Guru Besar, Motor Akademik, dan Sikap Rendah Hati
Selasa, 27 Juni 2023 - 20:49 WIB
loading...
A
A
A
Keempatnya, berijazah Doktor (S3) atau sederajat, ijazah Doktor didapat paling singkat dalam tiga tahun untuk diajukan menjadi guru besar, memiliki karya ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah internasional bereputasi, dan berpengalaman mengajar minimal 10 tahun.
Sekilas, berbagai syarat ini begitu ringkas dan mudah. Namun percayalah di belakangnya berlangsung perjuangan yang tidak mudah. Karya ilmiah terpublikasi jurnal internasional misalnya, sudah pasti harus diawali dari kegiatan riset dengan memperhatikan prinsip-prinsip ilmiah yang ketat, termasuk kebutuhan pendanaan riset yang tidak sedikit.
Jika kegiatan riset sudah dilakukan, tidak berarti selesai begitu saja. Ia perlu membaca kembali hasil temuan, menganalisis data, untuk kemudian menuliskannya dalam sebentuk draft artikel yang tentu harus betul-betul mematuhi kaidah penulisan artikel jurnal ilmiah skala internasional. Kesabaran dan komitmen tinggi akan sangat dibutuhkan dalam proses ini.
Selain perjuangan demikian, dosen yang ditetapkan jadi guru besar juga harus disadari bahwa mereka juga adalah manusia biasa. Mereka bisa jadi merupakan kepala rumah tangga atau ibu rumah tangga bagi keluarga. Selain itu, mereka juga makhluk sosial yang perlu bersosialisasi di lingkungan masing-masing.
Dalam posisi demikian, mereka tentu saja harus memenuhi tanggungjawab manusiawinya sebagai bapak, ibu, kerabat, atau bagian dari masyarakatnya. Tanggungjawab yang tentu saja memaksa mereka harus berbagi peran, energi, dan waktu.
Karena itu, sekali lagi saya selalu berbahagia ketika mendengar ada kolega pengajar yang ditetapkan menjadi guru besar. Bahagia karena mereka berhasil berjuang hingga puncak dengan menaklukan aneka kesulitan yang dihadapi.
Namun, tentu saja saya berharap pencapaian akademik tertinggi yang mereka raih tidak berakhir sampai di situ. Secara formal, Guru besar merupakan karir tertinggi dalam dunia akademik seorang dosen, namun jabatan akademik bukan akhir perjalanan akademik seseorang. Posisi guru besar justru jadi titik awal perjalanan panjang sebagai akademisi.
Sekilas, berbagai syarat ini begitu ringkas dan mudah. Namun percayalah di belakangnya berlangsung perjuangan yang tidak mudah. Karya ilmiah terpublikasi jurnal internasional misalnya, sudah pasti harus diawali dari kegiatan riset dengan memperhatikan prinsip-prinsip ilmiah yang ketat, termasuk kebutuhan pendanaan riset yang tidak sedikit.
Jika kegiatan riset sudah dilakukan, tidak berarti selesai begitu saja. Ia perlu membaca kembali hasil temuan, menganalisis data, untuk kemudian menuliskannya dalam sebentuk draft artikel yang tentu harus betul-betul mematuhi kaidah penulisan artikel jurnal ilmiah skala internasional. Kesabaran dan komitmen tinggi akan sangat dibutuhkan dalam proses ini.
Selain perjuangan demikian, dosen yang ditetapkan jadi guru besar juga harus disadari bahwa mereka juga adalah manusia biasa. Mereka bisa jadi merupakan kepala rumah tangga atau ibu rumah tangga bagi keluarga. Selain itu, mereka juga makhluk sosial yang perlu bersosialisasi di lingkungan masing-masing.
Dalam posisi demikian, mereka tentu saja harus memenuhi tanggungjawab manusiawinya sebagai bapak, ibu, kerabat, atau bagian dari masyarakatnya. Tanggungjawab yang tentu saja memaksa mereka harus berbagi peran, energi, dan waktu.
Karena itu, sekali lagi saya selalu berbahagia ketika mendengar ada kolega pengajar yang ditetapkan menjadi guru besar. Bahagia karena mereka berhasil berjuang hingga puncak dengan menaklukan aneka kesulitan yang dihadapi.
Namun, tentu saja saya berharap pencapaian akademik tertinggi yang mereka raih tidak berakhir sampai di situ. Secara formal, Guru besar merupakan karir tertinggi dalam dunia akademik seorang dosen, namun jabatan akademik bukan akhir perjalanan akademik seseorang. Posisi guru besar justru jadi titik awal perjalanan panjang sebagai akademisi.
Lihat Juga :