Jaga Kerukunan Umat Beragama, Dai Harus Memiliki Wawasan Kebangsaan
Kamis, 18 Mei 2023 - 17:55 WIB
loading...
A
A
A
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta ini menyoroti adagium jika ingin viral, maka harus menjadi sangat keras, ekstrem, menyerang sana dan sini, mencaci maki banyak pihak, sehingga cepat mendapatkan follower. Seseorang harus terlibat dalam perdebatan yang memecah-belah, memposisikan diri di kubu yang menyerang kubu lainnya, supaya dapat follower atau cheerleaders dari orang-orang di media sosialnya.
"Nah, ini yang berbahaya. Pada titik tertentu nanti bisa memunculkan konflik horizontal yang sudah terjadi juga di beberapa negara di Timur Tengah," kata Syarif.
Ia mencontohkan, fenomena Arab Spring yang dimulai awal 2010 juga sebagian di provokasi dari media sosial. Sentimen kelompok lain juga dibakar di media sosial. Hal ini disebabkan karena ada orang-orang tertentu yang ingin terkenal, viral, tapi tidak sabar mengikuti jalur orang-orang yang berhasil mendapatkan pengikut tapi bukan by design/sekadar cari pengikut. Para figur yang berhasil ini betul-betul merintis dari bawah, memberikan manfaat pada orang banyak dan orang merasakan manfaatnya, baru dia menjadi viral. Biasanya yang seperti ini lebih awet terkenalnya karena dia diterima oleh masyarakat.
Namun ada pula yang ingin viral dengan memprovokasi, mencaci-maki, menghujat, menyerang kelompok lain, yang kemudian nilai moderasi beragamanya menjadi rendah. Biasanya figur yang seperti ini hanya sekejap, setidaknya dalam kurun waktu atau periode tertentu, misalkan periode pilpres, pilkada, dan lain sebagainya.
"Dalam kasus konflik horizontal juga banyak yang bertebaran di udara, maksudnya yang beredar di media sosial, ada isu-isu tertentu yang sengaja dinaikkan untuk membuat orang yang mengikutinya menjadi tidak moderat," katanya.
"Nah, ini yang berbahaya. Pada titik tertentu nanti bisa memunculkan konflik horizontal yang sudah terjadi juga di beberapa negara di Timur Tengah," kata Syarif.
Ia mencontohkan, fenomena Arab Spring yang dimulai awal 2010 juga sebagian di provokasi dari media sosial. Sentimen kelompok lain juga dibakar di media sosial. Hal ini disebabkan karena ada orang-orang tertentu yang ingin terkenal, viral, tapi tidak sabar mengikuti jalur orang-orang yang berhasil mendapatkan pengikut tapi bukan by design/sekadar cari pengikut. Para figur yang berhasil ini betul-betul merintis dari bawah, memberikan manfaat pada orang banyak dan orang merasakan manfaatnya, baru dia menjadi viral. Biasanya yang seperti ini lebih awet terkenalnya karena dia diterima oleh masyarakat.
Namun ada pula yang ingin viral dengan memprovokasi, mencaci-maki, menghujat, menyerang kelompok lain, yang kemudian nilai moderasi beragamanya menjadi rendah. Biasanya figur yang seperti ini hanya sekejap, setidaknya dalam kurun waktu atau periode tertentu, misalkan periode pilpres, pilkada, dan lain sebagainya.
"Dalam kasus konflik horizontal juga banyak yang bertebaran di udara, maksudnya yang beredar di media sosial, ada isu-isu tertentu yang sengaja dinaikkan untuk membuat orang yang mengikutinya menjadi tidak moderat," katanya.
Lihat Juga :