Jelang Kongres IX di Banten, Ketum PB SEMMI Tegaskan Tak Ada Lagi Dualisme Organisasi
Selasa, 21 Juli 2026 - 00:56 WIB
loading...
Jelang Kongres IX di Banten, Ketum PB SEMMI Tegaskan Tak Ada Lagi Dualisme Organisasi. Foto/Dok SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Menjelang pelaksanaan Kongres IX Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI), seluruh elemen organisasi menegaskan komitmennya untuk kembali bersatu dalam satu kepemimpinan dan satu barisan perjuangan. Bobby Kurniawan bersama unsur-unsur yang sebelumnya berada dalam dinamika perbedaan kepemimpinan kini telah kembali bergabung di bawah kepemimpinan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) SEMMI, Bintang Wahyu Saputra.
Bersatunya kembali seluruh elemen SEMMI menjadi momentum penting untuk mengakhiri perbedaan dan perpecahan yang sempat terjadi di internal organisasi. Rekonsiliasi ini sekaligus menegaskan bahwa SEMMI merupakan satu organisasi yang berdiri dalam satu garis perjuangan dan berada di bawah satu kepemimpinan yang sah.
Ketua Umum PB SEMMI, Bintang Wahyu Saputra, mengatakan persatuan tersebut menjadi penanda dimulainya babak baru konsolidasi organisasi.
“Bersatunya kembali seluruh elemen organisasi menjadi penanda bahwa SEMMI hanya ada satu. Tidak ada lagi dualisme, tidak ada lagi sekat, dan tidak ada lagi barisan yang berjalan sendiri-sendiri. Seluruh kader kini kembali berdiri di bawah satu panji perjuangan untuk menyukseskan Kongres IX dan membangun masa depan SEMMI bersama,” kata Bintang kepada wartawan, Senin (20/7).
Menurut Bintang, perbedaan yang pernah terjadi harus dijadikan pembelajaran bagi seluruh kader agar setiap persoalan organisasi ke depan dapat diselesaikan melalui musyawarah, mekanisme konstitusional, serta semangat persaudaraan.
Ia menegaskan, persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan pandangan. Sebaliknya, persatuan adalah kemampuan menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi, kelompok, maupun faksi. Karena itu, seluruh energi kader harus diarahkan untuk memperkuat kaderisasi, memperluas konsolidasi, serta menjadikan SEMMI semakin relevan dalam menjawab tantangan umat, bangsa, dan negara.
Semangat rekonsiliasi tersebut menjadi landasan utama tema Kongres IX SEMMI, yakni "SEMMI Satu, Wujudkan Astacita". Menurut Bintang, tema itu bukan sekadar slogan, melainkan penegasan arah perjuangan organisasi. Frasa "SEMMI Satu" mencerminkan keberhasilan seluruh elemen kembali berada dalam satu rumah perjuangan, sedangkan "Wujudkan Astacita" menunjukkan kesiapan SEMMI untuk berkontribusi terhadap agenda pembangunan nasional dengan tetap menjaga independensi serta perannya sebagai mitra kritis pemerintah.
“Inilah makna ‘SEMMI Satu, Wujudkan Astacita’. Kita menyatukan organisasi, memperkuat kaderisasi, dan memastikan SEMMI hadir memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan negara. Kandidat boleh berbeda, tetapi setelah kongres seluruh kader harus kembali berada dalam satu barisan,” tegas Bintang.
Ia berharap Kongres IX menjadi kongres persatuan yang mampu menutup lembaran perpecahan sekaligus membuka babak baru regenerasi organisasi. Menurutnya, kongres bukan sekadar forum untuk memilih Ketua Umum PB SEMMI periode 2026–2029, tetapi juga momentum menyatukan gagasan, merumuskan arah perjuangan, dan memperkuat kembali persaudaraan seluruh kader SEMMI di Indonesia.
Karena itu, seluruh kandidat, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, serta peserta kongres diharapkan menjaga ketertiban dan mengedepankan musyawarah. Kompetisi harus berlangsung melalui adu gagasan, rekam jejak, dan kapasitas kepemimpinan, bukan melalui tindakan yang berpotensi memecah persatuan organisasi.
