MIPI Perkuat Pemahaman Publik Tentang Ilmu Pemerintahan dalam Perspektif Kybernologi
Sabtu, 18 Februari 2023 - 18:09 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian, di dalam subkultur kekuasaan memiliki nilai, pertama, berkuasa semudah mungkin. Kedua, menggunakan kekuasaan seefektif mungkin. Ketiga, mempertanggungjawabkan penggunaan kekuasaan seformal mungkin.
Selanjutnya, di dalam subkultur sosial memiliki nilai, pertama, peduli, kesadaran, keberanian heroism. Kedua, budaya konsumeristik (pengakuan terhadap komunitas atau kedaulatan). Ketiga, collective action.
Muhadam menegaskan ketika tiga nilai tersebut tidak dikembangkan dengan baik maka masing-masing nilai akan memberikan dampak buruknya tersendiri dan berpengaruh pada nilai yang lainnya. Tugas dari tiga subkultur tersebut harus dikontrol, karena jika tidak pemerintahan akan mengalami pembangkangan sipil, ketidakpercayaan publik, anarki, terorisme, perang saudara, hingga revolusi. Baca juga: Kemendagri Sambangi ICW dan Mengajak Mengawal Penggunaan APBD
“Perkembangan kybernologi di IPDN dulu, itu lahir sebagai kegagalan Orde Baru, sampai dengan selesai 98 lahir sebagai kelemahan atas bekerjanya ilmu politik, administrasi, dan hukum selama 32 tahun, tidak bisa mengontrol pemerintahan itu, maka muncullah antitesisnya itu di tahun 2002 dengan istilah kybernologi," katanya.
Selanjutnya, di dalam subkultur sosial memiliki nilai, pertama, peduli, kesadaran, keberanian heroism. Kedua, budaya konsumeristik (pengakuan terhadap komunitas atau kedaulatan). Ketiga, collective action.
Muhadam menegaskan ketika tiga nilai tersebut tidak dikembangkan dengan baik maka masing-masing nilai akan memberikan dampak buruknya tersendiri dan berpengaruh pada nilai yang lainnya. Tugas dari tiga subkultur tersebut harus dikontrol, karena jika tidak pemerintahan akan mengalami pembangkangan sipil, ketidakpercayaan publik, anarki, terorisme, perang saudara, hingga revolusi. Baca juga: Kemendagri Sambangi ICW dan Mengajak Mengawal Penggunaan APBD
“Perkembangan kybernologi di IPDN dulu, itu lahir sebagai kegagalan Orde Baru, sampai dengan selesai 98 lahir sebagai kelemahan atas bekerjanya ilmu politik, administrasi, dan hukum selama 32 tahun, tidak bisa mengontrol pemerintahan itu, maka muncullah antitesisnya itu di tahun 2002 dengan istilah kybernologi," katanya.
(kri)
Lihat Juga :