Piala Dunia U-17 untuk Persatuan Indonesia
Senin, 03 Juli 2023 - 07:02 WIB
loading...
A
A
A
baca juga: Daftar Lengkap Peserta Piala Dunia U-17 2023
Selain itu Infantino juga memaparkan sepak bola bisa memberikan dampak sosial; menyebarkan nilai kemanusiaan; menjadi investasi yang baik; mengampanyekan toleransi, inklusivitas, non-diskriminasi; serta membantu pengembangan pendidikan bagi generasi muda.
Apa yang disampaikan Infantino tidaklah berlebihan. Perjalanan sepak bola modern telah memberikan banyak kontribusi positif bagi umat manusia, terutama sebagai sarana menghadirkan persatuan dan perdamaian. Kondisi demikian terjadi karena dalam sepak bola latar belakang suku, agama, ras, hingga politik tidak menjadi penghalang kebersamaan. Para suporter fokus mendukung pemain atau tim idola tanpa memandang latar belakang.
Berdasar sejumlah catatan, peran strategis sepak bola ini menorehkan tinta emas pada sejumlah momen historis. Di antaranya kala legenda sepakbola asal Brazil, Pele, berhasil menghentikan menghentikan perang saudara di Nigeria saat datang ke Nigeria pada 1967 Pele. Hal ini terjadi karena dua kubu yang berseteru di negeri tersebut bersepakat melakukan gencatan senjata selama 48 jam demi bisa menikmati Pele memainkan si kulit bundar.
baca juga: 5 Finalis Ballon d'Or Jebolan Piala Dunia U-17
Perang saudara di Pantai Gading serta-merta berhenti saat Didier Drogba dkk sukses mengalahkan Sudan dengan skor akhir 3-1 dan memastikan negeri di benua hitam itu lolos ke Piala Dunia 2006. Usai pertandingan, Didier Drogba dan pemain Timnas Pantai Gading berlutut di hadapan sebuah mik dan memohon agar masyarakatnya yang sedang berseteru bisa berdamai. Sejak saat itu sepakbola menjadi simbol perdamaian di Pantai Gading.
Efek positif sepak bola juga dirasakan masyarakat Irak yang pernah diguncang perang saudara yang melibatkan suku Syiah, Kurdi, dan Sunni. Kisah ini terjadi pada Piala Asia 2007 yang kebetulan digelar di Indonesia. Saat bertemu Arab Saudi pada partai final dan menjadi kampiun, Irak berhasil menang dengan skor tipis 1-0. Yang istimewa, gol kemenangan itu dicetak Younis Mahmoud yang berasal dari kelompok Suni berkat umpan matang Hawar Taher dari suku Kurdi.
Konon, Indonesia juga pernah merasakan dampak manis sepak bola. Momen terjadi saat pecah kerusuhan era reformasi pasca-tumbangnya Presiden Soeharto pada 1998. Kerusuhan dan ketegangan itu serta-merta mereda pada 10 Juni 1998 bertepatan dengan kick-off Piala Dunia 1998. Setelah itu, kerusuhan yang sempat menjalar ke beberapa kota di Indonesia hampir tidak terjadi lagi.
baca juga: 3 Alasan Piala Dunia U-17 Digelar di Indonesia
Sepak bola juga berperan menyatukan kembali masyarakat Maluku yang terpecah-belah akibat konflik SARA. Kisah nyata masyarakat Maluku menemukan persatuan dan perdamaian dari sepakbola bahkan diangkat dalam layar lebar berjudul Cahaya dari Timur: Beta Maluku. Tokoh bernama Sani Tawainella yang dipercaya menjadi pelatih Tim Maluku di kompetisi PSSI U-15 menyatuk-padukan remaja dari Tulehu dan Passo hingga tampil sebagai juara dalam kompetisi PSSI U-15.
Racikan Sani bukan hanya mengembalikan persaudaraan masyarakat Maluku atau pela gandong, tapi sukses mengorbitkan sejumlah nama dalam kancah sepak bola profesional Tanah Air seperti Alvin Ismail Tuasalamony, Rizky Pellu, dan Hendra Adi Bayao.
Melihat peran dan dampak konstruktif sepak bola tersebut, pada 2013 pesepak bola Inggris kelahiran Pakistan, Kashif Siddiqi, dan legenda sepak bola dari Chile, Elias Figueroa, mendirikan organisasi bernama Football for Peace (FFP). Pendiriannya ditujukan untuk mengatasi perpecahan, budaya rasis, kekerasan, dan sikap negatif yang ada di seluruh dunia. Kampanye yang diawali di kawasan Amerika Selatan dengan semboyan ‘’Futbol Por la Paz (Sepak Bola untuk Perdamaian)” pada 2006 kemudian dibawa ke Eropa, Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Timur Jauh.
Demi Sukses Piala Dunia dan Timnas
Kegagalan Indonesia menggelar Piala Dunia U-20 2023 secara langsung atau tidak langsung mengindikasikan adanya intervensi politik sebagai imbas pertarungan menuju Pilpres 2024. Dengan berbalut sikap anti-Israel, pragmatisme politik telah mengubur mimpi Robi Darwis, Rabbani Tasnim dan kawan-kawan untuk bisa tampil di ajang bergengsi dunia tersebut dan memupus harapan penggemar sepak bola Tanah Air bisa menyaksikan Piala Dunia secara langsung.
baca juga: FIFA Tunjuk Indonesia Tuan Rumah Piala Dunia U-17
Selain itu Infantino juga memaparkan sepak bola bisa memberikan dampak sosial; menyebarkan nilai kemanusiaan; menjadi investasi yang baik; mengampanyekan toleransi, inklusivitas, non-diskriminasi; serta membantu pengembangan pendidikan bagi generasi muda.
