Hasto: Kompetitor Kita Adalah Bangsa Asing Bukan Anak Bangsa Sendiri
Jum'at, 23 September 2022 - 17:56 WIB
Baca juga: Soal Dewan Kolonel, Hasto Langsung Jewer Fraksi PDIP di DPR
“Padahal itu tak benar. Sejarah menunjukkan bagaimana Soekarno menolak menemui pemimpin Soviet Kruschev jika tak bisa menemukan makam Imam Al Buchori. Jadi kalau ada yang isukan Bung Karno tak dekat dengan orang Islam, itu salah besar,” tegasnya.
Dilanjutkannya, Bung Karno membuktikan bahwa Pancasila adalah ideologi politik dunia, lewat Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika. Konferensi ini mengawali gerakan yang memerdekakan negara-negara seperti Aljazair, Maroko, dan Pakistan.
“Belajar sejarah ini kita belajar api semangat para pendiri bangsa, sehingga kita di masa kini bisa berdiri kokoh mencari penyelesaian atas masalah yang kita hadapi di masa kini dan merangkai masa depan. Jangan lagi kita cenderung berantem antar anak bangsa padahal yang kita hadapi adalah bangsa-bangsa asing yang akan terus berusaha kembali menjajah kita,” tegasnya.
Indonesia harus kembali mengambil peran di internasional. Sebagai contoh, mendamaikan antara Arab Saudi dengan Iran. Pada titik itulah peran kampus seperti UIN Ar Raniry menjadi penting yakni menggembleng para mahasiswa menjadi calon pemimpin bangsa yang mampu membawa negara Indonesia menjadi pemimpin diantara bangsa-bangsa di dunia.
“Di UIN ini saya percaya bahwa mahasiswa adalah masa depan. Di UIN, mahasiswa akan digembleng, bagaimana agama dan intelektualitas bersenyawa,” katanya.
Selain itu, kampus juga harus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasto memberi contoh bagaimana kuliner Aceh luar biasa. Dengan sentuhan teknologi dan hasil riset dari kampus-kampus di Aceh, kuliner Aceh seharusnya bisa bersaing baik di level nasional maupun dunia.
“Padahal itu tak benar. Sejarah menunjukkan bagaimana Soekarno menolak menemui pemimpin Soviet Kruschev jika tak bisa menemukan makam Imam Al Buchori. Jadi kalau ada yang isukan Bung Karno tak dekat dengan orang Islam, itu salah besar,” tegasnya.
Dilanjutkannya, Bung Karno membuktikan bahwa Pancasila adalah ideologi politik dunia, lewat Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika. Konferensi ini mengawali gerakan yang memerdekakan negara-negara seperti Aljazair, Maroko, dan Pakistan.
“Belajar sejarah ini kita belajar api semangat para pendiri bangsa, sehingga kita di masa kini bisa berdiri kokoh mencari penyelesaian atas masalah yang kita hadapi di masa kini dan merangkai masa depan. Jangan lagi kita cenderung berantem antar anak bangsa padahal yang kita hadapi adalah bangsa-bangsa asing yang akan terus berusaha kembali menjajah kita,” tegasnya.
Indonesia harus kembali mengambil peran di internasional. Sebagai contoh, mendamaikan antara Arab Saudi dengan Iran. Pada titik itulah peran kampus seperti UIN Ar Raniry menjadi penting yakni menggembleng para mahasiswa menjadi calon pemimpin bangsa yang mampu membawa negara Indonesia menjadi pemimpin diantara bangsa-bangsa di dunia.
“Di UIN ini saya percaya bahwa mahasiswa adalah masa depan. Di UIN, mahasiswa akan digembleng, bagaimana agama dan intelektualitas bersenyawa,” katanya.
Selain itu, kampus juga harus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasto memberi contoh bagaimana kuliner Aceh luar biasa. Dengan sentuhan teknologi dan hasil riset dari kampus-kampus di Aceh, kuliner Aceh seharusnya bisa bersaing baik di level nasional maupun dunia.
Lihat Juga :