Terciptanya Kelas-kelas Pendidikan
Kamis, 23 Juli 2020 - 06:07 WIB
loading...
A
A
A
Darwinisme sosial adalah paham persaingan yang memberikan hak hidup pada yang kuat, sedangkan yang lemah dan miskin akan tergusur. Fakta adanya kesenjangan dengan lahirnya kelas-kelas sosial dalam layanan pendidikan tentu bertentangan dengan nilai luruh yang dianut bangsa ini, yakni bukan persaingan melainkan gotong royong dalam terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam mewujudkan itu, di tengah Indonesia yang luas dan beragam tentu perlu ada reorientasi, yakni mengembalikan pada usaha bersama untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dengan berkeadilan. Sejatinya, pendidikan ada untuk semua orang sebagaimana tertuang dalam UUD 1945. Jika kita dalami mendalam pasal 31, maka diperlukan usaha pemerintah dalam membuat sistem pendidikan yang tepat.
Mengakhiri Kegelisahan
Mengutip yang pernah disampaikan mantan Menteri Pendidikan Malik Fajar bahwa pendidikan adalah kegelisahan sepanjang zaman. Tidak terkecuali para pelaku pendidikan yang dibuat gelisah oleh fenomena dan realitas perwujudan pendidikan hari ini.
Kegelisahan itu kembali muncul di tengah pandemi, saat Indonesia akan genap berusia 75 tahun merdeka. Timbul keraguan soal kualitas pendidikan yang dijalankan di masa pandemi Covid-19 ini karena masih banyaknya keterbatasan dan ketidaksiapan.
Kita pun tidak ingin menjadikan angkatan hari ini "mundur" dari sebelumnya. Kita berharap para pemangku kebijakan tidak hanya menjadikan dirinya selevel manajer atau pekerja saja, tapi menjelma menjadi negarawan yang mengembalikan praktik pendidikan sesuai dengan amanat konstitusi, mengarahkan pendidikan sesuai tujuan yang tersurat dan tersirat dalam UU Sisdiknas. Pemerataan layanan pendidikan yang berkualitas ini harus dijadikan sebagai target, yang bisa kita lihat dengan upaya-upaya sistematis dan berpegang pada prinsip berkelanjutan. Kita tidak hanya gelisah dengan ancaman lost generation yang terjadi karena kurangnya asupan pendidikan karakter dan minimnya ilmu pengetahuan, tapi juga resah dengan praktik neokolonialisme dalam dunia pendidikan yang terlihat dari tidak pekanya pada masalah rakyat kecil dan praktik diskriminatif.
Mengakhiri Kegelisahan
Mengutip yang pernah disampaikan mantan Menteri Pendidikan Malik Fajar bahwa pendidikan adalah kegelisahan sepanjang zaman. Tidak terkecuali para pelaku pendidikan yang dibuat gelisah oleh fenomena dan realitas perwujudan pendidikan hari ini.
Kegelisahan itu kembali muncul di tengah pandemi, saat Indonesia akan genap berusia 75 tahun merdeka. Timbul keraguan soal kualitas pendidikan yang dijalankan di masa pandemi Covid-19 ini karena masih banyaknya keterbatasan dan ketidaksiapan.
Kita pun tidak ingin menjadikan angkatan hari ini "mundur" dari sebelumnya. Kita berharap para pemangku kebijakan tidak hanya menjadikan dirinya selevel manajer atau pekerja saja, tapi menjelma menjadi negarawan yang mengembalikan praktik pendidikan sesuai dengan amanat konstitusi, mengarahkan pendidikan sesuai tujuan yang tersurat dan tersirat dalam UU Sisdiknas. Pemerataan layanan pendidikan yang berkualitas ini harus dijadikan sebagai target, yang bisa kita lihat dengan upaya-upaya sistematis dan berpegang pada prinsip berkelanjutan. Kita tidak hanya gelisah dengan ancaman lost generation yang terjadi karena kurangnya asupan pendidikan karakter dan minimnya ilmu pengetahuan, tapi juga resah dengan praktik neokolonialisme dalam dunia pendidikan yang terlihat dari tidak pekanya pada masalah rakyat kecil dan praktik diskriminatif.
(ras)