Diversifikasi Pangan Lokal Solusi Pengentasan Stunting
Minggu, 19 Juli 2020 - 21:53 WIB
loading...
Ketua MPR Lestari Moerdijat. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Ketua MPR Lestari Moerdijat mengatakan diversifikasi pangan atau modifikasi pangan lokal sangat diperlukan untuk mengurangi stunting yang saat ini masih menjadi masalah di Indonesia.
Pasalnya, menurut perempuan yang akrab disapa Rerie tersebut, pola hidup sehat salah satunya dengan asupan bergizi dengan stunting memang sangat berhubungan.
"Kita paham betul stunting jadi masalah kita semua. Sampai hari ini angka masih tinggi. Ada masalah mendasar yakni gizi yang berdampak pada SDM di Indonesia. Intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan bisa diselesaikan apabila bisa dioptimalkan penggunaan pangan lokal," ungkapnya dalam Diskusi Diversifikasi Pangan DPP Garnita Malahayati NasDem, Sabtu (18/7/2020).
Permasalahan stunting di samping kurang akses dari makanan bergizi juga didasari oleh kurang pengetahuan para ibu mengenai jenis sumber pangan lokal yang terjangkau, mudah didapat dan memiliki gizi tinggi. (Baca juga: Ketahanan Pangan: Emak-emak Panen Sayur Mayur dan Ikan Dibagi Gratis untuk Warga)
Menurutnya, pada 2019 berdasarkan data terdapat 27,6% anak Indonesia mengalami stunting dengan catatan beberapa daerah dengan kondisi tinggi. "100 kabupaten butuh intervensi pangan untuk tingkatkan gizi anak di bawah 2 tahun dan agar 1000 hari kehidupan anak terjaga," sambung Rerie.
Dia menyampaikan dari hasil penelitian Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, terdapat banyak pangan lokal yang memiliki gizi luar biasa.Beberapa pangan lokal tersebut antara lain singkong, ubi jalar dan daun kelor yang dikatakan sangat mudah ditanam, didapatkan dan bukan menjadi tumbuhan yang asing.
Pasalnya, menurut perempuan yang akrab disapa Rerie tersebut, pola hidup sehat salah satunya dengan asupan bergizi dengan stunting memang sangat berhubungan.
"Kita paham betul stunting jadi masalah kita semua. Sampai hari ini angka masih tinggi. Ada masalah mendasar yakni gizi yang berdampak pada SDM di Indonesia. Intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan bisa diselesaikan apabila bisa dioptimalkan penggunaan pangan lokal," ungkapnya dalam Diskusi Diversifikasi Pangan DPP Garnita Malahayati NasDem, Sabtu (18/7/2020).
Permasalahan stunting di samping kurang akses dari makanan bergizi juga didasari oleh kurang pengetahuan para ibu mengenai jenis sumber pangan lokal yang terjangkau, mudah didapat dan memiliki gizi tinggi. (Baca juga: Ketahanan Pangan: Emak-emak Panen Sayur Mayur dan Ikan Dibagi Gratis untuk Warga)
Menurutnya, pada 2019 berdasarkan data terdapat 27,6% anak Indonesia mengalami stunting dengan catatan beberapa daerah dengan kondisi tinggi. "100 kabupaten butuh intervensi pangan untuk tingkatkan gizi anak di bawah 2 tahun dan agar 1000 hari kehidupan anak terjaga," sambung Rerie.
Dia menyampaikan dari hasil penelitian Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, terdapat banyak pangan lokal yang memiliki gizi luar biasa.Beberapa pangan lokal tersebut antara lain singkong, ubi jalar dan daun kelor yang dikatakan sangat mudah ditanam, didapatkan dan bukan menjadi tumbuhan yang asing.
Lihat Juga :