Membangun Kritik Santun di Media Sosial untuk Ciptakan Iklim Demokrasi Kondusif
Sabtu, 12 Agustus 2023 - 15:29 WIB
loading...
Kurangnya literasi digital menyebabkan masyarakat tidak bijak dalam menyampaikan pendapat atau gagasannya di media sosial. FOTO/DOK.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Aspirasi dan kritik dinilai unsur yang harus tumbuh dalam negara demokrasi . Sayangnya, kebanyakan masyarakat masih kabur antara kritik dan ujaran kebencian yang dapat mencederai persatuan bangsa, terutama menjelang tahun politik di Pemilu 2024.
Pandangan ini disampaikan Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Deden Mauli Darajat menanggapi maraknya pendapat, kritik, atau ujaran kebencian di media sosial. Menurutnya, media sosial menjadi salah satu alternatif untuk menyuarakan pendapat di saat media mainstream tidak memberikan tempat kepada khalayak, terlebih jarang menampilkan gagasan, kritik dari anak muda.
Namun yang menjadi persoalan, kata Deden, kurangnya literasi digital menyebabkan masyarakat tidak bijak dalam menyampaikan pendapat atau gagasannya. Seseorang dengan mudah berpendapat atau memviralkan opini negatif yang menimbulkan kerentanan polemik antar anak bangsa.
"Kekurangan pemahaman tentang literasi digital inilah yang kemudian masih maraknya hate speech dan hoax. Kita, misalnya bertanggung jawab untuk mengingatkan lingkungan di sekitar kita untuk mengurangi hate speech dan hoax," ujar Deden di Jakarta, Sabtu (12/8/2023).
Pandangan ini disampaikan Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Deden Mauli Darajat menanggapi maraknya pendapat, kritik, atau ujaran kebencian di media sosial. Menurutnya, media sosial menjadi salah satu alternatif untuk menyuarakan pendapat di saat media mainstream tidak memberikan tempat kepada khalayak, terlebih jarang menampilkan gagasan, kritik dari anak muda.
Namun yang menjadi persoalan, kata Deden, kurangnya literasi digital menyebabkan masyarakat tidak bijak dalam menyampaikan pendapat atau gagasannya. Seseorang dengan mudah berpendapat atau memviralkan opini negatif yang menimbulkan kerentanan polemik antar anak bangsa.
"Kekurangan pemahaman tentang literasi digital inilah yang kemudian masih maraknya hate speech dan hoax. Kita, misalnya bertanggung jawab untuk mengingatkan lingkungan di sekitar kita untuk mengurangi hate speech dan hoax," ujar Deden di Jakarta, Sabtu (12/8/2023).
Lihat Juga :