Pilkada Spesial Anak Presiden
Selasa, 21 Juli 2020 - 17:53 WIB
loading...
A
A
A
Dinasti Baru
Suka tak suka, majunya Gibran makin menambah daftar panjang catatan politik dinasti di Indonesia. Ini rekor karena baru pertama terjadi sepanjang politik tanah air. Anak presiden maju pilkada. Tak heran jika Jokowi belakangan dinilai berkontribusi atas tumbuh suburnya politik dinasti. Sesuatu yang dikecam kalangan aktivis dan pegiat demokrasi selama ini.
Publik melihat praktik politik dinasti masih sangat negatif. Banyak kasus politik dinasti hanya menyuburkan korupsi dan nepotisme. Banten dan Kutai di Kaltim menjadi bukti sahih buruknya kualitas kepemimpinan dinasti. Nyaris tak ada kepala daerah berprestasi yang lahir dari rahim dinasti politik. Persepsi publik terhadap dinasti mentok di dua hal. Yakni, korupsi dan kinerja buruk.
Nama-nama beken kepala daerah tidak lahir dari keluarga dinasti. Ridwan Kamil, Anies Baswedan, Tri Rismaharini, Zulkieflimansyah, Ganjar Pranowo, Khofifah Indar Parawansa, dan lainnya bukan keluarga dinasti. Tapi kerjanya layak diapresiasi. Populer, berdedikasi, dan sering menjadi diskursus publik. Sejauh ini, kepala daerah dari keluarga dinasti yang kerjanya moncer nyaris tak ada.
Secara umum, banyak orang berharap Jokowi bisa menjadi ‘elit pembeda’ dengan elit lainnya yang tidak menyertakan keluarga inti dalam pusaran politik elektoral. Tapi harapan tinggallah harapan, semua sudah terjadi. Jokowi menjadi bagian elit yang berada dalam aras diskursus politik dinasti saat ini. Maju pilkada menang hak politik demokratis semua orang. Namun, sekali lagi, stigma negatif serta trauma publik terhadap politik dinasi cukup kuat.
Pilkada serentak kali ini terasa berbeda. Sebab, menjadi berkah bagi suburnya politik dinasti di berbagai daerah. Dulu, cuma Banten dan Kutai di Kaltim yang paling banyak dipergunjingkan soal gurita politik dinasti. Kini, politik dinasti merata. Istana, ketua umum partai, dan menteri pun ramai-ramai ikut membangun politik dinasti. Selamat datang dinasti baru.
Suka tak suka, majunya Gibran makin menambah daftar panjang catatan politik dinasti di Indonesia. Ini rekor karena baru pertama terjadi sepanjang politik tanah air. Anak presiden maju pilkada. Tak heran jika Jokowi belakangan dinilai berkontribusi atas tumbuh suburnya politik dinasti. Sesuatu yang dikecam kalangan aktivis dan pegiat demokrasi selama ini.
Publik melihat praktik politik dinasti masih sangat negatif. Banyak kasus politik dinasti hanya menyuburkan korupsi dan nepotisme. Banten dan Kutai di Kaltim menjadi bukti sahih buruknya kualitas kepemimpinan dinasti. Nyaris tak ada kepala daerah berprestasi yang lahir dari rahim dinasti politik. Persepsi publik terhadap dinasti mentok di dua hal. Yakni, korupsi dan kinerja buruk.
Nama-nama beken kepala daerah tidak lahir dari keluarga dinasti. Ridwan Kamil, Anies Baswedan, Tri Rismaharini, Zulkieflimansyah, Ganjar Pranowo, Khofifah Indar Parawansa, dan lainnya bukan keluarga dinasti. Tapi kerjanya layak diapresiasi. Populer, berdedikasi, dan sering menjadi diskursus publik. Sejauh ini, kepala daerah dari keluarga dinasti yang kerjanya moncer nyaris tak ada.
Secara umum, banyak orang berharap Jokowi bisa menjadi ‘elit pembeda’ dengan elit lainnya yang tidak menyertakan keluarga inti dalam pusaran politik elektoral. Tapi harapan tinggallah harapan, semua sudah terjadi. Jokowi menjadi bagian elit yang berada dalam aras diskursus politik dinasti saat ini. Maju pilkada menang hak politik demokratis semua orang. Namun, sekali lagi, stigma negatif serta trauma publik terhadap politik dinasi cukup kuat.
Pilkada serentak kali ini terasa berbeda. Sebab, menjadi berkah bagi suburnya politik dinasti di berbagai daerah. Dulu, cuma Banten dan Kutai di Kaltim yang paling banyak dipergunjingkan soal gurita politik dinasti. Kini, politik dinasti merata. Istana, ketua umum partai, dan menteri pun ramai-ramai ikut membangun politik dinasti. Selamat datang dinasti baru.
(ras)