Peran Perempuan dalam Meningkatkan Literasi Keuangan

Sabtu, 03 Desember 2022 - 11:48 WIB
Bergerak dari hal kecil, seorang Ibu juga dapat meningkatkan literasi keuangan anak dengan mengajarkan“need vs want”agar anak-anak lebih bijaksana dalam menggunakan uangnya.OJK telah berkontribusi untuk turut mendukung para Ibu meningkatkan literasi keuangan pada anak melalui Buku Seri Literasi Keuangan. Untuk memastikan agar peran Ibu terhadap literasi keuangan anak dapat berkelanjutan, diperlukan program khusus seperti pendekatan di level komunitas seperti sekolah. Selain itu, juga diperlukan kurikulum di Indonesia yang mengakomodir literasi keuangan bagi anak-anak.

Jordan Rosenfeld, dalam artikelfinancial-literacy-around-world(2022) menyebutkan, penggunaan kurikulum pendidikan sebagai cara meningkatkan literasi keuangan telah berhasil mengantarkan tiga negara di Eropa yaitu Norwegia, Swedia, dan Denmark menduduki peringkat satu dunia sebagai negara dengan tingkat literasi keuangan tertinggi.

Misalnya, di Denmark, pendidikan keuangan adalah mata pelajaran wajib bagi murid kelas 7 hingga kelas 9. Norwegia dan Swedia menggunakan pendekatan kepada remaja dengan memberikan pendidikan keuangan personal (personal finance) dengan tujuan untuk membantu remaja meraih pencapaian finansial yang relevan dengan kehidupan sehari-hari seperti membeli rumah dan mempersiapkan dana pensiun.

Dalam hal ini, untuk mengoptimalisasi peran wanita sebagai Ibu dalam peningkatan literasi keuangan, OJK dapat bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk dapat menyusun kurikulum yang tidak hanya mengedukasi siswa (dan/atau mahasiswa), namun juga keluarganya.

Bergerak ke level komunitas yang lebih luas, wanita juga berperan sebagai penggerak perekonomian nasional Indonesia. Merujuk pada Data Badan Pusat Statistik di tahun 2021, diketahui bahwa sebanyak 64,5% Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia adalah perempuan. Sebagai pemilik UMKM, perempuan perlu dibekali dengan kemampuan finansial yang memadai.

Berdasarkan studi Oktavianti, Hakim dan Kunaifi di tahun 2017, ditemukan bahwa pengusaha UMKM dengan literasi keuangan yang lebih rendah cenderung mudah mengalami masalah dalam menjalaskan bisnisnya, seperti terjebak dalam masalah utang dengan bunga yang tidak realistis dan terjerat olehloan sharks.

Tanpa literasi keuangan yang baik, pemilik UMKM dapat mengalami hambatan dalam memperoleh pendanaan untuk pengembangan bisnisnya dan kesulitan dalam membuat keputusan yang tepat. Program pendidikan khusus perlu diberikan kepada para pelaku UMKM, terutama pada mereka yang adalah wanita.

OJK juga telah menunjukkan kontribusinya dalam meningkatkan literasi keuangan pada UMKM dengan menciptakan Galeri Edukasi Keuangan bagi Pelaku UMKM.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!