alexametrics

Sejarawan Ungkap Penanganan COVID-19 Sama dengan Flu Spanyol Pada 1918

loading...
Sejarawan Ungkap Penanganan COVID-19 Sama dengan Flu Spanyol Pada 1918
Sejarawan Universitas Indonesia (UI) Tri Wahyuning M Irsam mengatakan pandemi virus corona ini tidak jauh berbeda dengan Flu Spanyol pada 1918. FOTO/DOK.CNN
A+ A-
JAKARTA - Penyakit mematikan yang sekarang sedang merebak, COVID-19, bukanlah yang pertama kali terjadi di dunia. Sejarawan Universitas Indonesia (UI) Tri Wahyuning M Irsam mengatakan pandemi virus corona ini tidak jauh berbeda dengan Flu Spanyol pada 1918.

Menurutnya, penanganan Flu Spanyol oleh Pemerintah Hindia Belanda saat itu hampir sama dengan yang sekarang dilakukan. Pemerintah Hindia Belanda melakukan imbauan kepada masyarakat agar patuh menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, tinggal di rumah, dan menjaga kebersihan. Imbauan itu disampaikan menggunakan mobil kesehatan. Cara itu dinilai efektif untuk menyampaikan informasi mengenai wabah Flu Spanyol dan bahayanya.

"Secara rutin berkeliling kota. Dia seolah-olah mengingatkan bawah penyakit ini sifatnya mematikan. Jadi lebih baik tinggal di rumah, tetap menggunakan masker dan jagalah kebersihan. Itu disampaikan terus, terus, dan terus," katanya di Media Center Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Sabtu (1/8/2020).(Baca juga: Akui ‘Kalah Perang’, Sejuta Dokter-Perawat Usul Lockdown Baru Manila)

Cara lain yang digunakan Pemerintah Hindia Belanda untuk mengedukasi masyarakat dengan menerbitkan buku berjudul Lelara Influenza (Penyakit Influenza). Buku itu dialihbahasakan ke dalam cerita pewayangan dengan bantuan dalang.



Sejarawan lain, Kresno Brahmantyo mengungkapkan buku "Lelara Influenza" cukup populer meski masyarakat belum banyak yang dapat membaca. "Ada data yang menunjukkan peminjaman buku pada tahun 1920-1923 itu cukup tinggi," ucapnya.

Buku yang diterbitkan Balai Pustaka itu menjelaskan gejala dan penanganan Flu Spanyol. Isinya, banyak menekankan agar manusia tidak bertindak ceroboh. "Berhati-hatilah. Jangan sampai bertindak ceroboh yang bisa mengakibatkan munculnya debu. Orang yang terkena panas dan bantuk tidak boleh keluar rumah. Harus tidur atau istirahat saja," katanya.(Baca juga: Memprihatinkan, PB IDI: Sudah 72 Dokter Meninggal Akibat Covid-19)



Kresno memaparkan panduan penanganan dalam buku itu memerintah orang yang mengalami gejala harus diselimuti, kepala dikompres, dan tidak boleh mandi. Dalam menghadapi pandemi seperti ini, literasi masyarakat sangat penting. Dengan pemahaman yang baik tentang bahaya pandemi COVID-19 akan mempermudah penanganannya.
(abd)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak