Ambisi Israel Mencaplok Tepi Barat
Kamis, 09 Juli 2020 - 07:31 WIB
Semakin Rumit
Pada 2006, faksi militan Palestina, Hamas, memenangkan pemilu dan menguasai Gaza. Hamas, berideologi garis keras, terlibat konflik dengan Israel. Konflik Hamas-Israel memuncak pada 27 Desember 2008. Tentara Israel menyerang Gaza secara masif dan eksesif. Akibatnya, lebih dari 1.300 warga Gaza tewas dan lebih dari 3000 orang luka-luka. Dua pertiga korban adalah anak-anak dan wanita (rakyat sipil) yang tidak berdosa. Banyak gedung, masjid, sekolah yang dikelola oleh PBB, dan rumah penduduk Gaza remuk berantakan. Fasilitas-fasilitas umum, seperti aliran listrik, telepon, dan saluran air bersih hancur. Gaza gelap gulita pada malam hari. Serangan Israel terhadap Hamas terjadi lagi pada 2014 yang mengakibatkan rakyat Gaza tewas dan luka-luka, jumlahnya lebih besar dari korban tewas dan luka-luka dalam serangan Israel tahun 2008/2009. Di pihak Israel, 132 tentaranya tewas dan beberapa orang Israel terluka terkena serangan roket dari Gaza.
Konflik Israel-Palestina semakin ruwet untuk diselesaikan karena rezim Zionis Israel memindahkan ibu kotanya dari Tel Aviv ke Yerusalem dan mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota yang tidak bisa dibagi. Pada 2017, rezim Zionis Israel mendiskriminasi rakyat Palestina dengan mengeluarkan Undang-Undang Muadzin yang melarang azan dikumandangkan di permukiman antara pukul 11.00-7.00. Selanjutnya Knesset pada 19 Juli 2018 memberlakukan UU Negara Bangsa Yahudi (Jewish Nation-State) yang isinya menerapkan segregasi (pemisahan) antara etnis Yahudi dan etnis Arab. Dalam dunia beradab seperti sekarang ini, praktik diskriminasi dan segregasi antar-etnis sangat tercela. Di tengah ketidakpastian perdamaian Israel-Palestina, Knesset mengeluarkan keputusan yang melegalkan perluasan permukiman Yahudi di Tepi Barat. Permukiman itu ilegal karena dibangun di atas lahan milik warga Palestina yang berada di kawasan pendudukan.
Rencana Mencaplok Tepi Barat
Israel menggelar pemilu putaran ketiga pada 2 Maret 2020. Partai Likud yang menjadi blok koalisi sayap kanan bersekutu dengan Partai Yamina dan dua partai berbasis agama. Kelompok koalisi sayap kanan mengusung calon petahana, Benyamin Netanyahu sebagai perdana menteri (PM). Sementara kubu Partai Biru dan Putih serta sekutunya yang dikenal sebagai aliansi partai berhaluan politik tengah-kanan menggadang-gadang Benny Gantz sebagai calon PM. Walaupun tidak meraih suara mayoritas, Netanyahu berhasil mengalahkan pesaingnya. Knesset mengukuhkan Benyamin Netanyahu menjadi PM Israel.
Pada 2006, faksi militan Palestina, Hamas, memenangkan pemilu dan menguasai Gaza. Hamas, berideologi garis keras, terlibat konflik dengan Israel. Konflik Hamas-Israel memuncak pada 27 Desember 2008. Tentara Israel menyerang Gaza secara masif dan eksesif. Akibatnya, lebih dari 1.300 warga Gaza tewas dan lebih dari 3000 orang luka-luka. Dua pertiga korban adalah anak-anak dan wanita (rakyat sipil) yang tidak berdosa. Banyak gedung, masjid, sekolah yang dikelola oleh PBB, dan rumah penduduk Gaza remuk berantakan. Fasilitas-fasilitas umum, seperti aliran listrik, telepon, dan saluran air bersih hancur. Gaza gelap gulita pada malam hari. Serangan Israel terhadap Hamas terjadi lagi pada 2014 yang mengakibatkan rakyat Gaza tewas dan luka-luka, jumlahnya lebih besar dari korban tewas dan luka-luka dalam serangan Israel tahun 2008/2009. Di pihak Israel, 132 tentaranya tewas dan beberapa orang Israel terluka terkena serangan roket dari Gaza.
Konflik Israel-Palestina semakin ruwet untuk diselesaikan karena rezim Zionis Israel memindahkan ibu kotanya dari Tel Aviv ke Yerusalem dan mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota yang tidak bisa dibagi. Pada 2017, rezim Zionis Israel mendiskriminasi rakyat Palestina dengan mengeluarkan Undang-Undang Muadzin yang melarang azan dikumandangkan di permukiman antara pukul 11.00-7.00. Selanjutnya Knesset pada 19 Juli 2018 memberlakukan UU Negara Bangsa Yahudi (Jewish Nation-State) yang isinya menerapkan segregasi (pemisahan) antara etnis Yahudi dan etnis Arab. Dalam dunia beradab seperti sekarang ini, praktik diskriminasi dan segregasi antar-etnis sangat tercela. Di tengah ketidakpastian perdamaian Israel-Palestina, Knesset mengeluarkan keputusan yang melegalkan perluasan permukiman Yahudi di Tepi Barat. Permukiman itu ilegal karena dibangun di atas lahan milik warga Palestina yang berada di kawasan pendudukan.
Rencana Mencaplok Tepi Barat
Israel menggelar pemilu putaran ketiga pada 2 Maret 2020. Partai Likud yang menjadi blok koalisi sayap kanan bersekutu dengan Partai Yamina dan dua partai berbasis agama. Kelompok koalisi sayap kanan mengusung calon petahana, Benyamin Netanyahu sebagai perdana menteri (PM). Sementara kubu Partai Biru dan Putih serta sekutunya yang dikenal sebagai aliansi partai berhaluan politik tengah-kanan menggadang-gadang Benny Gantz sebagai calon PM. Walaupun tidak meraih suara mayoritas, Netanyahu berhasil mengalahkan pesaingnya. Knesset mengukuhkan Benyamin Netanyahu menjadi PM Israel.
Lihat Juga :