Jaga Kesehatan Usia Muda
Senin, 06 Juli 2020 - 06:22 WIB
“Perilaku kita di era teknologi sekarang ini ternyata tidak semakin baik. Mungkin momentum ini yang mengingatkan kita semua bahwa ketika imunitas tubuh kita turun, orang semakin banyak yang peduli untuk mengubah gaya hidup,” tutur Cut. (Baca juga: Jubir Covid-19 Ungkap Ada 552 Kasus Baru Covid di Jawa Timur)
Cut menekankan perubahan gaya hidup harus dilakukan sedini mungkin sebagai investasi kesehatan masa depan. Pun dengan pengendalian faktor risiko juga harus dilakukan sedini mungkin. Masyarakat harus memiliki kesadaran kesehatan agar tahu kondisi badannya, agar semakin mudah diobati sehingga tidak terlambat.
“Jangan lupa deteksi dini, untuk orang sehat merasa dirinya tidak memiliki keluhan, belum tentu tetap sehat, lakukan screening minimal 6 bulan sampai setahun sekali,” katanya.
Dia juga mengatakan bahwa di masa pandemi ini, Kementerian Kesehatan memberikan fleksibilitas kepada penyandang PTM dengan memberikan kemudahan untuk mendapatkan obat untuk jangka waktu dua bulan ke depan guna mengurangi mobilitas mereka ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Sebelumnya, Farrukh Qureshi dari WHO Indonesia mengungkapkan bahwa kasus PTM yang menerpa kalangan muda juga menjadi tren di negara berkembang. Penyebabnya, 80% faktor risiko disebabkan faktor gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, kurang konsumsi sayur dan buah, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol. "Faktor risiko ini merupakan faktor-faktor yang dapat dicegah dengan mengupayakan gaya hidup sehat," dalam International Symposium on Health Research di Prime Plaza Sanur, Bali, 29 November 2019.
Dia memaparkan, setiap tahun ada empat puluh juta orang meninggal akibat penyakit tidak menular, 15% di antaranya meninggal di usia 30-70 tahun. Dengan demikian, artinya tiap dua detik seseorang mati prematur akibat PTM. Hampir dua pertiga dari total kematian akibat penyakit tidak menular terkait dengan konsumsi rokok, konsumsi alkohol yang tidak sehat, diet yang tidak sehat, aktivitas fisik yang kurang, dan polusi udara.
Adapun representatif Aliansi Penyakit Tidak Menular Indonesia Ibnu Haykal sebelumnya mengungkapkan, PTM juga menghambat pertumbuhan ekonomi di tingkat global dan nasional dengan mempengaruhi produktivitas pekerja secara negatif dan mengalihkan sumber daya dari tujuan produktif ke pengobatan penyakit. PTM diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi global kumulatif USD47 triliun pada 2030, atau sekitar 75% dari PDB global 2010. (Baca juga: Turki Sukses Uji Coba Rudal Maritim Buatan Sendiri)
“Kurang dari lima tahun lagi Indonesia akan terdampak ancaman global PTM, namun hingga kini Indonesia belum memiliki regulasi yang benar-benar mampu yang melindungi masyarakat dari PTM," keluhnya.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito Anggarino Damay, mengingatkan, PTM di usia muda menimbulkan beban keuangan berupa biaya rumah sakit dan biaya hidup. Dia menyebut, satu dari dua pasien kanker dinyatakan bangkrut. Kalau punya harta benda biasanya dijual.
Cut menekankan perubahan gaya hidup harus dilakukan sedini mungkin sebagai investasi kesehatan masa depan. Pun dengan pengendalian faktor risiko juga harus dilakukan sedini mungkin. Masyarakat harus memiliki kesadaran kesehatan agar tahu kondisi badannya, agar semakin mudah diobati sehingga tidak terlambat.
“Jangan lupa deteksi dini, untuk orang sehat merasa dirinya tidak memiliki keluhan, belum tentu tetap sehat, lakukan screening minimal 6 bulan sampai setahun sekali,” katanya.
Dia juga mengatakan bahwa di masa pandemi ini, Kementerian Kesehatan memberikan fleksibilitas kepada penyandang PTM dengan memberikan kemudahan untuk mendapatkan obat untuk jangka waktu dua bulan ke depan guna mengurangi mobilitas mereka ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Sebelumnya, Farrukh Qureshi dari WHO Indonesia mengungkapkan bahwa kasus PTM yang menerpa kalangan muda juga menjadi tren di negara berkembang. Penyebabnya, 80% faktor risiko disebabkan faktor gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, kurang konsumsi sayur dan buah, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol. "Faktor risiko ini merupakan faktor-faktor yang dapat dicegah dengan mengupayakan gaya hidup sehat," dalam International Symposium on Health Research di Prime Plaza Sanur, Bali, 29 November 2019.
Dia memaparkan, setiap tahun ada empat puluh juta orang meninggal akibat penyakit tidak menular, 15% di antaranya meninggal di usia 30-70 tahun. Dengan demikian, artinya tiap dua detik seseorang mati prematur akibat PTM. Hampir dua pertiga dari total kematian akibat penyakit tidak menular terkait dengan konsumsi rokok, konsumsi alkohol yang tidak sehat, diet yang tidak sehat, aktivitas fisik yang kurang, dan polusi udara.
Adapun representatif Aliansi Penyakit Tidak Menular Indonesia Ibnu Haykal sebelumnya mengungkapkan, PTM juga menghambat pertumbuhan ekonomi di tingkat global dan nasional dengan mempengaruhi produktivitas pekerja secara negatif dan mengalihkan sumber daya dari tujuan produktif ke pengobatan penyakit. PTM diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi global kumulatif USD47 triliun pada 2030, atau sekitar 75% dari PDB global 2010. (Baca juga: Turki Sukses Uji Coba Rudal Maritim Buatan Sendiri)
“Kurang dari lima tahun lagi Indonesia akan terdampak ancaman global PTM, namun hingga kini Indonesia belum memiliki regulasi yang benar-benar mampu yang melindungi masyarakat dari PTM," keluhnya.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito Anggarino Damay, mengingatkan, PTM di usia muda menimbulkan beban keuangan berupa biaya rumah sakit dan biaya hidup. Dia menyebut, satu dari dua pasien kanker dinyatakan bangkrut. Kalau punya harta benda biasanya dijual.
Lihat Juga :