Intervensi Parpol dalam Reshuffle akan Mereduksi Kekuasaan Jokowi
Senin, 06 Juli 2020 - 07:08 WIB
”Untuk mengikuti ritme presiden, maka dibutuhkan, menteri yang bisa bekerja cepat, disiplin, mau bersabar, laten terhadap kerja-kerja teknis dan detail, mampu mengimbangi kerja cepat presiden, punya terobosan dan narasi besar memajukan bangsa dan Negara,” katanya.
Menurut dia, hal ini perlu dipahami para pembantu presiden karena tugas Jokowi sekarang sudah sangat berat, ke depannya makin berat lagi, dengan kata lain, salah mengambil menteri, maka sama saja bunuh diri bagi pemerintahan Jokowi. Untuk itu, Jokowi harus penuh kehati-hatian dalam merekrut pembantunya. Apabila palang pintu reshuffle dibuka, sudah saatnya pemerintahan Jokowi periode kedua ini lebih fokus pada kinerja ketimbang citra untuk dapat meninggalkan legacy yang dapat dikenang dan menjadi sejarah dikemudian hari.
Oleh karena itu, semangat demokrasi deleberatif penting dalam memilih menteri. ”Jangan an-sich mengakomodir, merepresentasikan kepentingan politik bagi-bagi kue kekuasaan semata, hasil kerja menteri dari akomodir parpol, namun hasil sangat tidak memuaskan presiden Jokowi. Jangan sampai nanti karena salah memilih menteri, Jokowi disibukkan dengan reshuffle tidak hanya satu atau dua kali saja namun berkali-kali, akibat salah memilih pembantunya," kata dia. (Rakhmat)
Menurut dia, hal ini perlu dipahami para pembantu presiden karena tugas Jokowi sekarang sudah sangat berat, ke depannya makin berat lagi, dengan kata lain, salah mengambil menteri, maka sama saja bunuh diri bagi pemerintahan Jokowi. Untuk itu, Jokowi harus penuh kehati-hatian dalam merekrut pembantunya. Apabila palang pintu reshuffle dibuka, sudah saatnya pemerintahan Jokowi periode kedua ini lebih fokus pada kinerja ketimbang citra untuk dapat meninggalkan legacy yang dapat dikenang dan menjadi sejarah dikemudian hari.
Oleh karena itu, semangat demokrasi deleberatif penting dalam memilih menteri. ”Jangan an-sich mengakomodir, merepresentasikan kepentingan politik bagi-bagi kue kekuasaan semata, hasil kerja menteri dari akomodir parpol, namun hasil sangat tidak memuaskan presiden Jokowi. Jangan sampai nanti karena salah memilih menteri, Jokowi disibukkan dengan reshuffle tidak hanya satu atau dua kali saja namun berkali-kali, akibat salah memilih pembantunya," kata dia. (Rakhmat)
(cip)
Lihat Juga :