Bintang juga menegaskan bahwa siapa pun yang terpilih nantinya harus menjadi Ketua Umum bagi seluruh kader SEMMI, bukan hanya bagi kelompok pendukungnya. Setelah kongres berakhir, tidak boleh lagi ada kubu-kubuan. Seluruh kader harus kembali bekerja dalam satu komando dan satu arah perjuangan.
Bersatunya kembali seluruh elemen SEMMI menjadi momentum penting untuk mengakhiri perbedaan dan perpecahan yang sempat terjadi di internal organisasi. Rekonsiliasi ini sekaligus menegaskan bahwa SEMMI merupakan satu organisasi yang berdiri dalam satu garis perjuangan dan berada di bawah satu kepemimpinan yang sah.
Ketua Umum PB SEMMI, Bintang Wahyu Saputra, mengatakan persatuan tersebut menjadi penanda dimulainya babak baru konsolidasi organisasi.
“Bersatunya kembali seluruh elemen organisasi menjadi penanda bahwa SEMMI hanya ada satu. Tidak ada lagi dualisme, tidak ada lagi sekat, dan tidak ada lagi barisan yang berjalan sendiri-sendiri. Seluruh kader kini kembali berdiri di bawah satu panji perjuangan untuk menyukseskan Kongres IX dan membangun masa depan SEMMI bersama,” kata Bintang kepada wartawan, Senin (20/7).
Menurut Bintang, perbedaan yang pernah terjadi harus dijadikan pembelajaran bagi seluruh kader agar setiap persoalan organisasi ke depan dapat diselesaikan melalui musyawarah, mekanisme konstitusional, serta semangat persaudaraan.
Ia menegaskan, persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan pandangan. Sebaliknya, persatuan adalah kemampuan menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi, kelompok, maupun faksi. Karena itu, seluruh energi kader harus diarahkan untuk memperkuat kaderisasi, memperluas konsolidasi, serta menjadikan SEMMI semakin relevan dalam menjawab tantangan umat, bangsa, dan negara.
Semangat rekonsiliasi tersebut menjadi landasan utama tema Kongres IX SEMMI, yakni "SEMMI Satu, Wujudkan Astacita". Menurut Bintang, tema itu bukan sekadar slogan, melainkan penegasan arah perjuangan organisasi. Frasa "SEMMI Satu" mencerminkan keberhasilan seluruh elemen kembali berada dalam satu rumah perjuangan, sedangkan "Wujudkan Astacita" menunjukkan kesiapan SEMMI untuk berkontribusi terhadap agenda pembangunan nasional dengan tetap menjaga independensi serta perannya sebagai mitra kritis pemerintah.
“Inilah makna ‘SEMMI Satu, Wujudkan Astacita’. Kita menyatukan organisasi, memperkuat kaderisasi, dan memastikan SEMMI hadir memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan negara. Kandidat boleh berbeda, tetapi setelah kongres seluruh kader harus kembali berada dalam satu barisan,” tegas Bintang.
Ia berharap Kongres IX menjadi kongres persatuan yang mampu menutup lembaran perpecahan sekaligus membuka babak baru regenerasi organisasi. Menurutnya, kongres bukan sekadar forum untuk memilih Ketua Umum PB SEMMI periode 2026–2029, tetapi juga momentum menyatukan gagasan, merumuskan arah perjuangan, dan memperkuat kembali persaudaraan seluruh kader SEMMI di Indonesia.
Karena itu, seluruh kandidat, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, serta peserta kongres diharapkan menjaga ketertiban dan mengedepankan musyawarah. Kompetisi harus berlangsung melalui adu gagasan, rekam jejak, dan kapasitas kepemimpinan, bukan melalui tindakan yang berpotensi memecah persatuan organisasi.
Bintang juga menegaskan bahwa siapa pun yang terpilih nantinya harus menjadi Ketua Umum bagi seluruh kader SEMMI, bukan hanya bagi kelompok pendukungnya. Setelah kongres berakhir, tidak boleh lagi ada kubu-kubuan. Seluruh kader harus kembali bekerja dalam satu komando dan satu arah perjuangan.
(zik)
Lihat Juga :