Erdogan, Hagia Sophia, dan Neo-Ottomanisme

Selasa, 28 Juli 2020 - 06:52 WIB
loading...
A A A
Ataturk terus melakukan gebrakan politik. Pengadilan Islam dihapus pada 1926 dan diganti dengan sistem hukum Swiss. Lafaz azan dalam bahasa Arab diganti dengan bahasa Turki. Dinilai kolot, semua organisasi tarekat dibubarkan. Dipandang sebagai atribut keislaman, hijab dilarang di kantor pemerintahan, pengadilan, dan universitas. Ataturk melarang pemakaian tarbush (topi tradisional Turki) karena dianggap kuno dan usang. Gebrakan lain yang dilakukan Kemal Ataturk adalah mengubah Hagia Sophia dari masjid menjadi museum. Sejak dibuka kembali pada 1935 untuk umum, tempat ini menjadi salah satu tempat wisata paling banyak dikunjungi di Turki. Hagia Sophia yang bangunannya sudah berusia sekira 1.500 tahun memiliki makna keagamaan, spiritual, dan politik yang signifikan bagi kelompok-kelompok di dalam dan di luar Turki. Selain mengubah Hagia Sophia menjadi museum, Ataturk juga mengubah nama Kota Islambol menjadi Istanbul.

Erdogan dan Hagia Sophia
Pada 24 Juni 2018, Turki menggelar pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) secara serentak. Tercatat sebanyak 59,39 juta pemilih yang terdaftar (termasuk 3,047 juta pemilih di luar negeri). Pilpres Turki 2018 diikuti oleh enam capres, yaitu Recep Tayyip Erdogan (calon petahana), Muharrem Ince, Selahattin Demirtas, Meral Aksener, Temel Karamollaoglu, dan Dogu Perincek. Di Pilpres 2018 ini, Erdogan terpilih kembali sebagai Presiden Turki. Kemenangan ini semakin memperkuat posisi dirinya sebagai kepala negara dan pemerintahan sekaligus memperkuat pula posisi partainya (Partai Keadilan dan Pembangunan/PKP) sebagai the ruling party.

Mengapa Erdogan dan partainya yang berhaluan Islam mendapat dukungan luas dari rakyat? Paling tidak ada tiga faktor. Pertama, pemerintahan Erdogan yang didukung kuat oleh PKP berhasil menyejahterakan kehidupan rakyat dengan program perbaikan ekonomi secara signifikan. Kedua, di bawah pemerintahan Erdogan, nilai mata uang Turki stabil dan harga-harga barang terkendali. Ketiga, di bawah pemerintahan Erdogan, banyak investasi dari luar masuk dan ini sudah tentu menciptakan lapangan kerja lebih luas bagi rakyat. Pemerintahan Erdogan yang didukung kuat oleh partainya, PKP, dan mitra koalisinya memberikan banyak kemaslahatan kepada rakyat.

Terkait Hagia Sophia, kelompok-kelompok muslim yang taat menghendaki agar bangunan itu dikembalikan menjadi masjid. Mereka memprotes Undang-Undang 1931 yang isinya melarang praktik keagamaan di situs tersebut. Merespons aspirasi kelompok-kelompok muslim ini, Presiden Erdogan memberikan perhatian khusus terhadap aspirasi mereka. Dalam pidato kampanye menjelang pemilihan lokal tahun lalu, dia mengatakan "kesalahan sangat besar" mengubah Hagia Sophia menjadi museum. Sebagai tindak lanjutnya, pada 10 Juli 2020, Presiden Erdogan mengeluarkan keputusan presiden yang isinya memfungsikan kembali Hagia Sophia sebagai masjid.

Pengumuman Erdogan ini disampaikan setelah Majelis Negara Turki membatalkan keputusan kabinet tahun 1931 dan kembali memfungsikan Hagia Sophia sebagai masjid. Salat Jumat pertama di Hagia Sophia dilaksanakan pada 24 Juli 2020. Keputusan Presiden Erdogan memfungsikan kembali Hagia Sophia sebagai masjid menuai kekecewaan dan bahkan protes dari berbagai negara di Eropa. Tapi, Erdogan mengatakan bahwa kebijakannya merupakan persoalan internal Turki.
(ras)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Ribuan Masyarakat Antusias...
Ribuan Masyarakat Antusias Ikuti Breakfast Jakarta Bersih di Kemendikdasmen
Suhud Alynudin Dilantik...
Suhud Alynudin Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Jakarta
Jarak Tempuh Mobil Listrik...
Jarak Tempuh Mobil Listrik Volvo XC60 Kini Bertambah Tiga Kali Lipat
Berita Terkini
Edukasi Holistik Nikotin...
Edukasi Holistik Nikotin Ungkap Fakta Ini
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Tegaskan Buruh Tetap Bisa Demo Sesuai Aturan
KPK Tahan 2 Tersangka...
KPK Tahan 2 Tersangka Kasus Kuota Haji
HUT ke-80, SPS: Fondasi...
HUT ke-80, SPS: Fondasi Pers Nasional Terletak pada Integritas, Profesionalisme, dan Kepentingan Publik
Delegasi Indonesia Soroti...
Delegasi Indonesia Soroti Kerja Paksa Myanmar dan Krisis Rohingya di Sidang ILO Jenewa
Demi Framing, Pengamat...
Demi Framing, Pengamat Menilai Jusuf Hamka Catut Nama Mbak Tutut dan TPI ke Polemik CMNP dengan MNC Asia
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved