Menengok Sapardi: Sastra dan Pendidikan
Senin, 07 Agustus 2023 - 11:55 WIB
loading...
Kemala Atmojo - Peminat Filsafat, Hukum, dan Seni. Foto/Dok Pribadi
A
A
A
Kemala Atmojo
Peminat Filsafat, Hukum, dan Seni.
Tak ada sastrawan Indonesia yang tak kenal Sapardi Djoko Damono (SDD). Karya-karyanya bertebaran dan menjadi bahan kajian banyak mahasiswa. Tapi kali ini Saparti tidak menulis puisi atau novel. SDD esai yang dikumpulkan menjadi buku bertajuk Sastra dan Pendidikan. Buku ini diterbitkan oleh Pabrik Tulisan, dan berisi kumpulan 8 (delapan) tulisannya.
Di alenia terakhir tulisan pertama yang berjudul Kegiatan Sastra di Sekolah, Sapardi menulis: “Dalam hal apresiasi sastra, guru sebaiknya berfungsi sebagai ‘rekan’ yang lebih tua, yang lebih berpengalaman, yang bersama-sama dengan murid-muridnya berusaha memahami karya sastra. Guru sastra adalah ‘sekadar’ pendamping murid-muridnya dalam usaha mengungkapkan penghayatan, tanggapan, dan penilaian pengarang terhadap kehidupan.”
Meski tidak sama persis, hal itu cukup membuat saya teringat pada tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Kita tahu, ada tiga semboyan pendidikan yang dipopulerkan oleh Ki Hadjar, yakni – pertama-- Ing Ngarsa Sung Tuladha, yang artinya seorang pendidik selalu berada di depan untuk memberi teladan. Ia adalah penimpin yang memberi contoh dalam perkataan dan perbuatannya sehingga pantas diteladani oleh para murid.
Kedua, Ing Madya Mangun Karsa, yang berarti seorang pendidik selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus menerus memotivasi peserta didiknya untuk berkarya, mengembankan minat, memberi semangat, dan menumbuhkan ide-ide agar peserta didiknya produktif dalam berkarya.
Ketiga, Tut Wuri Handayani, maksudnya adalah seorang pendidik selalu mendukung dan menopang para muridnya untuk berkarya ke arah yang benar bagi hidup masyarakat. Pendidik mengikuti para muridnya dari belakang, memberi kemerdekaan bergerak sekaligus mempengaruhi mereka.
Peminat Filsafat, Hukum, dan Seni.
Tak ada sastrawan Indonesia yang tak kenal Sapardi Djoko Damono (SDD). Karya-karyanya bertebaran dan menjadi bahan kajian banyak mahasiswa. Tapi kali ini Saparti tidak menulis puisi atau novel. SDD esai yang dikumpulkan menjadi buku bertajuk Sastra dan Pendidikan. Buku ini diterbitkan oleh Pabrik Tulisan, dan berisi kumpulan 8 (delapan) tulisannya.
Di alenia terakhir tulisan pertama yang berjudul Kegiatan Sastra di Sekolah, Sapardi menulis: “Dalam hal apresiasi sastra, guru sebaiknya berfungsi sebagai ‘rekan’ yang lebih tua, yang lebih berpengalaman, yang bersama-sama dengan murid-muridnya berusaha memahami karya sastra. Guru sastra adalah ‘sekadar’ pendamping murid-muridnya dalam usaha mengungkapkan penghayatan, tanggapan, dan penilaian pengarang terhadap kehidupan.”
Meski tidak sama persis, hal itu cukup membuat saya teringat pada tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Kita tahu, ada tiga semboyan pendidikan yang dipopulerkan oleh Ki Hadjar, yakni – pertama-- Ing Ngarsa Sung Tuladha, yang artinya seorang pendidik selalu berada di depan untuk memberi teladan. Ia adalah penimpin yang memberi contoh dalam perkataan dan perbuatannya sehingga pantas diteladani oleh para murid.
Kedua, Ing Madya Mangun Karsa, yang berarti seorang pendidik selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus menerus memotivasi peserta didiknya untuk berkarya, mengembankan minat, memberi semangat, dan menumbuhkan ide-ide agar peserta didiknya produktif dalam berkarya.
Ketiga, Tut Wuri Handayani, maksudnya adalah seorang pendidik selalu mendukung dan menopang para muridnya untuk berkarya ke arah yang benar bagi hidup masyarakat. Pendidik mengikuti para muridnya dari belakang, memberi kemerdekaan bergerak sekaligus mempengaruhi mereka.
Lihat Juga :