Pandemi Jadi Tantangan Wujudkan Indonesia Layak Anak 2030
Minggu, 26 Juli 2020 - 18:38 WIB
loading...
A
A
A
Sistem pendidikan jarak jauh melalui daring tidak bisa diterapkan di sebagian daerah atau sekolah karena keterbatasan akses dan infrastruktur jaringan internet.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GSKI) Delis Jukarson Hehi mengatakan, selain efektivitas pendidikan daring saat ini yang masih perlu dievaluasi, masalah infrastruktur yang terbatas ini pekerjaan rumah yang harus diatasi.
“Dalam kondisi normal saja pendidikan di daerah-daerah terpencil bermasalah dengan ketersediaan akses dan insfratuktur. Apalagi saat ini proses pendidikan memasuki masa krisis karena dibatasi oleh pandemi,” tutur Delis dalam seminar virtual yang digelar DPP GSKI, Sabtu 25 Juli 2020 dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional.
Pernyataan Delis sejalan dengan keterangan yang disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Fidiansjah bahwa sebanyak 32% siswa tidak punya akses untuk proses belajar di rumah selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan kata lain, hanya ada 68% siswa yang punya akses ke jaringan internet.
Terkait fakta tersebut, Delis mengatakan pemerintah dan guru di Indonesia perlu memikirkan kembali cara-cara kreatif dan inovatif agar siswa tetap mendapatkan haknya.
Terlebih soal kesehatan fisik dan mental anak juga merupakan hal yang harus diperhatikan saat pembelajaraan anak di rumah.
Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi mengingatkan pentingnya peran orang tua di tengah kondisi saat ini. Saat belajar di rumah orang tua perlu mengajar anak menjadi kreatif.
“Orangtua diharapkan memiliki pengetahuan dan perhatian penuh terhadap pola pembelajaraan yang ramah anak ketika di rumah. Konsep merdeka belajar, belajar tidak dengan kekerasan, belajar dan berkreativitas sesuai keahilan dan potensi masing-masing anak,” ujarnya pada seminar yang sama.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GSKI) Delis Jukarson Hehi mengatakan, selain efektivitas pendidikan daring saat ini yang masih perlu dievaluasi, masalah infrastruktur yang terbatas ini pekerjaan rumah yang harus diatasi.
“Dalam kondisi normal saja pendidikan di daerah-daerah terpencil bermasalah dengan ketersediaan akses dan insfratuktur. Apalagi saat ini proses pendidikan memasuki masa krisis karena dibatasi oleh pandemi,” tutur Delis dalam seminar virtual yang digelar DPP GSKI, Sabtu 25 Juli 2020 dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional.
Pernyataan Delis sejalan dengan keterangan yang disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Fidiansjah bahwa sebanyak 32% siswa tidak punya akses untuk proses belajar di rumah selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan kata lain, hanya ada 68% siswa yang punya akses ke jaringan internet.
Terkait fakta tersebut, Delis mengatakan pemerintah dan guru di Indonesia perlu memikirkan kembali cara-cara kreatif dan inovatif agar siswa tetap mendapatkan haknya.
Terlebih soal kesehatan fisik dan mental anak juga merupakan hal yang harus diperhatikan saat pembelajaraan anak di rumah.
Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi mengingatkan pentingnya peran orang tua di tengah kondisi saat ini. Saat belajar di rumah orang tua perlu mengajar anak menjadi kreatif.
“Orangtua diharapkan memiliki pengetahuan dan perhatian penuh terhadap pola pembelajaraan yang ramah anak ketika di rumah. Konsep merdeka belajar, belajar tidak dengan kekerasan, belajar dan berkreativitas sesuai keahilan dan potensi masing-masing anak,” ujarnya pada seminar yang sama.
Lihat Juga :