Wakil Ketua KPK Nurul Gufron Sebut Masih Mengkaji Masalah POP Kemendikbud

Rabu, 29 Juli 2020 - 14:09 WIB
loading...
Wakil Ketua KPK Nurul...
Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron mengatakan lembaganya masih mengkaji kisruh Program Organisasi Penggerak (POP) yang dicanangkan Kemendikbud. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Polemik Program Organisasi Penggerak (POP) yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) belum selesai. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mengawasi pelaksanaan program ini. POP menjadi masalah setelah muncul nama Sampoerna dan Tanoto Foundation sebagai lembaga yang lolos. Keduanya mendapatkan kategori gajah dengan anggaran Rp20 miliar per tahun.

Masalah semakin pelik karena sejumlah ormas besar seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) memilih mundur dari POP. Belakangan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meminta maaf dan mengajak ketiga lembaga pendidikan itu kembali ke mengikuti POP. (Baca juga: Program Organisasi Penggerak Jadi Polemik, KPK 'Panggil' Mendikbud)

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron mengatakan lembaganya masih mengkaji kisruh POP ini. kehadiran KPK ini bisa untuk mencegah dan menindak dugaan pidana korupsi dalam proses penyaluran dana dari pemerintah ke organisasi pendidikan yang lolos POP. “KPK hadir tidak menjadi watch dog, misalnya anjing nunggu tikus keluar dari lubang baru dikejar. KPK sekarang, sebelum tikus keluar, anjingnya sudah masuk ke dalam lubang,” ujarnya dalam webinar dengan tema “Mengukur Integritas Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendikbud), Rabu (29/7/2020).

KPK sepertinya ingin mengedepankan pencegahan korupsi dari setiap program pemerintah saat ini. Nurul menerangkan KPK bisa menangkap para pelaku tindak pidana korupsi setelah terjadi kerugian negara. Namun, saat ini di tengah pandemi Covid-19 dana negara sangat dibutuhkan oleh rakyat. Sementara itu, jika korupsi telah terjadi, proses hukum dan pengembalian kerugian negara membutuhkan waktu 1-2 tahun. (Baca juga: Sambangi Muhammadiyah, Mendikbud Nadiem Makarim Bungkam)

KPK konsen dengan situasi dunia pendidikan Indonesia saat ini. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) banyak menimbulkan masalah, mulai dari siswa tidak memiliki gawai, mampu membeli kuota, hingga ada jaringan internet di daerah pelosok. Nurul mengungkapkan ada anak dan orang tua yang berkonflik karena masalah pembelian kuota internet. KPK ingin penggunaan anggaran negara di tengah pandemi Covid-19 ini tepat sasaran.

KPK hadir sejak proses pendaftaran POP karena ingin memastikan program ini tidak hanya bagus di permukaan. Namun, program ini harus bagus dalam implementasi di lapangan. “Kami hadir untuk menjaga efektivitas dari POP. Walaupun efektif tetap harus dijaga efisiensinya. Jangan sampai dari Jakarta ke Surabaya sampai tapi boros. Mestinya 500 liter tapi malah 2.000 liter,” katanya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mahfud MD Ungkap Alasan...
Mahfud MD Ungkap Alasan KPK Harus Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah, Singgung Asas Konflik Kepentingan
3 Tersangka Kasus Suap...
3 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Pokmas Jatim Beri Rp6,9 M agar Dapat Jatah
KPK Panggil Bupati Penajam...
KPK Panggil Bupati Penajam Paser Utara terkait Kasus Gratifikasi di Kukar
KPK Sebut OTT Bupati...
KPK Sebut OTT Bupati Lombok Barat Naik ke Tahap Penyidikan
Yusril Sebut KPK Bisa...
Yusril Sebut KPK Bisa Ambil Alih Perkara Febrie Adriansyah
Laporan Amplop Menhut...
Laporan Amplop Menhut Raja Juli, KPK: Yang Dilaporkan hanya Berita Acara Pengembalian, Nominalnya Tidak
Bupati Lombok Barat...
Bupati Lombok Barat Terjaring OTT KPK, 7 Orang Langsung Diboyong ke Jakarta
PASTI Indonesia Minta...
PASTI Indonesia Minta KPK Soroti Pengelolaan PDRD Raja Ampat Tahun 2025
Kasus Dugaan Korupsi...
Kasus Dugaan Korupsi Bupati Fadia Arafiq Dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Semarang
Rekomendasi
Tafsir Surat Al Kahfi...
Tafsir Surat Al Kahfi Ayat 1-10 : Siapa yang Rutin Membacanya akan Dilindungi dari Dajjal
4 Negara Bebas Kewajiban...
4 Negara Bebas Kewajiban Parkir DHE SDA di Himbara, Pemerintah Beri Kelonggaran
Pertamina Trans Kontinental...
Pertamina Trans Kontinental Ajak Siswa Lestarikan Ekosistem Laut
Berita Terkini
Alasan Hotman Paris...
Alasan Hotman Paris Tidak Khawatir soal Ucapannya 'Lu Punya Otak Gak?' Dilaporkan ke Polisi
Kejagung Dijadwalkan...
Kejagung Dijadwalkan Periksa Febrie Adriansyah Hari Ini, Sebelumnya Mangkir
Pakar: Pertemuan Kapolri-Direktur...
Pakar: Pertemuan Kapolri-Direktur FBI Langkah Strategis Hadapi Kejahatan Transnasional
Sebut 108 UU Perlu Diubah,...
Sebut 108 UU Perlu Diubah, Cak Imin: Omnibus Law Ciptaker hingga Agraria
KPK: Sebelum Serahkan...
KPK: Sebelum Serahkan Amplop ke Menhut, Bupati Kuansing Kumpulkan SGD 46.500
PPATK Ungkap Perputaran...
PPATK Ungkap Perputaran Dana Judi Online Turun hingga Rp286,84 Triliun di Era Prabowo
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved