Utamakan Akal Sehat, Kunci Selamat dari Bias Informasi di Era Digital
Senin, 07 Agustus 2023 - 21:49 WIB
loading...
A
A
A
"Kita membuat bubble atau ruang kita sendiri berdasarkan dari filter atau pencarian yang kita lakukan. Inilah fenomena saat ini yang mengakibatkan polarisasi, yang berhaluan kanan jadi kanan banget, yang kiri jadi kiri banget, haluan tengah menjadi kosong," kata Noor Huda.
Peraih gelar Ph.D dari Monash University ini menegaskan pentingnya mencari sumber informasi pembanding dari apa yang sudah diyakini. Semua orang perlu mengadopsi tradisi berpikir kritis, untuk bisa membedakan bahwa apa yang di internet belum tentu semuanya benar. Kemampuan membandingkan suatu informasi dengan hal yang sama, namun dari sumber dan perspektif yang berbeda menjadi penting.
Menurutnya, tren medium yang digunakan serta kecenderungan cara berkomunikasi masyarakat dunia memang telah berubah. Sekarang percakapan baru ada setiap detik, komunikasi serba cepat saat ini dianggap sebagai sebuah kebenaran. Saat ini masyarakat di seluruh dunia cenderung tidak melihat mana yang benar, tapi justru mana yang viral.
"Kalau nggak viral ya dia tidak diperhatikan, tapi yang follower-nya banyak justru diperhatikan. Ini adalah jenis kebenaran baru, maka dalam dunia akademisi fenomena ini disebut sebagai 'the death of expert', kematian para pakar. Sebagai contoh, gue yang bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri, kredibilitasnya bisa kalah oleh selebgram seperti Atta Halilintar di mata masyarakat saat ini," kata Noor Huda.
Pengamat isu terorisme ini juga menyoroti pentingnya belajar teknologi sebagai suatu kenyataan yang tak terelakkan. Ini berlaku mulai dari masyarakat lapisan terbawah, hingga para pejabat yang memegang kendali. Ketika di suatu negara para pemangku kepentingannya tidak memahami perkembangan teknologi, tentu akan berdampak buruk terhadap kebijakan atau keputusan yang diambil.
Peraih gelar Ph.D dari Monash University ini menegaskan pentingnya mencari sumber informasi pembanding dari apa yang sudah diyakini. Semua orang perlu mengadopsi tradisi berpikir kritis, untuk bisa membedakan bahwa apa yang di internet belum tentu semuanya benar. Kemampuan membandingkan suatu informasi dengan hal yang sama, namun dari sumber dan perspektif yang berbeda menjadi penting.
Menurutnya, tren medium yang digunakan serta kecenderungan cara berkomunikasi masyarakat dunia memang telah berubah. Sekarang percakapan baru ada setiap detik, komunikasi serba cepat saat ini dianggap sebagai sebuah kebenaran. Saat ini masyarakat di seluruh dunia cenderung tidak melihat mana yang benar, tapi justru mana yang viral.
"Kalau nggak viral ya dia tidak diperhatikan, tapi yang follower-nya banyak justru diperhatikan. Ini adalah jenis kebenaran baru, maka dalam dunia akademisi fenomena ini disebut sebagai 'the death of expert', kematian para pakar. Sebagai contoh, gue yang bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri, kredibilitasnya bisa kalah oleh selebgram seperti Atta Halilintar di mata masyarakat saat ini," kata Noor Huda.
Pengamat isu terorisme ini juga menyoroti pentingnya belajar teknologi sebagai suatu kenyataan yang tak terelakkan. Ini berlaku mulai dari masyarakat lapisan terbawah, hingga para pejabat yang memegang kendali. Ketika di suatu negara para pemangku kepentingannya tidak memahami perkembangan teknologi, tentu akan berdampak buruk terhadap kebijakan atau keputusan yang diambil.
Lihat Juga :