Bersiap Menghadapi Resesi
Kamis, 06 Agustus 2020 - 07:07 WIB
loading...
A
A
A
Sebab konsumsi rumah tangga tetap menjadi kunci dari sisi demand, kemudian investasi. Pengeluaran atau belanja pemerintah pun bisa membantu pertumbuhan, baik secara langsung maupun melalui multiplier effect melalui konsumsi sektor rumah tangga dan investasi.
Dibandingkan dengan negara lain yang bergantung pada perdagangan internasional, posisi Indonesia lebih beruntung karena memiliki tingkat konsumsi domestik yang tinggi. Produk domestik bruto (PDB) sebagian besar ditopang konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 58,14% pada PDB kuartal I/2020. Karenanya mendorong konsumsi domestik adalah salah satu cara yang efektif.
Segala instrumen yang dimiliki oleh pemerintah seperti kebijakan stimulus, relaksasi, diskon harus dimaksimalkan untuk mendorong pertumbuhan konsumsi domestik.
Porsi konsumsi domestik mencapai 55-58% produk domestik bruto (PDB) Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Adapun investasi hanya berkisar 30% dari total PDB. Ini berarti Indonesia masih bisa mengatasi resesi meskipun investasi menurun dan perekonomian global melambat. Syaratnya pemerintah bisa menjaga daya beli masyarakat.
Beragam program seperti Program Keluarga Harapan (PKH), penyaluran bantuan sembako, bantuan sosial (bansos), program Kartu Prakerja, potongan listrik perlu terus dilakukan dan diawasi sehingga tepat sasaran dengan penerima adalah rumah tangga miskin dan terdampak pandemi. Dengan demikian tidak terjadi pemborosan anggaran. Dengan penggunaan anggaran yang tepat, upaya mendorong konsumsi domestik akan maksimal. Karenanya fokus belanja negara mesti dialihkan menjadi bansos dan subsidi agar roda perekonomian di akar rumput tetap bergerak.
Dibandingkan dengan negara lain yang bergantung pada perdagangan internasional, posisi Indonesia lebih beruntung karena memiliki tingkat konsumsi domestik yang tinggi. Produk domestik bruto (PDB) sebagian besar ditopang konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 58,14% pada PDB kuartal I/2020. Karenanya mendorong konsumsi domestik adalah salah satu cara yang efektif.
Segala instrumen yang dimiliki oleh pemerintah seperti kebijakan stimulus, relaksasi, diskon harus dimaksimalkan untuk mendorong pertumbuhan konsumsi domestik.
Porsi konsumsi domestik mencapai 55-58% produk domestik bruto (PDB) Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Adapun investasi hanya berkisar 30% dari total PDB. Ini berarti Indonesia masih bisa mengatasi resesi meskipun investasi menurun dan perekonomian global melambat. Syaratnya pemerintah bisa menjaga daya beli masyarakat.
Beragam program seperti Program Keluarga Harapan (PKH), penyaluran bantuan sembako, bantuan sosial (bansos), program Kartu Prakerja, potongan listrik perlu terus dilakukan dan diawasi sehingga tepat sasaran dengan penerima adalah rumah tangga miskin dan terdampak pandemi. Dengan demikian tidak terjadi pemborosan anggaran. Dengan penggunaan anggaran yang tepat, upaya mendorong konsumsi domestik akan maksimal. Karenanya fokus belanja negara mesti dialihkan menjadi bansos dan subsidi agar roda perekonomian di akar rumput tetap bergerak.
(ras)