Surga-Surga Kecil Tersembunyi di Gunungkidul

Sabtu, 27 Agustus 2022 - 06:36 WIB
“Situasi ini menyebabkan Raja Brawijaya V melarikan diri ke barat bersama putranya, Bondan Kejawan. Di pantai Ngobaran, perjalanan sang raja terhenti karena menemui jalan buntu. Di titik inilah akhirnya Raja Brawijaya V meninggal dengan membakar diri. Api yang berkobar ini yang menjadi asal mula nama Pantai Ngobaran”. (hal: 96).

baca juga: Potensi Wisata Kawasan Utara Gunungkidul Perlu Didongkrak

Selain pantai yang sudah bisa diakses oleh publik, Gunungkidul juga masih memiliki pantai yang belum banyak dijamah, dan bisa dikembangkan sebagai pantai pribadi (private beach). Belum lagi, Gunungkidul sebagai kawasan karts memiliki banyak gua, sungai bawah tanah, perbukitan dan air terjun yang termasuk dalam jaringan geopark atau taman bumi, yang terakreditasi UNESCO dan menjadi bagian dari jaringan Geopark Global. Beberapa geopark itu antara lain, Gunung Purba Nglanggeran, Gua Jomblang, Air Terjun Sri Gethuk, Gua Pindul, Bengawan Solo Purba, dan lainnya.

Sekadar diketahui, saat ini di seluruh dunia terdapat 165 geopark yang termasuk jaringan UNESCO. Dari semua itu, sebanyak 13 geopark berlokasi di Gunungkidul, atau hampir 10% geopark di dunia ada di Gunungkidul. Dan semua sudah sangat mahfum, agar suatu kawasan geopark bisa diakui sebagai jaringan dari UNESCO, itu tentu tidaklah mudah. Kawasan tersebut mesti diperiksa dengan teliti oleh para ahli dari UNESCO (PBB) dari berbagai sisi, mulai geologi, ekonomi dan berbagai aspek lainnya.

Kontribusi BCA dan Bali Baru

Satu hal menarik yang terungkap dalam buku ini, ternyata kebangkitan pariwisata di Gunungkidul dimulai dari destinasi wisata Gua Pindul. Tempat tersebut sekaligus juga menjadi desa wisata pertama yang dikembangkan Bank Central Asia (BCA), dan menjadi referensi dalam mengembangkan desa wisata lainnya di seluruh Indonesia.

baca juga: Jelang New Normal, Gunungkidul Buka 4 Destinasi Wisata

Disebutkan bahwa desa-desa wisata sebagai desa binaan BCA merupakan implementasi dari komitmen BCA dalam mengembangkan bisnis di lingkungan komunitas, desa, maupun daerah. Hal ini dilakukan demi mendorong terciptanya pusat ekonomi baru, meningkatkan pendapatan daerah, memperluas lapangan pekerjaan, dan memberikan nilai tambah untuk ekonomi masyarakat lokal.

Patut disadari, pariwisata merupakan salah satu sektor penting dan strategis dalam peningkatan devisa negara. Membangun Indonesia salah satunya adalah dengan memberikan dukungan terhadap pengembangan pariwisata lokal menjadi destinasi kelas dunia. Desa dengan berbagai kekayaan alam, kearifan lokal, dan keragaman budayanya seperti halnya di Gunungkidul, diyakini mampu berperan sentral dalam rangka memperkuat jati diri bangsa, membangun ketahanan pangan, konservasi lingkungan, sekaligus menancapkan pondasi kesejahteraan dan pemerataan pembangunan yang berkelanjutan.

baca juga: Warga Gunungkidul Simpan Alquran Tulisan Tangan Berusia Dua Abad

Dalam pengantarnya di buku “Gunungkidul, The Next Bali”, Cyrillus yang kini menjabat Komisaris Independen di BCA, secara khusus menyinggung sebuah artikelnya yang ditulis di Koran Seputar Indonesia (sekarang KORAN SINDO), pada 2010. Artikel berjudul “Monterrey di Gunung Kidul” ini menceritakan kisah perjalanan Cyrillus di bagian barat Gunung Kidul, dari Imogiri ke Panggang.

Sepanjang jalan yang cukup berliku di antara bukit dan lembah tersebut, ia menemukan kemiripan dengan perjalanannya dari Monterrey ke Pebble Beach Golf Course melalui jalan berbayar "Seventeen Mile Drive" di Negara Bagian California, Amerika Serikat . “Dalam tulisan tersebut, saya berkeyakinan bahwa Gunung Kidul berpotensi untuk dikembangkan menjadi seperti Monterrey di California atau Nusa Dua di Bali ,” ujar Cyrillus. (hal: xiv).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!