PPP: Kalau Pemerintah Berpihak, Akan Terjadi Perlawanan Rakyat

Kamis, 09 November 2023 - 17:47 WIB
loading...
PPP: Kalau Pemerintah...
Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PPP Achmad Baidowi dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk Bersama Menjaga Kondusifitas Jelang Pemilu yang digelar di Media Center DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (9/11/2023). FOTO/MPI/FELLDY UTAMA
A A A
JAKARTA - Anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Achmad Baidowi mengingatkan kepada pemerintah tidak menyalahgunakan kewenangannya dalam pelaksanaan Pilpres 2024 . Sebab, perlawanan rakyat akan muncul jika pemerintah menunjukan keberpihakan kepada pasangan calon tertentu.

Hal ini disampaikan Awiek, sapaan akrab Achmad Baidowi, dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk Bersama Menjaga Kondusifitas Jelang Pemilu yang digelar di Media Center DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (9/11/2023).

Awalnya, Awiek menjelaskan, hiruk pikuk dalam politik merupakan hal yang biasa terjadi dalam pesta demokrasi. Yang terpenting, dinamika tersebut tidak berujung pada situasi yang panas, bahkan sampai terjadi kekacauan.

Baca juga: MK Diminta Putuskan Uji Formil Putusan Usia Capres Cawapres Sebelum Penetapan Paslon Pilpres 2024

Menurutnya, situasi panas bisa terjadi di tengah masyarakat apabila ada kondisi-kondisi tertentu. Misalnya, sikap yang ditunjukkan oleh pemerintah itu sendiri.

"Kita lihat komitmen dari pemerintah dan aparat negara yang dimiliki pemerintah. Kalau pemerintahnya berpihak, maka akan terjadi perlawanan dari rakyat," kata Awiek.

Karenanya, Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR itu mewanti-wanti pemerintah tidak menyalahgunakan kewenangannya untuk memenangkan salah satu kontestan atau calon tertentu di Pemilu 2024.

"Kalau itu digunakan, itu akan chaos. Kasihan, demokrasi yang sudah kita usung sangat maju ini dirusak karena misalkan hasrat kekuasaan," ujarnya.

Baca juga: Sekum Muhammadiyah Anggap Putusan MKMK Sudah Tepat

Sebelumnya, hal senada disampaikan pengamat militer dan pertahanan, Connie Rahakundini Bakrie. Ia mengaku khawatir dengan potensi risiko dalam negeri dan luar negeri saat ini, terutama memuncaknya kemarahan rakyat akibat putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang dinilai syarat akan kepentingan politik suatu oknum tertentu.

"Saat ini yang saya khawatirkan dari soal Gibran adalah takutnya kemarahan masyarakat yang memuncak. Kemarahan masyarakat kapan meledaknya waktunya saya tidak tahu. Tapi itu terjadi dimulai dari drama Korea soal MK. Saat ini memang diperlukan revolusi moral leadership," kata Connie Rahakundini Bakrie dalam konferensi pers dan diskusi media bertajuk Nasib Demokrasi Indonesia ke Depan, yang digelar Media Center Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud di Rumah Cemara 19, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 30 Oktober 2023.

Menurutnya, jika MK dapat diatur, maka tak menutup kemungkinan elite politik juga akan menggunakan kekuatan aparat keamanan untuk menghambat demokrasi di Indonesia.

"Kondisi saat ini lumayan besar pengaruhnya bagi potensi risk. Pertama involvement aparat. Kemungkinan tidak netral itu tetap ada. Kemungkinan bapaknya menggunakan aparat untuk kepentingan anaknya tetap ada," kata Connie.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sikapi Putusan PN Jakpus,...
Sikapi Putusan PN Jakpus, Kuasa Hukum PPP Maluku Akan Tempuh Kasasi
Menang Lagi di PN Jakpus,...
Menang Lagi di PN Jakpus, Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen pada SK Plt Maluku
Sidang Gugatan Muktamar...
Sidang Gugatan Muktamar PPP, Saksi Tergugat Dinilai Tidak Konsisten
Konflik PPP Banten Dinilai...
Konflik PPP Banten Dinilai Lebih dari Sekadar Pergantian Ketua
DKPP Pecat Ketua Bawaslu...
DKPP Pecat Ketua Bawaslu Kabupaten Tambrauw karena Terbukti Masih Berstatus ASN
Sidang Gugatan PPP,...
Sidang Gugatan PPP, Ketua SC Mengaku Borong Kamar Hotel untuk Persidangan Muktamar
Toni, Badri, dan Saiful...
Toni, Badri, dan Saiful Hakim Dilaporkan Kader PPP ke Polda Metro atas Dugaan Pemalsuan Dokumen Muktamar
Sejumlah Pengurus PPP...
Sejumlah Pengurus PPP Daerah Dorong Polda Metro Jaya Usut Dugaan Pemalsuan Dokumen
Muscab PPP se-Papua...
Muscab PPP se-Papua Tengah, Mardiono Dorong Kolaborasi dengan Pemda untuk Sejahterakan Rakyat
Rekomendasi
Momen Tahun Baru Islam...
Momen Tahun Baru Islam 1448 H, Dompet Dhuafa Perkuat Program Anak Yatim melalui BesTeam
Bidik Pasar Indonesia...
Bidik Pasar Indonesia Timur, Jafran Indonesia Kenalkan JR 737 di PENAS XVII
Kabar Duka, Icuk Nugroho...
Kabar Duka, Icuk Nugroho Pemeran Saep di Preman Pensiun Meninggal Dunia
Berita Terkini
4 Keputusan Munas Kader...
4 Keputusan Munas Kader Muda NU, Dukung Muktamar ke-35 di Lirboyo hingga Tolak Zonasi AHWA
Mantan Petinggi OJK...
Mantan Petinggi OJK Ditahan Bareskrim terkait Kasus Dana Syariah Indonesia
Boni Hargens Minta Hilangkan...
Boni Hargens Minta Hilangkan Prasangka Buruk terhadap Polri
Sony Sonjaya Ungkap...
Sony Sonjaya Ungkap 41 Nama Diduga Minta Titik SPPG, Sahroni Khawatir untuk Mengelabui Penyidik
Din Syamsuddin Sebut...
Din Syamsuddin Sebut Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipaksakan: Kezaliman yang Nyata
Periksa Silmy Karim,...
Periksa Silmy Karim, KPK Telusuri Asal-usul Aset
Infografis
Pemerintah Tetapkan...
Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur dan Cuti Bersama di Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved