Distopia Kecerdasan Buatan: Ancaman AI yang Paling Berbahaya bagi Kemanusiaan
Jum'at, 26 Mei 2023 - 11:18 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Profesi yang Hilang Digantikan Kecerdasan Buatan
Sinyal peringatan bahaya AI ini juga pernah dilontarkan oleh Elon Musk, tokoh teknologi terkemuka yang kontroversial dan banyak melahirkan ide-ide sableng. Musk pernah mengatakan bahwa AI jauh lebih berbahaya dibanding nuklir. Musk mengusulkan untuk memperlambat perkembangan AI karena risiko tersebut. Namun, belakangan Elon Musk justru menjadi salah satu tokoh yang mendalangi lahirnya ChatGPT, AI generatif paling fenomenal yang hanya butuh 5 hari untuk menggaet 1 juta pengguna pertama. Memang sableng!
Perkembangan AI kiwari menunjukkan grafik yang eksponensial. Popularitas AI generatif boleh dikatakan tak terduga dan potensial memicu gelombang perubahan selanjutnya. Diawali dengan ChatGPT, berturut-turut kemudian muncul platform AI generatif seperti Midjourney, Luma AI, Musicfy, dan lain-lain yang mengusung aneka layanan yang memudahkan (sekaligus mengancam) pekerjaan manusia. Namun, sebenarnya apa ancaman terbesar AI bagi kehidupan manusia?
Baca Juga: Canggih, Kecerdasan Buatan Mampu Prediksi Bakal Penyakit
Selain ancaman kehilangan pekerjaan yang akan dialami sebagian besar manusia, AI menyimpan bahaya yang jauh lebih besar. Bahaya yang dimaksud adalah ancaman langsung terhadap manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Kemampuan AI yang diramal sanggup mengungguli manusia, pada titik tertentu memantik pertanyaan besar tentang eksistensi manusia. Benarkah superioritas manusia terancam? Benarkah “kekhalifahan” manusia sedang menghadapi penantang terbesarnya, "makhluk" buatannya sendiri? Ihwal berikut bisa jadi bahan renungan bersama:
Kemampuan AI generatif dalam menghasilkan data baru semakin mengagumkan. Tidak hanya menulis narasi berupa teks, AI kini --secara luar biasa cepat-- bisa memproduksi data kreatif berupa foto, audio, bahkan video yang kemudian memicu tren deepfakes, yaitu video hyper-realistic yang merupakan hasil manipulasi secara digital untuk menggambarkan seseorang tertentu (biasanya pesohor) dengan ucapan dan atau tindakan palsu.
Deepfakes menggunakan dua jaringan saraf buatan, yaitu "generator" dan "discriminator" yang dilatih dengan dataset yang sama untuk meniru ekspresi wajah, gerakan, suara, dan intonasi seseorang. Mereka dapat menukar wajah menggunakan teknologi pemetaan wajah dan kecerdasan buatan. Deepfakes sulit dideteksi dan menyebar cepat di media sosial. Deepfakes berpotensi menyebarkan kebohongan yang dapat menimbulkan polarisasi dan perpecahan dalam masyarakat. Sangat berbahaya!
AI sebagai mesin perang dan pembunuh adalah salah satu ancaman paling serius bagi keamanan global. Dengan kecerdasan dan kemampuan adaptasi yang tinggi, AI dapat digunakan untuk mengembangkan senjata otomatis yang mematikan dan sulit dikendalikan.
Sinyal peringatan bahaya AI ini juga pernah dilontarkan oleh Elon Musk, tokoh teknologi terkemuka yang kontroversial dan banyak melahirkan ide-ide sableng. Musk pernah mengatakan bahwa AI jauh lebih berbahaya dibanding nuklir. Musk mengusulkan untuk memperlambat perkembangan AI karena risiko tersebut. Namun, belakangan Elon Musk justru menjadi salah satu tokoh yang mendalangi lahirnya ChatGPT, AI generatif paling fenomenal yang hanya butuh 5 hari untuk menggaet 1 juta pengguna pertama. Memang sableng!
Perkembangan AI kiwari menunjukkan grafik yang eksponensial. Popularitas AI generatif boleh dikatakan tak terduga dan potensial memicu gelombang perubahan selanjutnya. Diawali dengan ChatGPT, berturut-turut kemudian muncul platform AI generatif seperti Midjourney, Luma AI, Musicfy, dan lain-lain yang mengusung aneka layanan yang memudahkan (sekaligus mengancam) pekerjaan manusia. Namun, sebenarnya apa ancaman terbesar AI bagi kehidupan manusia?
Baca Juga: Canggih, Kecerdasan Buatan Mampu Prediksi Bakal Penyakit
Selain ancaman kehilangan pekerjaan yang akan dialami sebagian besar manusia, AI menyimpan bahaya yang jauh lebih besar. Bahaya yang dimaksud adalah ancaman langsung terhadap manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Kemampuan AI yang diramal sanggup mengungguli manusia, pada titik tertentu memantik pertanyaan besar tentang eksistensi manusia. Benarkah superioritas manusia terancam? Benarkah “kekhalifahan” manusia sedang menghadapi penantang terbesarnya, "makhluk" buatannya sendiri? Ihwal berikut bisa jadi bahan renungan bersama:
1. AI Memproduksi Berita Palsu
Kemampuan AI generatif dalam menghasilkan data baru semakin mengagumkan. Tidak hanya menulis narasi berupa teks, AI kini --secara luar biasa cepat-- bisa memproduksi data kreatif berupa foto, audio, bahkan video yang kemudian memicu tren deepfakes, yaitu video hyper-realistic yang merupakan hasil manipulasi secara digital untuk menggambarkan seseorang tertentu (biasanya pesohor) dengan ucapan dan atau tindakan palsu.
Deepfakes menggunakan dua jaringan saraf buatan, yaitu "generator" dan "discriminator" yang dilatih dengan dataset yang sama untuk meniru ekspresi wajah, gerakan, suara, dan intonasi seseorang. Mereka dapat menukar wajah menggunakan teknologi pemetaan wajah dan kecerdasan buatan. Deepfakes sulit dideteksi dan menyebar cepat di media sosial. Deepfakes berpotensi menyebarkan kebohongan yang dapat menimbulkan polarisasi dan perpecahan dalam masyarakat. Sangat berbahaya!
2. AI Sebagai Mesin Perang
AI sebagai mesin perang dan pembunuh adalah salah satu ancaman paling serius bagi keamanan global. Dengan kecerdasan dan kemampuan adaptasi yang tinggi, AI dapat digunakan untuk mengembangkan senjata otomatis yang mematikan dan sulit dikendalikan.
Lihat Juga :