Pemerintah Jokowi Dinilai Serius Wujudkan Kedaulatan Pangan

Selasa, 17 Oktober 2017 - 15:43 WIB
Pemerintah Jokowi Dinilai...
Pemerintah Jokowi Dinilai Serius Wujudkan Kedaulatan Pangan
A A A
JAKARTA - Komitmen Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) mewujudkan kedaulatan pangan tidak hanya sampai pada memberikan pasokan produk pangan dalam jumlah cukup, tetapi berupaya memenuhi kebutuhan gizi (nutritionally adequate) dan aman (safe).

Karena itu, terkait dengan Hari Pangan Sedunia, panitia Rembuk Nasional 2017 bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala, menggelar Rembuk Daerah dengan tema Menuju Kedaulatan Pangan dan Mengelola Keamanan Pangan.

Kegiatan ini digelar di Gedung Academic Activity Center (GAAC) Prof Dr Dayan Dawood MA, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh, Senin 16 Oktober 2017.

Di era Presiden Jokowi, kedaulatan pangan dicantumkan sebagai salah satu Nawacita. Pada 2014, anggaran untuk program kedaulatan pangan mencapai Rp67,3 triliun. Tahun ini, anggaran kedaulatan pangan melonjak hingga 53,2 persen menjadi Rp103,1 triliun.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito mengatakan, Presiden Jokowi berpesan untuk mengubah pengawasan obat dan makan, perkuat sistem, dan berikan regulasi yang kuat, apapun itu namanya bisa Instruksi Presiden (Inpres) atau Peraturan Presiden (Perpres).

"Akhirnya dalam perjalanan waktu dalam satu tahun ini kami sudah diperkuat dengan adanya inpres terkait peningkatan efektifitas pengawasan obat dan makanan," kata Penny dalam siaran pers, Selasa (17/10/2017).

BPOM merasa beruntung pada masa pemerintahan Jokowi-JK, baru kali ini BPOM diberikan mandat kepercayaan yang jauh lebih besar. Bahkan Presiden melalui Perpres baru memberikan kewenangan kepada BPOM membuka balai POM di pelosok daerah, sehingga semakin dekat dengan rakyat.

"Kedepan, Presiden mengatakan juga masalah keamanan pangan adalah masalah pemerintah hadir, negara hadir. Jadi ini dengan adanya Perpres ini BPOM semakin diperkuat," ujar Penny.

Ketua Rembuk Nasional Firdaus Ali dalam sambutannya mengatakan, dalam sejarah pemerintahan di Indonesia, baru pertama kali ini pemerintah mulai hadir memperhatikan masalah keamanan pangan.

"Nah dalam konteks itu kemudian sangat tepat sekali pemerintahan sekarang tidak hanya memperhatikan kedaulatan pangan tapi juga keamanan pangan. Selama ini kita hanya bicara kedaulatan pangan," kata Firdaus Ali.

Firdaus menjelaskan, masalah keamanan pangan ini penting dan krusial karena berdampak langsung bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, dampak yang bisa dilihat langsung adalah orang keracunan obat, ada yang sakit, atau meninggal.

"Hampir semua makanan yang menyebabkan diabetes, jantung kolestrol, kurang gizi, termasuk kanker yang kita tahu costnya mahal sekali. Selama ini kita tidak menyadari itu. Jangan sampai anggaran BPJS kita habis hanya karena salah makan," ujar Firdaus.

Terkait dengan acara rembuk nasional ini, Firdaus berharap forum rembuk mampu merumuskan saran dan rekomendasi kepada pemerintah untuk pemecahan permasalahan keamanan pangan.

"Sehingga pangan yang beredar di Indonesia memenuhi persyaratan keamanan dan mutunya untuk tercapainya individu penduduk Indonesia yang sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan," tandasnya.

Berbeda dari Rembuk Nasional 2015 dan 2016, Rembuk Nasional 2017 ini akan dilakukan dalam 2 tahap yaitu Rembuk Daerah (RD) dan Rembuk Pusat. Rembuk Daerah dilaksanakan di 16 Perguruan Tinggi di 14 Provinsi di antaranya adalah Universitas Cendrawasih- Jayapura (Papua), Univ Pattimura (Ambon), Univ Hassanudin (Makassar).

Kemudian Univ Samratulangi (Manado), Univ Mulawarman (Samarinda), Univ Udayana (Bali), Univ Airlangga (Surabaya), Univ Gajah Mada (Yogyakarta), Univ Diponegoro (Semarang), ITB (Bandung), UI (Depok), IPB (Bogor), Univ Sriwijaya (Palembang), Univ Andalas (Padang), Univ Syiah Kuala (Banda Aceh), Univ Sumatera Utara (Medan), dan IPB (Bogor).
(maf)
Berita Terkait
Presiden Jokowi Terima...
Presiden Jokowi Terima Kunjungan Presiden Filipina
Presiden Jokowi Tinjau...
Presiden Jokowi Tinjau Vaksin di Papua Barat
Presiden Hadiri Muktamar...
Presiden Hadiri Muktamar Rabithan Melayu-Banjar
3.048 Personel Gabungan...
3.048 Personel Gabungan TNI dan Polri Dikerahkan untuk Pengamanan Kunjungan Presiden ke Papua
Coretan Dinding Adili...
Coretan Dinding 'Adili Jokowi' di Sudut Kota Jakarta
Coretan Dinding Adili...
Coretan Dinding Adili Jokowi Kembali Hebohkan Sudut Kota Jakarta
Berita Terkini
Roy Suryo Ngamuk Sidang...
Roy Suryo Ngamuk Sidang Praperadilannya Disusupi Termul
Soroti Kematian 5 Calon...
Soroti Kematian 5 Calon Manajer Kopdes, Pimpinan Komisi XIII DPR Dorong Komnas HAM Investigasi
Pakar Hukum: Konsep...
Pakar Hukum: Konsep Presisi Jadi Kunci Meningkatnya Kepercayaan Publik kepada Polri
Narkoba, Masa Depan...
Narkoba, Masa Depan Bangsa, dan Kerja Sama Internasional
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan Roy Suryo Dimulai, Hakim Ungkap Jadwal Setiap Persidangan
Pemerintah Ajukan RUU...
Pemerintah Ajukan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber ke DPR, Atur Mekanisme Penyidikan dan Sanksi
Infografis
Pemerintah Tetapkan...
Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur dan Cuti Bersama di Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved