Austria Taklukkan Yordania 3-1, Debut Manis di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Ekologi adalah Kesehatan:...
Ekologi adalah Kesehatan: Ketika Dua Visi Besar Emil Salim dan Farid Moeloek Menjadi Keharusan Zaman
Pakar: Tanpa Bukti Kuat,...
Pakar: Tanpa Bukti Kuat, Penyebutan 26 Nama dalam Dugaan Korupsi MBG Bisa Berujung Pidana
PPATK Minta Tambahan...
PPATK Minta Tambahan Anggaran Rp516,4 M untuk Perkuat Pemberantasan TPPU
Diskusi Budiman-Nusron-Sudaryono...
Diskusi Budiman-Nusron-Sudaryono di UGM Dibubarkan Mahasiswa, Qodari: Kalau Hanya Tuntutan, Bukan Demokrasi
Mengapa Pendonor Darah...
Mengapa Pendonor Darah Kita Tidak Kembali?
Evita: Ekspor Satu Pintu...
Evita: Ekspor Satu Pintu Harus Jadi Instrumen Hilirisasi, Bukan Ubah Jalur Penjualan
Infografis
4 Tentara Wanita Israel...
4 Tentara Wanita Israel yang Dibebaskan Tersenyum dan Lambaikan Tangan ke Warga Gaza
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved