Utamakan Akal Sehat, Kunci Selamat dari Bias Informasi di Era Digital
Senin, 07 Agustus 2023 - 21:49 WIB
loading...
Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Perubahan kebiasaan manusia era modern dalam cara berkomunikasi berpengaruh terhadap pembentukan persepsi masyarakat. Saat ini, persepsi terhadap kebenaran bukan tergantung dari seberapa terujinya suatu substansi, tapi lebih kepada bias personal dan popularitas semata.
Hal ini disampaikan pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail, Senin (7/8/2023). Menurutnya, dalam mencari dan mencerna suatu informasi, perilaku manusia zaman modern cenderung mengambil informasi yang ia butuhkan hanya dari sumber yang membenarkan apa yang telah ia yakini. Dalam dunia psikologi bias kognitif ini sering disebut dengan motivated reasoning atau confirmation bias.
"Ketika kita mencari informasi, kita cenderung sudah punya pemahaman, cara pandang, atau stigma tertentu, lalu kita mencari informasi untuk membenarkan pemahaman atau cara pandang kita tadi. Hal ini terjadi bahkan sebelum adanya media sosial. Dengan adanya media sosial, kecenderungan terjadinya bias kognitif itu menjadi lebih kuat lagi," kata Noor Huda.
Keadaan seperti ini diperparah dengan munculnya algoritma dalam layanan mesin pencarian atau search engine seperti Google atau Bing. Sebagai contoh, penggemar klub bola Arsenal, maka kalau nge-klik Arsenal, seluruh informasinya itu yang berkaitan dengan klub Arsenal saja. Klub bola lain seperti Manchester United jelas tidak akan muncul.
Dalam cara memahami ajaran agama tertentu, kalau sudah meng-klik misalnya al-wala wal bara', istilah, atau acara tertentu yang didorong oleh kelompok pro kekerasan, cenderung akan hanya menerima informasi yang sama. Di dunia akademis hal ini disebut dengan filter bubble.
Hal ini disampaikan pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail, Senin (7/8/2023). Menurutnya, dalam mencari dan mencerna suatu informasi, perilaku manusia zaman modern cenderung mengambil informasi yang ia butuhkan hanya dari sumber yang membenarkan apa yang telah ia yakini. Dalam dunia psikologi bias kognitif ini sering disebut dengan motivated reasoning atau confirmation bias.
"Ketika kita mencari informasi, kita cenderung sudah punya pemahaman, cara pandang, atau stigma tertentu, lalu kita mencari informasi untuk membenarkan pemahaman atau cara pandang kita tadi. Hal ini terjadi bahkan sebelum adanya media sosial. Dengan adanya media sosial, kecenderungan terjadinya bias kognitif itu menjadi lebih kuat lagi," kata Noor Huda.
Keadaan seperti ini diperparah dengan munculnya algoritma dalam layanan mesin pencarian atau search engine seperti Google atau Bing. Sebagai contoh, penggemar klub bola Arsenal, maka kalau nge-klik Arsenal, seluruh informasinya itu yang berkaitan dengan klub Arsenal saja. Klub bola lain seperti Manchester United jelas tidak akan muncul.
Dalam cara memahami ajaran agama tertentu, kalau sudah meng-klik misalnya al-wala wal bara', istilah, atau acara tertentu yang didorong oleh kelompok pro kekerasan, cenderung akan hanya menerima informasi yang sama. Di dunia akademis hal ini disebut dengan filter bubble.
Lihat Juga :