Pandemi Jadi Tantangan Wujudkan Indonesia Layak Anak 2030
Minggu, 26 Juli 2020 - 18:38 WIB
loading...
A
A
A
Dia juga menekankan bahwa anak bukan individu dewasa mini sehingga memarahi anak dengan cara yang berlebih, apalagi ditambah dengan munculnya pandemi, bisa berakibat pada minimnya ruang-ruang interaksi sosial anak dengan teman seusianya.
Itu dapat merusak struktur pskilogi anak dan berdampak langsung pada proses tumbuh kembangnya.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Badikenita Sitepu, mengungkapkan pentingnya pemerataan infrastruktur pendukung pendidikan bagi anak–anak di Indonesia.
Penekanan senator asal Provinsi Sumatera Selatan ini sejalan dengan data potensi desa yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) 2018. Disparitas infrastruktur pendukung kegiatan belajar seperti internet dan televisi di setiap daerah memang masih terjadi, terutama di Indonesia Timur.
Di Papua terdapat 81,3% desa yang tidak memiliki sinyal telepon seluler maupun sinyal internet. Posisi kedua Papua Barat (68,7%), disusul Maluku (58,2%). Hal ini menurut Badikenita perlu pembenahan.
Bahkan, orang tua di kota besar saja masih ada yang belum mampu mengakses koneksi internet untuk pendidikan anaknya tanpa gangguan. Ada juga yang belum mampu menyediakan gawai bagi anaknya untuk mengikuti pendidikan daring.
Di sisi lain, anak–anak yang mengakses internet malah cenderung menyalahgunakannya untuk hal yang kurang produktif seperti mengakses konten yang belum sesuai dengan umurnya juga konten provokasi negatif.
“Hal ini justru jauh dari implikasi yang diharapakan dari pendidikan yang humanis religius,” ujarnya.
Itu dapat merusak struktur pskilogi anak dan berdampak langsung pada proses tumbuh kembangnya.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Badikenita Sitepu, mengungkapkan pentingnya pemerataan infrastruktur pendukung pendidikan bagi anak–anak di Indonesia.
Penekanan senator asal Provinsi Sumatera Selatan ini sejalan dengan data potensi desa yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) 2018. Disparitas infrastruktur pendukung kegiatan belajar seperti internet dan televisi di setiap daerah memang masih terjadi, terutama di Indonesia Timur.
Di Papua terdapat 81,3% desa yang tidak memiliki sinyal telepon seluler maupun sinyal internet. Posisi kedua Papua Barat (68,7%), disusul Maluku (58,2%). Hal ini menurut Badikenita perlu pembenahan.
Bahkan, orang tua di kota besar saja masih ada yang belum mampu mengakses koneksi internet untuk pendidikan anaknya tanpa gangguan. Ada juga yang belum mampu menyediakan gawai bagi anaknya untuk mengikuti pendidikan daring.
Di sisi lain, anak–anak yang mengakses internet malah cenderung menyalahgunakannya untuk hal yang kurang produktif seperti mengakses konten yang belum sesuai dengan umurnya juga konten provokasi negatif.
“Hal ini justru jauh dari implikasi yang diharapakan dari pendidikan yang humanis religius,” ujarnya.
(dam)
Lihat Juga :