Apa yang disampaikan Infantino tidaklah berlebihan. Perjalanan sepak bola modern telah memberikan banyak kontribusi positif bagi umat manusia, terutama sebagai sarana menghadirkan persatuan dan perdamaian. Kondisi demikian terjadi karena dalam sepak bola latar belakang suku, agama, ras, hingga politik tidak menjadi penghalang kebersamaan. Para suporter fokus mendukung pemain atau tim idola tanpa memandang latar belakang.
Berdasar sejumlah catatan, peran strategis sepak bola ini menorehkan tinta emas pada sejumlah momen historis. Di antaranya kala legenda sepakbola asal Brazil, Pele, berhasil menghentikan menghentikan perang saudara di Nigeria saat datang ke Nigeria pada 1967 Pele. Hal ini terjadi karena dua kubu yang berseteru di negeri tersebut bersepakat melakukan gencatan senjata selama 48 jam demi bisa menikmati Pele memainkan si kulit bundar.
baca juga: 5 Finalis Ballon d'Or Jebolan Piala Dunia U-17
Perang saudara di Pantai Gading serta-merta berhenti saat Didier Drogba dkk sukses mengalahkan Sudan dengan skor akhir 3-1 dan memastikan negeri di benua hitam itu lolos ke Piala Dunia 2006. Usai pertandingan, Didier Drogba dan pemain Timnas Pantai Gading berlutut di hadapan sebuah mik dan memohon agar masyarakatnya yang sedang berseteru bisa berdamai. Sejak saat itu sepakbola menjadi simbol perdamaian di Pantai Gading.
Efek positif sepak bola juga dirasakan masyarakat Irak yang pernah diguncang perang saudara yang melibatkan suku Syiah, Kurdi, dan Sunni. Kisah ini terjadi pada Piala Asia 2007 yang kebetulan digelar di Indonesia. Saat bertemu Arab Saudi pada partai final dan menjadi kampiun, Irak berhasil menang dengan skor tipis 1-0. Yang istimewa, gol kemenangan itu dicetak Younis Mahmoud yang berasal dari kelompok Suni berkat umpan matang Hawar Taher dari suku Kurdi.
Konon, Indonesia juga pernah merasakan dampak manis sepak bola. Momen terjadi saat pecah kerusuhan era reformasi pasca-tumbangnya Presiden Soeharto pada 1998. Kerusuhan dan ketegangan itu serta-merta mereda pada 10 Juni 1998 bertepatan dengan kick-off Piala Dunia 1998. Setelah itu, kerusuhan yang sempat menjalar ke beberapa kota di Indonesia hampir tidak terjadi lagi.
baca juga: 3 Alasan Piala Dunia U-17 Digelar di Indonesia
Sepak bola juga berperan menyatukan kembali masyarakat Maluku yang terpecah-belah akibat konflik SARA. Kisah nyata masyarakat Maluku menemukan persatuan dan perdamaian dari sepakbola bahkan diangkat dalam layar lebar berjudul Cahaya dari Timur: Beta Maluku. Tokoh bernama Sani Tawainella yang dipercaya menjadi pelatih Tim Maluku di kompetisi PSSI U-15 menyatuk-padukan remaja dari Tulehu dan Passo hingga tampil sebagai juara dalam kompetisi PSSI U-15.
Racikan Sani bukan hanya mengembalikan persaudaraan masyarakat Maluku atau pela gandong, tapi sukses mengorbitkan sejumlah nama dalam kancah sepak bola profesional Tanah Air seperti Alvin Ismail Tuasalamony, Rizky Pellu, dan Hendra Adi Bayao.
Melihat peran dan dampak konstruktif sepak bola tersebut, pada 2013 pesepak bola Inggris kelahiran Pakistan, Kashif Siddiqi, dan legenda sepak bola dari Chile, Elias Figueroa, mendirikan organisasi bernama Football for Peace (FFP). Pendiriannya ditujukan untuk mengatasi perpecahan, budaya rasis, kekerasan, dan sikap negatif yang ada di seluruh dunia. Kampanye yang diawali di kawasan Amerika Selatan dengan semboyan ‘’Futbol Por la Paz (Sepak Bola untuk Perdamaian)” pada 2006 kemudian dibawa ke Eropa, Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Timur Jauh.
Demi Sukses Piala Dunia dan Timnas
Kegagalan Indonesia menggelar Piala Dunia U-20 2023 secara langsung atau tidak langsung mengindikasikan adanya intervensi politik sebagai imbas pertarungan menuju Pilpres 2024. Dengan berbalut sikap anti-Israel, pragmatisme politik telah mengubur mimpi Robi Darwis, Rabbani Tasnim dan kawan-kawan untuk bisa tampil di ajang bergengsi dunia tersebut dan memupus harapan penggemar sepak bola Tanah Air bisa menyaksikan Piala Dunia secara langsung.
baca juga: FIFA Tunjuk Indonesia Tuan Rumah Piala Dunia U-17
Lihat Juga :